Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui Klinik UMKM Minang Bangkit menyalurkan bantuan alat dan bahan baku produksi kepada pelaku UMKM di 12 kabupaten/kota di Sumatera Barat yang terdampak bencana. Program tersebut ditujukan untuk mempercepat pemulihan aktivitas usaha, termasuk toko, warung, kafe, dan restoran, sebagai penggerak ekonomi lokal.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Siti Azizah, menyatakan penyaluran bantuan merupakan bagian dari Layanan Produksi yang dirancang untuk membantu pelaku usaha yang berhenti beroperasi akibat bencana. Menurutnya, Klinik UMKM Minang Bangkit disiapkan sebagai ruang pemulihan agar pelaku UMKM dapat kembali menjalankan usaha dan mendorong ekonomi daerah.
Data SIDT-UMKM mencatat terdapat 662.242 pelaku UMKM di Sumatera Barat per 31 Oktober 2025. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dashboard Satu Data Kebencanaan per 18 Januari 2026 mencatat sedikitnya 4.876 pelaku UMKM terdampak bencana.
Banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 disebut berdampak pada penurunan kapasitas usaha, hilangnya pasar, hingga terhentinya produksi. Kondisi tersebut mendorong perlunya langkah pemulihan yang terarah dan berkelanjutan melalui penguatan layanan produksi dan pendampingan.
Untuk mendukung percepatan pemulihan, Klinik UMKM Minang Bangkit beroperasi di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat sebagai command center dan service center pemulihan UMKM pascabencana. Klinik ini didukung sejumlah pihak, antara lain Bank Indonesia, Sampoerna Entrepreneurship Training Center, PIP, PLUT KUKM Sumatera Barat, Forum PKN, Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Sumatera Barat, ABDSI, serta pemangku kepentingan lain melalui tiga fase pendampingan.
Fase Pulih Mental difokuskan pada pemulihan psikologis dan penguatan motivasi usaha. Fase Pulih Usaha diarahkan untuk mendorong kembali operasional melalui akses pembiayaan, pengelolaan modal, dan manajemen risiko. Adapun Fase Tumbuh ditujukan untuk meningkatkan daya saing melalui inovasi produk, strategi pemasaran, digitalisasi usaha, serta penguatan jejaring dan kemitraan.
Dalam pelaksanaannya, pemulihan dilakukan bersama 19 mitra dengan penyaluran total 1.140 kompor, 1.040 tabung gas, 415 paket bahan baku produksi, 195 peralatan masak, serta 10.000 sak semen. Penyaluran dilakukan bertahap di berbagai wilayah terdampak.
Pada 22–23 Januari 2026, masing-masing 100 kompor dan tabung gas disalurkan ke Padang dan Padang Pariaman. Pelaku UMKM di Pesisir Selatan menerima masing-masing 115 kompor, tabung gas, dan paket bahan baku produksi, sedangkan Kabupaten Agam memperoleh masing-masing 250 kompor dan tabung gas serta 300 paket bahan baku produksi.
Penyaluran berikutnya pada 3–4 Februari 2026 mencakup Kota Solok dan Kabupaten Solok yang masing-masing menerima 100 kompor dan tabung gas. Pada periode yang sama, tambahan 40 peralatan masak disalurkan ke Agam dan Padang Pariaman.
Tahap ketiga yang dilaksanakan pada 9 Februari 2026 diisi dengan pendampingan serta bantuan sarana peralatan usaha. Bantuan tersebut meliputi 75 peralatan masak untuk Padang dan 40 peralatan masak untuk Pesisir Selatan. Bantuan kompor dan tabung gas juga diberikan kepada Pariaman dan Tanah Datar masing-masing 100 paket, serta Padang Pariaman sebanyak 150 paket.
Penyaluran bantuan melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya BRI, United Tractors, Grab Indonesia, PLN, BSI, Goto, PNM, Bank Indonesia, Pegadaian, BNI, Semen Padang, Distributor Semen Padang, Semen Indonesia, Eka Tjipta Foundation, Telkom Witel Sumbar-Jambi, Podomoro, Universitas Dian Nuswantoro, serta Aman Abadi Nugraha.
Selain bantuan produksi, layanan pemulihan juga mencakup trauma healing melalui konseling psikologis bersama Himpunan Psikologi Indonesia dan Universitas Andalas, dukungan spiritual dengan melibatkan tokoh agama, serta pendampingan pembiayaan dan pemulihan bisnis.
Siti Azizah menyampaikan harapannya agar pelaku UMKM di Sumatera Barat dapat bangkit dan tumbuh kembali, sekaligus memperkuat ekonomi daerah dalam menghadapi dampak bencana.

