BERITA TERKINI
Jakarta Belajar ke Milan: Seni Jalanan, Pangan Kota, dan Stadion sebagai Cermin Masa Depan Perkotaan

Jakarta Belajar ke Milan: Seni Jalanan, Pangan Kota, dan Stadion sebagai Cermin Masa Depan Perkotaan

Kunjungan kerja Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno ke Milan mendadak ramai dibicarakan.

Ia bertemu Wakil Wali Kota Milan Anna Scavuzzo di Balai Kota Milan, Selasa (13/5/2026).

Pertemuan itu bagian dari Leadership Exchange Programme Jakarta–Milan.

Program tersebut difasilitasi World Cities Culture Forum.

Isu yang dibahas terdengar beragam, dari seni jalanan sampai ketahanan pangan.

Namun justru keragaman itulah yang membuatnya menjadi bahan percakapan publik.

Di tengah kota yang sesak, warga ingin tahu bagaimana pemimpin merancang ruang hidup.

Jakarta bukan sekadar peta administrasi, melainkan pengalaman harian jutaan orang.

Ketika nama Milan muncul, imajinasi publik ikut bergerak.

Milan dibayangkan sebagai kota yang menata budaya, ruang publik, dan ekonomi kreatif.

Jakarta, sebaliknya, sering dipersepsikan sebagai kota yang masih mencari bentuk.

Pertemuan ini memantik pertanyaan: apa yang bisa dipinjam, dan apa yang harus diciptakan sendiri.

-000-

Mengapa Isu Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Mengunci Perhatian

Pertama, isu yang dibawa menyentuh kebutuhan dasar sekaligus kebutuhan jiwa.

Seni publik berbicara tentang identitas.

Ketahanan pangan berbicara tentang rasa aman.

Pengelolaan stadion berbicara tentang kebanggaan kolektif dan ekonomi acara.

Kombinasi itu jarang muncul dalam satu paket kebijakan.

Publik melihatnya sebagai upaya membaca kota secara utuh.

Kedua, ada daya tarik pada gagasan kolaborasi internasional yang “terukur” dan “terlihat”.

Workshop seniman dan instalasi seni kota direncanakan digelar di Jakarta pada Juli 2026.

Rencana yang punya waktu dan bentuk konkret membuat orang mudah membayangkan dampaknya.

Berbeda dari wacana yang berhenti pada seminar dan foto bersama.

Ketiga, isu ini menyentuh kecemasan lama warga kota: ruang publik yang sering terasa tidak ramah.

Rano menekankan ruang kota perlu dirancang untuk interaksi sosial dan kreativitas.

Pernyataan itu menyasar kerinduan akan kota yang tidak sekadar tempat berlalu lalang.

Di era media sosial, kerinduan semacam ini cepat menyebar menjadi percakapan bersama.

-000-

Apa yang Dibicarakan di Milan: Tiga Jalur, Satu Arah

Dalam pertemuan tersebut, Rano membahas peluang kolaborasi pengembangan kota.

Isu strategisnya meliputi seni publik, pengelolaan ruang kota, dan ekonomi kreatif.

Ada juga sistem pangan perkotaan berkelanjutan.

Dan ada pembahasan pengembangan stadion bertaraf internasional.

Jika ditarik garis lurus, semuanya menuju satu arah.

Jakarta ingin memperkuat kualitas hidup warga melalui ruang, budaya, dan layanan kota.

Bukan semata menambah infrastruktur, melainkan menambah makna.

-000-

Seni Publik dan Ruang Kota: Ketika Kota Menjadi Galeri Bersama

Kerja sama seni publik disebut meliputi kolaborasi seniman dari dua kota.

Rencananya diwujudkan melalui workshop dan instalasi seni kota di Jakarta.

Rano menyatakan pengembangan ruang publik menjadi fokus penting Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Ia ingin ruang publik tidak hanya menjadi tempat berlalu lalang.

Ia menekankan ruang interaksi, kreativitas, dan kebanggaan warga kota.

Kalimat itu sederhana, tetapi berlapis.

Ruang publik yang baik adalah kebijakan sosial yang diam-diam bekerja setiap hari.

Ia mengurangi jarak antarwarga tanpa harus menggurui.

Ia menumbuhkan rasa memiliki tanpa harus memaksa.

Rano juga mengatakan, “Seni harus hadir dekat dengan masyarakat.”

Pernyataan ini menempatkan seni bukan sebagai ornamen, melainkan layanan kota.

Seni publik, bila dikelola baik, bisa menjadi bahasa bersama di kota yang majemuk.

Bahasa yang tidak selalu membutuhkan kesepakatan politik.

Namun seni publik juga menuntut kehati-hatian.

Ia mudah tergelincir menjadi proyek elitis bila hanya mengejar estetika.

Ia juga rentan menjadi formalitas bila tidak memberi ruang pada warga.

Karena itu, gagasan “dekat dengan masyarakat” harus diuji dalam desain pelaksanaan.

Siapa yang dilibatkan.

Di mana karya ditempatkan.

