BERITA TERKINI
Kemenkes Soroti Pajanan Mikroplastik sebagai Isu Kesehatan Publik, Dorong Standar Nasional dan Surveilans

Kemenkes Soroti Pajanan Mikroplastik sebagai Isu Kesehatan Publik, Dorong Standar Nasional dan Surveilans

Dalam satu dekade terakhir, mikroplastik semakin mendapat perhatian dunia sebagai ancaman baru bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari degradasi plastik maupun bahan sintetik pada produk konsumsi. Sejumlah penelitian internasional menyebut paparan terhadap mikroplastik dapat terjadi melalui tiga rute utama, yakni ingestasi (tertelan), inhalasi (terhirup), dan kontak dermal (kulit).

Bambang Setiaji, Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI, menilai persoalan mikroplastik tidak lagi semata isu pencemaran pesisir, melainkan telah bergeser menjadi isu kesehatan masyarakat. Kekhawatiran publik meningkat seiring tingginya konsumsi plastik dan rendahnya kontrol terhadap sumber pencemar di lingkungan, sehingga memerlukan respons kolaboratif lintas sektor.

Di Indonesia, urgensi pengendalian mikroplastik dinilai tinggi karena volume sampah plastik nasional besar, konsumsi plastik sekali pakai masih tinggi, serta sistem pengelolaan limbah padat dan limbah cair belum optimal. Kondisi ini membuat risiko pajanan mikroplastik menjadi nyata, terutama di wilayah pesisir, kota besar, sumber air minum, dan rantai pangan laut.

Penelitian ilmiah global juga menunjukkan mikroplastik telah ditemukan dalam darah, plasenta, paru-paru, dan jaringan tubuh manusia lainnya. Temuan tersebut dipandang sebagai bukti bahwa paparan mikroplastik dapat mencapai sistem biologis yang sebelumnya tidak diperkirakan. Sejumlah kajian medis melaporkan paparan mikroplastik berpotensi memicu stres oksidatif, inflamasi kronis, gangguan metabolik, dan disfungsi seluler. Dampaknya disebut dapat bersifat molekular, seluler, jaringan, hingga sistemik, dengan karakter ancaman yang tidak terlihat namun dapat terakumulasi dalam jangka panjang.

Di tingkat nasional, sejumlah kajian menunjukkan tren peningkatan paparan pada pangan dan lingkungan. Masyarakat di wilayah pesisir, perkotaan padat, serta kawasan industri disebut memiliki risiko lebih tinggi melalui air, udara, dan makanan. Studi di Indonesia melaporkan temuan mikroplastik pada kerang yang dikonsumsi masyarakat, sementara laporan lain menilai Indonesia menghadapi ancaman serius dan membutuhkan baku mutu pengendalian nasional. Kajian akademik juga menyebut sedimen dan biota laut di perairan Indonesia menunjukkan konsentrasi mikroplastik yang mengkhawatirkan.

Sumber paparan di Indonesia disebut beragam, mulai dari industri tekstil, limbah domestik, air sungai perkotaan, polusi udara kendaraan, plastik sekali pakai, hingga air minum galon sekali pakai. Dengan berbagai sumber tersebut, isu mikroplastik diposisikan sebagai tantangan kesehatan publik sekaligus lingkungan.

Dalam kehidupan sehari-hari, jalur ingestasi dapat terjadi melalui konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi, seperti sayuran yang terpapar irigasi, air minum kemasan, seafood, garam dapur, serta buah-buahan yang terpapar air limbah. Jalur inhalasi dapat berasal dari debu rumah, gesekan ban kendaraan, serat tekstil sintetis, dan polusi udara perkotaan. Sementara jalur dermal disebut dapat terjadi melalui mikroplastik primer dari produk konsumen tertentu, seperti kosmetik, scrub, atau pasta gigi.

Dari sisi dampak kesehatan, kajian ilmiah menyebut mikroplastik berisiko mengganggu berbagai sistem tubuh. Risiko yang disoroti mencakup gangguan pada sistem pencernaan melalui perubahan mikrobiota dan inflamasi, gangguan pada sistem pernapasan karena partikel dapat masuk ke alveoli, dampak pada sistem imun berupa penurunan respons imun adaptif, gangguan pada sistem reproduksi, serta temuan mikroplastik pada plasenta yang menimbulkan kekhawatiran terkait perkembangan janin.

Untuk merespons persoalan tersebut, pengendalian pajanan mikroplastik dinilai memerlukan edukasi masyarakat, penguatan kebijakan dan regulasi, kolaborasi multipihak, serta peningkatan kualitas lingkungan. Bambang menekankan perlunya kebijakan nasional berbasis bukti agar upaya pengendalian mikroplastik dapat menjadi bagian dari agenda kesehatan lingkungan.

Sejumlah rekomendasi kebijakan yang disebut dibutuhkan Indonesia antara lain penyusunan baku mutu mikroplastik nasional yang mencakup standar air minum, air sungai, udara ambien, dan pangan laut. Selain itu, integrasi isu mikroplastik ke dalam sistem kesehatan melalui indikator perencanaan, penguatan standar laboratorium lingkungan, serta pelaksanaan surveilans pajanan mikroplastik nasional yang mencakup lingkungan, makanan, dan biomonitoring pada tubuh manusia.

Rekomendasi lain mencakup reformasi sistem limbah nasional, seperti penyaringan mikroplastik di instalasi pengolahan air limbah (IPAL) kota, penguatan manajemen sampah berbasis ekonomi sirkular, serta pembatasan plastik sekali pakai. Edukasi publik skala nasional juga dinilai penting dengan fokus pada risiko kesehatan, cara mengurangi pajanan, dan perubahan perilaku. Di sisi riset, kemitraan penelitian antara BKPK, akademisi, laboratorium lingkungan, dan pemerintah daerah disebut diperlukan untuk memperkuat basis bukti.

Dalam kerangka tersebut, BKPK disebut memiliki posisi strategis untuk menyusun kebijakan, pedoman teknis, advokasi lintas kementerian, edukasi publik, koordinasi penelitian nasional, serta mendorong standardisasi. Bambang menilai bukti ilmiah yang ada menunjukkan potensi dampak biologis signifikan, sehingga pengendalian pajanan mikroplastik perlu dilakukan dari tingkat rumah tangga hingga kebijakan nasional.