Japanese Film Festival (JFF) 2025 akan hadir di Yogyakarta selama dua hari, pada 13–14 Desember 2025. Seluruh rangkaian pemutaran film dijadwalkan berlangsung di CGV Pakuwon Mall Jogja, dengan pilihan film yang mencakup karya terbaru hingga dua judul klasik yang sudah lama dikenal penonton.
JFF merupakan festival film Jepang yang telah digelar sejak 2016 di sejumlah negara Asia Tenggara dan Australia dalam jaringan JFF Asia Pacific Gateway. Cakupannya kemudian meluas dengan bergabungnya India pada 2017, disusul Rusia setahun setelahnya. Pada 2019, festival ini tercatat digelar di 56 kota di 12 negara dan menjangkau sekitar 170 ribu penonton. Pada 2020, JFF beralih ke format daring melalui peluncuran platform JFF+, yang kemudian bertransformasi pada 2024 menjadi JFF Theater dengan konten budaya Jepang yang lebih beragam, meliputi film, video, dan artikel.
Untuk penyelenggaraan di Yogyakarta tahun ini, JFF menayangkan enam film dari beragam genre dan periode produksi. Penonton juga dapat menyesuaikan pilihan dengan informasi batas usia yang dicantumkan pada tiap judul. Dari sisi pembuat film, program ini mempertemukan nama-nama lintas generasi, termasuk Mamoru Oshii, Zeze Takahisa, dan Ueda Shinichiro.
Daftar film JFF 2025 di Yogyakarta
1. Angry Squad: The Civil Servant and the Seven Swindlers (2024) — Drama, 120 menit, 13+
Film ini mengikuti Kumazawa, pegawai negeri yang dikenal kaku dan jujur, yang menjadi korban penipuan Himuro. Upaya membalas berujung pada tawaran kerja sama untuk menjatuhkan pengemplang pajak besar. Kumazawa lalu membentuk tim beranggotakan tujuh orang dengan latar berbeda untuk merebut kembali aset tersembunyi sang koruptor. Disutradarai Ueda Shinichiro, film ini menghadirkan kisah kriminal dengan nuansa ringan dan komedik.
2. The Boy and The Dog (2025) — Drama, 128 menit, 17+
Kazumasa kehilangan pekerjaan beberapa bulan setelah Gempa Besar Jepang Timur. Hidupnya berubah ketika bertemu anjing liar bernama Tamon yang membawa kehangatan, hingga suatu saat Tamon menghilang. Pencarian itu membuat Kazumasa menghadapi luka lama dan berjumpa dengan orang-orang baru, termasuk Miwa yang juga memikul persoalan keluarga. Sutradara Zeze Takahisa menempatkan relasi manusia dan hewan sebagai penggerak emosi cerita.
3. Teasing Master Takagi-san (2024) — Romance, 120 menit, 13+
Nishikata dan Takagi-san bertemu kembali setelah berpisah sepuluh tahun. Nishikata kini menjadi guru olahraga di SMP di sebuah pulau kecil, sementara Takagi-san yang sempat tinggal di Paris tiba-tiba muncul di hadapannya. Pertemuan itu menghidupkan kembali suasana masa sekolah yang dulu penuh keusilan, tetapi kini berkembang menjadi dinamika hubungan yang lebih dewasa. Film ini disutradarai Imaizumi Rikiya dan menonjolkan romansa sederhana bernuansa nostalgia.
4. Ghost in the Shell (1995) — Animation, 90 menit, 17+
Karya Mamoru Oshii ini berlatar tahun 2029, ketika teknologi siber membuat batas manusia dan mesin kian kabur. Mayor Motoko Kusanagi dari Section 9 memburu peretas misterius Puppet Master, yang memicu pertanyaan filosofis tentang identitas dan kesadaran. Meski dirilis tiga dekade lalu, film ini dikenal tetap relevan karena tema, visual, dan atmosfernya.
5. Seven Samurai (1954) — Classic, 207 menit, 13+
Film Akira Kurosawa ini berkisah tentang sebuah desa yang mempekerjakan tujuh ronin untuk melindungi mereka dari bandit yang datang setiap musim panen. Cerita menyoroti relasi kompleks antara penduduk desa dan para samurai—dari saling membutuhkan hingga saling curiga dan menghormati. Dalam program Merchandise Hunt, penonton film ini akan mendapatkan dua stempel karena durasinya jauh lebih panjang dibanding judul lain.
6. A Girl Named Ann (2024) — Drama, 113 menit, 17+
Ann adalah remaja yang tumbuh dalam lingkungan keluarga penuh kekerasan dan dipaksa masuk prostitusi sejak usia dini. Hidupnya berubah setelah bertemu Tatara, detektif yang memimpin kelompok rehabilitasi narkoba Salvage Tokyo. Hubungan keduanya menjadi pusat cerita, namun proses pemulihan Ann dibayangi rumor negatif tentang Tatara. Dibanding judul lain dalam program, film ini digambarkan lebih gelap dan menekankan tema penyembuhan serta kepercayaan.
Jadwal penayangan JFF 2025 Yogyakarta
Sabtu, 13 Desember 2025
12.00 — Seven Samurai
16.00 — Teasing Master Takagi-san
18.30 — A Girl Named Ann
Minggu, 14 Desember 2025
11.00 — Angry Squad: The Civil Servant and the Seven Swindlers
13.30 — The Boy and The Dog
16.10 — Ghost in the Shell
Harga tiket dan cara pembelian
Harga tiket untuk seluruh film di JFF Yogyakarta ditetapkan Rp20.000. Tiket dapat dibeli melalui website dan aplikasi CGV, atau langsung di ticket box CGV Pakuwon Mall Jogja mulai 5 Desember 2025 pukul 16.00 WIB.
Merchandise Hunt: cara ikut dan ketentuannya
JFF juga menghadirkan program Merchandise Hunt dengan sistem stamp card. Setiap tiket yang dicetak dan ditunjukkan setelah pemutaran film berakhir akan mendapatkan satu stempel, selama tiket tersebut digunakan pada hari yang sama dengan penukaran stempel. Jika dalam satu tiket terdapat beberapa nomor kursi, stempel diberikan sesuai jumlah penonton yang hadir.
Hadiah yang dapat dikumpulkan melalui program ini meliputi lanyard, kalender, totebag, dan kaus. Peserta harus menonton film hingga selesai dan tidak dapat menukarkan tiket dengan jadwal yang bertabrakan. Khusus Seven Samurai, peserta memperoleh dua stempel karena durasinya lebih panjang. Stempel dapat dikumpulkan hingga pemutaran terakhir di masing-masing hari.
Dengan enam judul yang mencakup film terbaru dan karya klasik, JFF 2025 di Yogyakarta menawarkan kesempatan menonton beragam wajah sinema Jepang dalam satu rangkaian program yang padat dan terjadwal.

