Masa kejayaan Facebook pada era 2010-an meninggalkan jejak yang bagi banyak orang terasa memalukan sekaligus mengundang tawa saat dibuka kembali. Seiring mulai populernya ponsel berkamera, linimasa Facebook dipenuhi unggahan foto dan status yang kini kerap dianggap “alay”—mulai dari pose berlebihan hingga tulisan yang dibuat dengan campuran huruf besar-kecil.
Penulis cerita dalam tulisan ini menilai pengalaman tersebut tidak dialami sendirian. Saat menelusuri kembali akun teman-teman kuliah, ia menemukan pola serupa: foto dengan berbagai pose tangan, pengambilan gambar dari atas dengan zoom di wajah, status yang dinilai “nggak jelas”, hingga nama akun yang dibuat panjang dan rumit karena dianggap lebih keren.
Ia juga mengakui pernah mengikuti tren itu. Salah satu contohnya, ia mengunggah foto dengan pose jari ditempelkan ke dagu, mengenakan kacamata dan topi terbalik. Untuk foto profil, ia pernah memasang gambar grup band SM*SH yang kala itu sedang populer. Status pun ditulis dengan gaya campur aduk huruf besar dan kecil, sementara nama tampilan akun dibuat panjang dan ribet.
Selain unggahan di linimasa, bagian profil Facebook juga menjadi ruang kreativitas—atau, menurut penulis, ruang “halu”—yang ramai diisi informasi tidak realistis. Ia menyebut contoh yang umum ditemui seperti mencantumkan pekerjaan di “PT. Cinta Sejati”. Dalam pengalamannya, kolom pekerjaan pernah diisi sebagai “manager club di Chelsea FC” dan bahkan sempat menulis bekerja sebagai “politisi di NASA”. Di kolom bahasa, ia mengaku mencantumkan berbagai bahasa, termasuk “bahasa 4li3n”.
Untuk status hubungan, ia mengatakan biasanya menulis “lajang” karena memang jomblo. Namun pernah sekali menggantinya menjadi “berpacaran” meski mengaku tidak tahu dengan siapa.
Kealayan lain yang disebutkan adalah kebiasaan membuat lebih dari satu akun Facebook. Kala itu, memiliki akun berlapis—part 1, part 2, part 3, dan seterusnya—dianggap memberi kesan keren, meski penulis mengaku tidak tahu apa manfaatnya.
Facebook pada masa itu juga dinilai seru karena memungkinkan orang berteman dengan pengguna yang tidak dikenal. Setelah permintaan pertemanan diterima, muncul kebiasaan menyapa lewat dinding dengan kalimat seperti “maacih ea konfirmnya”. Penulis menyebut hal itu kerap menjadi pembuka untuk “modus”, sembari mengingatkan agar tidak mudah tertipu oleh nama dan foto profil.
Penulis menggambarkan dirinya sebagai pengguna yang ingin memiliki teman sebanyak mungkin. Ia rutin menambah teman meski tidak saling mengenal, dengan target mencapai 5.000 pertemanan. Ia juga memanfaatkan fitur “keluarga” di profil untuk menambahkan teman dekat sebagai paman, tante, atau ponakan.
Interaksi di Facebook juga menjadi sarana memberi kode kepada gebetan, selama sudah berteman. Bentuknya beragam, dari “boom like”, komentar di setiap unggahan, mengirim pesan, hingga menandai seseorang saat membuat status atau mengunggah foto. Ia mengaku kerap mengecek status yang baru dibuat secara berkala untuk melihat jumlah tanda suka, termasuk memastikan apakah orang yang dituju ikut menyukai unggahannya.
Meski diingat sebagai fase yang “bikin jijik” ketika dilihat ulang, penulis menilai masa-masa itu tetap sulit dilupakan dan justru terasa mengundang rindu. Ia mengutip pernyataan Raditya Dika bahwa alay adalah fase menuju kedewasaan, sementara Facebook menjadi saksi bagaimana seseorang pernah menjalani fase tersebut.