BERITA TERKINI
Innocean Indonesia Garap Kampanye Duolingo Berbasis Budaya Lokal, Angkat Rivalitas Duo dan Toped

Innocean Indonesia Garap Kampanye Duolingo Berbasis Budaya Lokal, Angkat Rivalitas Duo dan Toped

Innocean Indonesia mengawali 2025 dengan memenangkan akun Duolingo Indonesia, seiring langkah platform pembelajaran bahasa tersebut memperkuat kehadirannya di pasar lokal. Brief pertama yang diterima agensi itu terbilang menantang: menciptakan momen “break-the-internet” yang memperkenalkan Duolingo secara autentik, berakar pada budaya Indonesia, dan sulit diabaikan.

Alih-alih membangun narasi dari nol, Innocean memilih berangkat dari percakapan yang sudah lama hidup di media sosial Indonesia. Selama bertahun-tahun, warganet kerap membandingkan Duo—maskot burung hantu hijau Duolingo—dengan Toped, maskot Tokopedia, lantaran kemiripan palet warna dan karakter ekspresif yang kerap memicu salah identifikasi di ruang digital.

Fenomena tersebut tidak dihindari, melainkan dijadikan pijakan ide. Innocean mengubah lelucon publik itu menjadi strategi kampanye yang kemudian berkembang menjadi kolaborasi Duolingo dan Tokopedia yang ramai dibicarakan.

Eksekusi bertahap lewat berbagai touchpoint

Kampanye dirancang sebagai rangkaian momen yang membangun momentum secara bertahap, bukan mengandalkan satu ledakan besar. Innocean menyiapkan sejumlah titik interaksi untuk memancing engagement organik, terutama melalui dinamika dua maskot yang sudah dikenal luas.

Langkah awal dimulai dari video media sosial yang menampilkan Duo mengenakan kaos bertuliskan “Not Tokopedia.” Konten ini memicu respons cepat: Toped membalas lewat komentar jenaka “Bukan Duolingo,” dan pertukaran tersebut berlanjut menjadi “pertengkaran” yang ditonton publik.

Setelah itu, skenario diperluas ke situasi sehari-hari yang dibuat dekat dengan audiens, mulai dari persaingan memperebutkan pesanan matcha hingga interaksi humor di pantai. Seluruh rangkaian konten diarahkan untuk mempertegas karakter masing-masing brand sekaligus memantik percakapan, memanfaatkan selera warganet terhadap “gelud ringan”—perpaduan godaan, humor, dan kompetisi bersahabat dalam budaya digital lokal.

Puncak kampanye berlangsung pada 2 November 2025 melalui aktivasi offline bertajuk Duolingo x Tokopedia K-Pop Party di Gelora Bung Karno (GBK). Rivalitas digital dibawa ke dunia nyata lewat format K-Pop dance battle. Aktivasi ini dinilai strategis karena kedua brand memiliki rekam jejak memanfaatkan budaya K-fandom di Indonesia, dan pada akhir pekan yang sama Blackpink juga menggelar konser di GBK.

Dampak dalam sepekan: 2,2 juta engagement

Dalam tujuh hari sejak peluncuran pada akhir Oktober, kampanye ini disebut mendominasi percakapan media sosial Indonesia. Data yang disampaikan menunjukkan lebih dari 130 media memposting tentang kampanye tersebut secara organik tanpa sponsored content, di luar percakapan dari publik.

Konten yang beredar datang dari gabungan unggahan akun kedua brand dan user-generated content yang muncul spontan. Ribuan meme, debat, dan konten penggemar bermunculan, merespons absurditas “pertarungan” dua burung hantu hijau. Sepanjang periode yang sama, engagement tercatat mencapai 2,2 juta di berbagai platform, dengan sentimen keseluruhan dinilai positif dan mendorong interaksi.

Setelah periode utama berakhir, percakapan disebut masih berlanjut. Audiens Indonesia masih menantikan kelanjutan “saga” frenemies tersebut, yang diposisikan sebagai indikasi bahwa kampanye melampaui aktivasi jangka pendek.

Insight budaya sebagai strategi

Tim Innocean Indonesia menyatakan kampanye ini memanfaatkan humor publik seputar salah identifikasi sebagai twist kreatif untuk mewujudkan crossover yang didorong penggemar, sambil tetap menjaga persona Duo yang dikenal secara global. Menurut mereka, pendekatan ini menegaskan pentingnya mendengarkan percakapan budaya sebelum merumuskan ide.

Dalam konteks bisnis, kampanye ini juga diarahkan untuk memperdalam koneksi emosional Duolingo dengan audiens lokal. Kolaborasi dengan Tokopedia dipandang memberi legitimasi dan relevansi budaya. Kampanye itu juga diikuti keluaran bisnis berupa peluncuran toko merchandise online resmi pertama Duolingo di Asia Tenggara melalui Tokopedia pada 11 November 2025.

Integrasi online dan offline

Innocean mengombinasikan aktivasi digital dan fisik. Di media sosial, kampanye diawali TikTok takeover: Duo muncul di akun Tokopedia, sementara Toped mengambil alih akun Duolingo Indonesia. Kedua akun juga memperbarui bio dengan rujukan pada “kebingungan identitas,” memanfaatkan elemen kejutan untuk menarik perhatian.

Di ranah offline, billboard berdampingan dipasang di pusat Jakarta dengan pesan yang mengoreksi “kesalahan identitas” sekaligus menonjolkan kekuatan masing-masing brand. Eksekusi luar ruang ini memperluas jangkauan ke audiens yang tidak aktif di media sosial dan menciptakan peluang foto yang mendorong user-generated content.

Acara K-Pop Party di GBK menjadi titik kulminasi yang menyatukan narasi online dan offline, serta memicu produksi konten dari peserta maupun media yang meliput.

Pernyataan klien

Irene Tong, SEA Marketing Lead Duolingo, menyebut relevansi lokal sebagai kunci untuk terhubung dengan pengguna. Ia menegaskan Indonesia merupakan salah satu pasar terpenting Duolingo, dan kemitraan dengan Tokopedia dinilai memperkuat koneksi tersebut secara autentik. Ia juga menyatakan Duolingo akan terus mengeksplorasi inisiatif yang merayakan budaya lokal sambil tetap pada misi membuat pembelajaran menyenangkan dan mudah diakses.

Catatan bagi industri kreatif

Kampanye ini turut dipandang sebagai contoh pendekatan “culture-first” bagi industri kreatif: memanfaatkan percakapan yang sudah ada, mengelola risiko kreatif dengan riset dan eksekusi, serta menetapkan metrik keberhasilan sejak awal—mulai dari engagement, volume user-generated content, sentimen, hingga keluaran bisnis seperti peluncuran toko merchandise.

Dengan capaian 2,2 juta engagement, lebih dari 130 media yang membahas secara organik, serta sentimen yang disebut positif, Innocean Indonesia menempatkan pemahaman budaya lokal dan eksekusi lintas kanal sebagai kunci mengubah brief ambisius menjadi fenomena yang terukur dampaknya.