BERITA TERKINI
Hoang Quyen Cerita Proses Album “River”: Rekaman Analog di Prancis dan Cara Bernyanyi yang Lebih Lembut

Hoang Quyen Cerita Proses Album “River”: Rekaman Analog di Prancis dan Cara Bernyanyi yang Lebih Lembut

Penyanyi Vietnam Hoang Quyen merilis album “River” yang ia sebut sebagai penanda fase baru dalam perjalanan bermusiknya. Dalam wawancara, Quyen mengatakan “River” bukan sekadar judul album, melainkan simbol siklus kelahiran kembali dan aliran kehidupan—seperti sungai yang akhirnya menuju laut besar.

Setelah album debut berisi karya cipta sendiri, “A Diary of Melody,” Quyen merasa proses kreatifnya semakin matang. Ia menyebut delapan komposisi baru dalam “River” sebagai refleksi lembut tentang kehidupan dan perjalanan yang telah ia “saring” melalui perenungan yang tenang.

Quyen juga menceritakan pengalamannya bekerja bersama kolaborator internasional di Prancis di bawah bimbingan direktur musik Jean-Sébastien. Di sana, ia merasakan lingkungan artistik yang ia nilai ideal, termasuk dukungan dari pemilik studio yang mengizinkan timnya tinggal tanpa biaya karena menghargai semangat mereka terhadap profesi.

Menurut Quyen, tujuannya adalah mempertemukan melodi dan bahasa Vietnam dengan musik internasional secara alami dan profesional. Ia menekankan bahwa keindahan musik, bagi dirinya, terletak pada keaslian. Ia memaknai “kemewahan” bukan dari sisi harga, melainkan kualitas audio hi-end yang abadi.

Album “River” direkam sepenuhnya secara analog di Prancis untuk menjaga orisinalitas suara. Quyen mengatakan ia tidak mengejar jumlah pendengar atau penonton, melainkan memprioritaskan esensi dan momen koneksi batin antara penyanyi dan pendengar.

Salah satu momen yang paling membekas baginya terjadi saat sesi uji coba rekaman. Ketika mendengarkan hasilnya, Quyen mengaku terkejut dan sempat bertanya kepada teknisi suara, “Apa yang telah Anda lakukan pada suara saya?” Namun teknisi itu menjawab, “Itu suara aslimu!”

Pengalaman tersebut membuatnya sangat terharu. Quyen menggambarkannya seperti seorang anak tuli yang untuk pertama kali mendengar suara ibunya melalui headphone. Ia menilai karakter suara analog membuat vokalnya terdengar hidup secara alami, tanpa tekanan atau kebutuhan untuk memamerkan teknik.

Seiring proses itu, Quyen mengatakan pola pikirnya ikut berubah. Ia belajar bernyanyi lebih lembut—bahkan kadang hanya mengucapkan beberapa kata—namun tetap meninggalkan kesan mendalam. Kini ia berusaha bernyanyi sepenuhnya dengan “jiwa” dalam momen dan ruang tertentu, tanpa beban untuk menunjukkan teknik tertentu kepada pendengar.

Quyen ingin musiknya menjadi percakapan yang halus, seperti teman yang mendengarkan kekhawatiran tulus audiens. Ia juga menyatakan tekad untuk membawa bahasa dan melodi Vietnam ke panggung internasional, seraya menilai dunia saat ini semakin menerima beragam bahasa dan budaya asli. Kolaborasi internasional dalam “River,” menurutnya, baru langkah awal, dan ia menyiapkan diri untuk tantangan yang lebih besar ketika memasuki usia 35 atau 40 tahun.

Di akhir, Quyen menyampaikan harapannya agar musik dapat menjadi benang penghubung cinta yang tulus. Ia berharap ketika pendengar meletakkan jarum pada piringan hitam “River,” setiap orang bisa menemukan ruang tenangnya sendiri, serta merasakan bahwa hidup terus mengalir dan penuh keindahan.