BERITA TERKINI
Hiu Paus Terdampar di Pulau Satonda Bima, Soroti Pentingnya Perlindungan Ekosistem Laut NTB

Hiu Paus Terdampar di Pulau Satonda Bima, Soroti Pentingnya Perlindungan Ekosistem Laut NTB

MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT — Seekor hiu paus dilaporkan terdampar di pesisir Pulau Satonda, Kabupaten Bima, pada pertengahan Januari 2026. Peristiwa tersebut kembali menyoroti pentingnya perlindungan satwa laut serta ekosistem maritim di Nusa Tenggara Barat (NTB). Penanganan insiden ini dilakukan melalui gotong royong warga bersama petugas, yang menunjukkan peran kesiapsiagaan masyarakat dalam merespons kejadian di wilayah pesisir.

Hiu paus dikenal sebagai ikan terbesar di dunia, dengan panjang tubuh yang dapat mencapai belasan meter. Meski berukuran besar, spesies ini memiliki gerakan yang tenang dan perilaku yang cenderung jinak. Di perairan NTB, terutama Teluk Saleh dan sekitarnya, kemunculan hiu paus disebut bukan lagi hal langka. Kehadirannya kerap dipandang sebagai penanda kondisi laut dan relasi manusia dengan lingkungan, sekaligus menguji efektivitas tata kelola konservasi di daerah tersebut.

Di tengah meningkatnya pembangunan, pariwisata, dan aktivitas di kawasan pesisir, NTB menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ruang laut dan upaya pelestarian. Wilayah ini disebut memiliki salah satu habitat hiu paus terbesar di Indonesia, sehingga kebutuhan akan pengelolaan yang hati-hati menjadi semakin penting.

Teluk Saleh dan Peranannya

Teluk Saleh dikenal sebagai kawasan yang subur dan kaya plankton, dengan luas lebih dari seribu kilometer persegi. Kondisi tersebut menjadikannya lokasi yang kerap didatangi hiu paus untuk mencari makan. Di perairan ini, hiu paus juga dilaporkan mengikuti bagan nelayan untuk menyantap ikan kecil dan udang rebon.

Selain itu, temuan bayi hiu paus berukuran sekitar 135 hingga 145 sentimeter di Teluk Saleh memperkuat dugaan bahwa kawasan ini berfungsi sebagai area pengasuhan awal. Fase awal kehidupan hiu paus disebut jarang teramati dalam konteks ekologi global. Kejadian yang berulang di Teluk Saleh dinilai menempatkan kawasan tersebut sebagai wilayah yang penting dalam peta konservasi laut.

Ancaman di Kawasan Pesisir

Di sisi lain, keberadaan hiu paus juga diiringi ancaman yang dapat mengganggu habitatnya. Sejumlah risiko yang disebut meliputi pencemaran pesisir, peningkatan lalu lintas kapal, interaksi wisata yang tidak terkendali, serta penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Hiu paus berada di puncak rantai makanan planktonik dan berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Gangguan terhadap habitatnya dinilai dapat berdampak lebih luas, tidak hanya pada satu spesies.

Peristiwa terdamparnya hiu paus di Pulau Satonda menjadi pengingat bahwa hewan ini dapat mengikuti sumber makanan hingga terlalu dekat ke pantai, lalu terjebak oleh gelombang dan bobot tubuhnya sendiri. Respons cepat dinilai krusial dalam situasi semacam ini, dan keterlibatan masyarakat setempat disebut menjadi lapis awal perlindungan sebelum kebijakan formal bekerja.

Upaya menjaga hiu paus, dengan demikian, dipandang bukan semata penyelamatan satu spesies, melainkan bagian dari langkah lebih luas untuk mempertahankan kesehatan laut serta keberlanjutan kehidupan yang bergantung padanya.