Fenomena ibu-ibu yang berkumpul lalu bergosip kerap dianggap wajar. Kalimat seperti “namanya juga ibu-ibu” sering menjadi penutup yang membuat persoalan seolah selesai bahkan sebelum dibahas lebih jauh.
Padahal, gosip tidak semata terkait jenis kelamin atau usia. Ia dapat dibaca sebagai gejala sosial: cermin dari cara sebuah masyarakat mengelola ruang kebersamaan dan membangun keterhubungan di antara anggotanya.
Di banyak lingkungan di Indonesia, gosip disebut tidak lagi hadir sebagai selingan, melainkan menjadi agenda utama. Nama orang lain lebih sering muncul dibanding gagasan, pengalaman, atau perasaan diri sendiri. Situasi ini digambarkan bukan karena para ibu kekurangan cerita, tetapi karena tidak ada tradisi yang membuat mereka merasa aman untuk membicarakan dirinya sendiri. Hal-hal personal dianggap berlebihan, kejujuran dianggap lemah, dan refleksi dianggap tidak perlu.
Dalam kondisi seperti itu, gosip menjadi jalan pintas: cara untuk merasa terhubung tanpa harus membuka diri. Namun persoalannya, sebagaimana ditegaskan dalam catatan ilmu sosial, bukan pada gosip semata. Gosip memiliki fungsi sosial, antara lain sebagai perekat kelompok dan sarana berbagi norma.
Masalah muncul ketika gosip berubah menjadi inti kebersamaan. Pada titik itu, gosip disebut kehilangan fungsi komunikatifnya: bergeser dari berbagi menjadi menilai, dari memahami menjadi menghakimi. Alih-alih menjadi percakapan yang memperkuat relasi, gosip dapat berubah menjadi pelarian kolektif.
Perbedaan cara memaknai pertemuan sosial terlihat bila dibandingkan dengan praktik berkumpul di banyak negara maju. Di sana, ibu-ibu juga berbincang, tertawa, dan bisa saja bergosip. Namun pertemuan mereka umumnya memiliki kerangka: ada tujuan, aktivitas, dan ruang yang memberi arah pada percakapan, seperti kelompok orangtua murid, klub membaca, kegiatan relawan, kelas kebugaran, atau support group.

