BERITA TERKINI
IDI Jakarta Pusat Didorong Jadi Ruang Kolaborasi: Menguat ke Dalam, Berdampak ke Luar

IDI Jakarta Pusat Didorong Jadi Ruang Kolaborasi: Menguat ke Dalam, Berdampak ke Luar

Tantangan dunia kedokteran dinilai semakin kompleks dan tidak lagi dapat diselesaikan secara sektoral, apalagi individual. Kompleksitas sistem kesehatan, perubahan regulasi yang cepat, perkembangan teknologi medis, serta dinamika sosial masyarakat menegaskan bahwa kolaborasi kini menjadi kebutuhan.

Dalam konteks itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) saat ini sudah benar-benar berfungsi sebagai ruang kolaborasi, atau masih lebih sering hadir sebagai organisasi administratif yang bekerja sendiri.

IDI Cabang Jakarta Pusat disebut berada pada posisi strategis. Wilayah ini memiliki keragaman komunitas dokter, perhimpunan spesialis, kelompok keseminatan, serta jejaring profesi lintas generasi. Di saat yang sama, Jakarta Pusat juga menjadi pusat kebijakan nasional, pusat media, dan pusat pengambilan keputusan publik. Potensi tersebut dinilai baru akan bermakna jika IDI mampu bertransformasi menjadi organisasi yang berkolaborasi, bukan menjadi “menara gading”.

Kolaborasi pertama yang dianggap paling penting adalah kolaborasi internal. Selama ini, organisasi profesi kerap dihadapkan pada sekat-sekat yang tidak selalu terlihat, seperti antara dokter umum dan dokter spesialis, antara perhimpunan dan komunitas, antara generasi senior dan generasi muda, serta antara struktur formal dan gerakan informal.

Sejumlah pertanyaan reflektif mengemuka, di antaranya apakah IDI sudah menjadi rumah bersama bagi semua komunitas dokter, atau justru tanpa disadari lebih dekat dengan sebagian kelompok dan jauh dari yang lain.

Keberagaman di Jakarta Pusat dipandang seharusnya menjadi modal sosial, bukan sumber fragmentasi. Kolaborasi internal bukan dimaknai sebagai upaya menyeragamkan perbedaan, melainkan menyelaraskan kekuatan. Dalam kerangka ini, IDI Cabang dinilai tidak semestinya memposisikan diri sebagai pesaing komunitas, perhimpunan, atau keseminatan, melainkan menjadi ruang aman untuk berbagi gagasan, platform pemersatu lintas organisasi, dan jembatan antar generasi dokter.

Jika kolaborasi internal menguat, konflik dinilai dapat melemah, sinergi menguat, dan organisasi tumbuh lebih sehat. Sebaliknya, salah satu persoalan yang disebut kerap muncul di organisasi profesi adalah fenomena “organisasi di dalam organisasi”, yakni kelompok-kelompok eksklusif, forum tertutup, dan jejaring informal yang berjalan sendiri serta terpisah dari struktur.

Dalam pandangan tersebut, IDI yang kuat bukanlah yang paling dominan, melainkan yang paling mampu menyatukan. Kolaborasi internal diposisikan bukan sebagai soal kekuasaan, melainkan kesediaan membuka ruang. Upaya ini juga dinilai perlu diwujudkan secara nyata dan terstruktur melalui pembentukan serta fasilitasi berbagai grup, forum, dan komunitas sejawat di bawah payung IDI.