Bagaimana perawatannya.

-000-

Warisan, Museum, dan Kota yang Tetap Hidup

Delegasi Jakarta juga mempelajari strategi Milan menjaga kawasan bersejarah.

Termasuk museum dan ruang publik agar tetap aktif dan diminati.

Di kota besar, warisan budaya sering terjepit.

Ia terancam oleh logika lahan, ritme komersial, dan perubahan gaya hidup.

Karena itu, menjaga warisan bukan hanya soal konservasi bangunan.

Ia soal membuat tempat bersejarah tetap punya fungsi sosial.

Jakarta turut mendorong kerja sama museum dan pertukaran budaya dengan MUDEC di Milan.

Kolaborasi ini dinilai dapat memperluas akses pembelajaran budaya internasional bagi generasi muda.

Di sini, museum dipahami bukan sekadar ruang pamer.

Museum adalah sekolah publik yang tidak menuntut seragam.

Ia memberi warga kesempatan memandang dunia tanpa harus pergi jauh.

Di Jakarta, tantangannya adalah bagaimana pembelajaran budaya terasa relevan.

Bukan nostalgia, melainkan dialog.

Bukan monolog institusi, melainkan pengalaman yang mengundang partisipasi.

-000-

Ketahanan Pangan Perkotaan: Kecemasan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Kerja sama lain yang dibicarakan ialah penguatan ketahanan pangan perkotaan.

Jakarta dan Milan mendiskusikan urban farming.

Mereka juga membahas pengurangan food waste.

Termasuk pembaruan sistem distribusi pangan yang lebih modern dan efisien.

Topik ini terasa teknis, tetapi dampaknya sangat personal.

Pangan menyentuh dapur, kesehatan, dan harga yang dirasakan setiap hari.

Ketika distribusi terganggu, yang pertama kali berubah adalah menu keluarga.

Rano berharap langkah tersebut membantu menjaga stabilitas pasokan pangan.

Ia juga mendorong gaya hidup lebih sehat dan ramah lingkungan.

Di sisi lain, Milan mendukung rencana Jakarta bergabung dalam Milan Urban Food Policy Pact.

Jaringan ini berfokus pada penguatan sistem pangan sehat dan berkelanjutan.

Di titik ini, isu pangan menjadi pintu masuk ke isu besar lain.

Perubahan iklim, migrasi, dan tekanan ekonomi membuat kota harus memikirkan ketahanan.

Kota yang kuat bukan yang paling tinggi gedungnya.

Kota yang kuat adalah yang paling siap ketika pasokan terguncang.

-000-

Stadion dan Fan Engagement: Infrastruktur yang Menyimpan Emosi Kolektif

Selain seni dan pangan, Rano bertemu pengelola San Siro Stadium.

Ia berdiskusi dengan General Manager Fabrizio Caruso dan Business Development Michele Finucci.

Pembahasan mencakup pengelolaan stadion internasional dan penyelenggaraan event.

Ada juga pengembangan museum stadion.

Termasuk teknologi pembibitan rumput.

Dan strategi membangun keterlibatan penggemar untuk menjaga fasilitas stadion.

Stadion sering dianggap sekadar bangunan olahraga.

Padahal ia adalah ruang emosi yang menampung kegembiraan, kekalahan, dan identitas.

Museum stadion menandai perubahan cara kota memperlakukan ingatan.

Ingatan tidak lagi disimpan diam-diam, tetapi diolah menjadi pengalaman publik.

Fan engagement pun memperlihatkan bahwa pengelolaan fasilitas bukan hanya urusan teknis.

Ia urusan relasi.

Ketika penggemar merasa memiliki, mereka ikut menjaga.

Ketika warga merasa menjadi tamu, fasilitas mudah menjadi beban.

-000-

Mengaitkan dengan Isu Besar Indonesia: Kota, Keadilan, dan Kepercayaan

Isu yang dibahas di Milan berkaitan langsung dengan agenda besar Indonesia.

Pertama, urbanisasi yang terus menekan daya dukung kota.

Jakarta menanggung beban mobilitas, kepadatan, dan kebutuhan ruang bersama.

Ruang publik yang baik dapat menjadi alat pemerataan pengalaman kota.

Warga yang tidak punya halaman rumah tetap berhak atas “halaman bersama”.

Kedua, ketahanan pangan nasional yang selalu diuji oleh gejolak harga dan rantai pasok.

Diskusi tentang distribusi modern dan pengurangan food waste menyentuh efisiensi.

Efisiensi bukan jargon.

Ia berarti lebih sedikit pangan terbuang, lebih banyak keluarga terbantu.

Ketiga, tata kelola fasilitas publik dan ekonomi berbasis acara.

Stadion bertaraf internasional sering dikaitkan dengan reputasi kota.

Reputasi yang baik dapat menarik event.

Namun reputasi harus ditopang pengelolaan yang akuntabel.

Jika tidak, fasilitas berubah menjadi monumen mahal yang jauh dari warga.

Di atas semuanya, ada isu kepercayaan publik.

