Asosiasi Keroncong Djokdjakarta (AKDjok) kembali menggelar panggung apresiasi bertajuk Keroncong Jamming #5. Edisi kali ini disebut akan tampil berbeda dengan kehadiran grup Keroncong Milenial Omah Cangkem Mataraman (OCM), yang diasuh seniman Pardiman Djoyonegoro.
Acara dijadwalkan berlangsung di Jawir Space, depan Hotel Brongto, Jalan Suryodiningratan, Yogyakarta, pada Jumat (15/05/2026) pukul 19.30 WIB. Kegiatan ini digelar gratis dan terbuka untuk umum.
Wakil Ketua AKDjok, Lilik Shaggydog, menyampaikan bahwa Keroncong Jamming #5 menjadi ruang bagi pemusik dan penyanyi remaja untuk berekspresi. Dalam penampilan nanti, OCM akan membawakan lagu-lagu karya Pardiman Djoyonegoro yang selama ini identik dengan musik Acapella Mataraman, namun kali ini diolah dengan aransemen keroncong yang lebih segar.
Menurut Lilik, penampilan kelompok milenial tersebut diharapkan dapat menarik minat generasi muda sekaligus memperkaya khazanah lagu keroncong. Sejalan dengan motto AKDjok, “Edukasi dan Ekspresi”, rangkaian acara juga akan diisi sesi edukasi musik sebelum ditutup dengan sesi jamming spontan yang mempertemukan pemusik senior dan junior.
Pardiman Djoyonegoro menjelaskan, personel OCM merupakan angkatan pertama dari OCM Kelas Reka. Meski masih berusia muda, para personel disebut memiliki dasar kuat dalam bermain gamelan dan alat musik lain, sehingga dinilai luwes dalam berkreasi.
Dalam pementasan tersebut, Keroncong Milenial OCM menyiapkan 10 lagu bertema nilai kehidupan, cinta tanah air, dan alam. Sejumlah judul yang akan dibawakan antara lain “Kulo Nuwun”, “Tawas Pita”, “Banyu Bening”, dan “Ngelmu Iku”. Selain itu, mereka juga akan membawakan lagu “Nusantaraku” karya A. Riyanto dengan aransemen khas keroncong milenial.
Jajaran vokal akan diisi oleh Dipta Nariswara, Dipta Nariswari, Anjang, Amaureen Viona, Gregorius Pradana, dan Devina Reza. Sementara instrumen diperkuat oleh Labrie (cak), Unggul (cuk), Nada Dewana (bass), Rama (keyboard), Pasha (kendang), dan Dama (gitar).
Gelaran ini disebut menjadi salah satu penanda bahwa musik keroncong tetap adaptif dan memiliki daya pikat bagi generasi masa kini tanpa kehilangan jati dirinya.