Kepala Program Studi Magister Psikologi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Chris Willy Arianto, menekuni psikologi musik sebagai fokus akademik dan risetnya. Bidang ini mempelajari keterkaitan musik dengan perilaku, emosi, serta cara berpikir manusia.
Chris Willy Arianto yang akrab disapa Billy mengatakan ketertarikannya pada psikologi musik bermula sejak masa kuliah. Meski memiliki minat besar pada musik, ia sempat merasa kurang cocok saat menjadi mahasiswa psikologi. Pandangannya berubah setelah mengenal psikologi musik pada masa orientasi.
“Musik itu dekat sekali dengan kehidupan manusia,” kata Billy kepada wartawan, Selasa (26/5/2026).
Menurut Billy, psikologi musik berupaya menjelaskan berbagai fenomena terkait pengaruh musik terhadap manusia, termasuk kaitannya dengan emosi dan kecerdasan. Ia menyebut, bidang tersebut menelusuri alasan musik dapat memunculkan perasaan tertentu, seperti senang atau sedih, serta bagaimana musik mungkin berhubungan dengan aspek kognitif.
“Kita mau mencari tahu sebenarnya apa yang membuat musik bisa berhubungan dengan kecerdasan, kenapa kalau mendengarkan musik kita bisa senang atau sedih. Nah, itulah yang dipelajari di psikologi musik,” ujarnya.
Dari sejumlah penelitian yang dilakukannya, Billy menemukan adanya perbedaan dalam pengolahan informasi antara individu yang bermain musik dan yang tidak. Ia menyampaikan, orang yang bermain musik cenderung mengolah informasi lebih cepat.
“Orang yang bermain musik ternyata mengolah informasi secara lebih cepat,” jelasnya.
Meski demikian, Billy menilai hubungan sebab-akibat antara musik dan kecerdasan masih perlu diteliti lebih lanjut. Ia menekankan bahwa belum dapat dipastikan apakah musik membuat seseorang menjadi lebih cerdas, atau justru individu yang lebih cerdas lebih tertarik bermain musik.
“Namun kita belum tahu, apakah musik menyebabkan seseorang menjadi lebih cerdas atau justru orang cerdas yang tertarik bermain musik,” imbuhnya.
Selain aspek kognitif, Billy juga menyoroti kondisi kesehatan mental musisi profesional. Berdasarkan kajiannya, kelompok ini termasuk yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap persoalan kesejahteraan hidup dan kesehatan mental.
“Ternyata para musisi profesional memiliki kesejahteraan hidup dan kesehatan mental yang paling rentan. Sehingga kita perlu menaruh perhatian lebih kepada para musisi profesional,” katanya.
Di luar aktivitas akademik, Billy bersama Lestika Madinah Hasibuan mendirikan Komunitas Psikologi Musik Indonesia. Komunitas tersebut dibentuk sebagai wadah pembelajaran bagi musisi, komposer, guru, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin memahami kajian psikologi musik.
“Komunitas Psikologi Musik Indonesia ini menjadi ruang bersama bagi musisi, komposer, guru, mahasiswa, dan masyarakat umum. Di dalam komunitas ini kita saling belajar terkait materi-materi yang ada di dalam psikologi musik,” ujar Billy.
Ia berharap kajian psikologi musik dapat berkembang lebih luas di Indonesia, seiring besarnya potensi budaya dan keberagaman musik yang dimiliki Tanah Air.