Rano mengatakan setiap kerja sama internasional harus memberi manfaat nyata.

Kalimat ini penting karena publik ingin bukti, bukan hanya niat.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Ruang Publik, Seni, dan Pangan Saling Terhubung

Berbagai riset urban menunjukkan ruang publik berkualitas mendorong interaksi sosial.

Interaksi sosial yang sehat berkaitan dengan rasa aman dan kohesi komunitas.

Dalam kajian perencanaan kota, konsep “placemaking” menekankan ruang sebagai pengalaman.

Ruang yang dirawat bersama cenderung memunculkan tanggung jawab bersama.

Seni publik sering dipahami sebagai bagian dari ekologi budaya kota.

Ekologi budaya menghubungkan seniman, ruang, institusi, dan audiens.

Ketika ekologi ini hidup, ekonomi kreatif biasanya ikut bergerak.

Soal pangan, literatur kebijakan perkotaan banyak membahas “urban food system”.

Sistem ini mencakup produksi, distribusi, konsumsi, dan pengelolaan limbah.

Karena itu, urban farming dan pengurangan food waste masuk dalam satu rangkaian logis.

Milan Urban Food Policy Pact sendiri dikenal sebagai kerangka kerja sama antarkota.

Kerangka ini menekankan praktik baik untuk pangan sehat dan berkelanjutan.

Dalam konteks Jakarta, riset semacam ini membantu menghindari pendekatan tambal sulam.

Kota perlu peta jalan yang menghubungkan ruang publik, budaya, kesehatan, dan logistik.

-000-

Rujukan Luar Negeri yang Serupa: Diplomasi Kota dan Pertukaran Praktik

Apa yang dilakukan Jakarta dan Milan mengingatkan pada tren global diplomasi kota.

Banyak kota membangun jejaring untuk bertukar praktik, bukan sekadar seremoni.

Dalam isu pangan, sejumlah kota dunia membentuk pakta dan jaringan kebijakan.

Tujuannya mempercepat pembelajaran lintas batas tentang distribusi dan pengurangan limbah.

Dalam isu seni publik, banyak kota melakukan residensi seniman dan kolaborasi instalasi.

Model ini sering dipakai untuk memperkaya perspektif sekaligus memperluas jejaring kreatif.

Dalam isu stadion, beberapa kota belajar dari pengelolaan venue bersejarah.

Pengembangan museum stadion dan strategi keterlibatan penggemar menjadi pendekatan yang kian lazim.

Rujukan luar negeri tidak otomatis cocok.

Namun ia berguna sebagai cermin, untuk melihat apa yang kurang dan apa yang berlebihan.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik perlu menilai kunjungan ini dengan dua kriteria.

Apa output jangka pendeknya, dan apa perubahan sistem jangka panjangnya.

Workshop seni Juli 2026 bisa menjadi uji awal yang mudah diukur.

Namun yang lebih penting adalah tata kelola ruang publik setelahnya.

Kedua, pemerintah perlu memastikan kolaborasi tidak berhenti pada agenda elit.

Ruang publik dan seni publik harus membuka partisipasi warga.

Termasuk komunitas lokal, seniman muda, dan pengelola ruang di tingkat kota.

Ketiga, untuk isu pangan, fokus sebaiknya pada perbaikan rantai distribusi dan pengurangan food waste.

Dua hal ini sejalan dengan pembahasan Jakarta dan Milan.

Hasilnya harus bisa dirasakan dalam stabilitas pasokan dan efisiensi.

Keempat, untuk stadion, pertukaran pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi standar operasional.

Standar itu mencakup perawatan, penyelenggaraan event, dan strategi keterlibatan penggemar.

Jika fan engagement dibangun, warga tidak sekadar menjadi penonton.

Mereka menjadi pemilik moral yang ikut menjaga fasilitas kota.

Kelima, komunikasi publik harus jujur dan rinci.

Rano menyebut manfaat nyata bagi masyarakat sebagai prinsip.

Prinsip itu perlu diikuti pembaruan berkala tentang progres dan hambatan.

Di situlah kepercayaan dibangun.

-000-

Penutup: Kota yang Belajar, Kota yang Merendah

Kunjungan kerja ini memperlihatkan satu hal yang sering terlupa.

Kota besar tidak boleh malu untuk belajar.

Jakarta bertemu Milan bukan untuk meniru seluruhnya.

Jakarta bertemu Milan untuk menajamkan pertanyaan tentang dirinya sendiri.

Pada akhirnya, warga hanya meminta satu hal yang sangat manusiawi.

Kota yang membuat hidup terasa layak, aman, dan bermakna.

Jika kolaborasi ini konsisten, manfaatnya bisa mengalir pelan tetapi nyata.

Dari mural di sudut jalan, dari pangan yang tidak terbuang, dari stadion yang dirawat bersama.

Dan dari ruang publik yang membuat orang saling menyapa lagi.

Seperti pengingat yang sering dikutip dalam kerja-kerja perubahan, “Kota yang baik dibangun oleh harapan yang dikerjakan setiap hari.”