Isu yang Membuatnya Jadi Tren
Di jagat percakapan warganet, sebuah video POV tentang pameran “Lesap” mendadak mencuri perhatian.
Isunya sederhana, tetapi menggigit: alga, jamur, dan cangkang kerang dari Citarum serta Muara Gembong disulap menjadi karya seni.
Nama Syaiful Aulia Garibaldi lalu ikut terangkat, bukan semata karena estetikanya, melainkan karena bahan baku yang dipilihnya.
Citarum dan kawasan pesisir Bekasi Utara bukan sekadar lokasi.
Keduanya telah lama menjadi kata kunci dalam diskusi publik tentang ekologi, limbah, dan jejak manusia.
Video POV membuat publik merasa hadir tanpa harus berada di ruang pamer.
Kamera bergerak seperti mata sendiri, mendekat ke tekstur, warna, dan bentuk yang nyaris tak terbayangkan berasal dari sungai dan muara.
Di titik itu, seni bekerja sebagai jembatan.
Ia mengubah sesuatu yang sering dianggap kotor, remeh, atau menjijikkan menjadi objek yang layak dipandang pelan-pelan.
Dan ketika itu terjadi, rasa ingin tahu berubah menjadi percakapan.
-000-
Alasan pertama mengapa isu ini menjadi tren adalah kontras yang kuat.
Publik melihat pertemuan antara “bahan alam dari wilayah bermasalah” dan “karya indah” dalam satu bingkai.
Kontras seperti ini mudah memantik emosi.
Ia menghadirkan keterkejutan, lalu mengundang orang untuk membagikannya ulang.
-000-
Alasan kedua adalah formatnya: video POV yang ringkas dan imersif.
Ia memberi sensasi hadir, sekaligus aman, karena penonton tidak perlu memahami teori seni terlebih dahulu.
Format ini juga cocok dengan kebiasaan konsumsi konten cepat.
Orang bisa menonton sebentar, lalu merasa cukup untuk ikut berkomentar.
-000-
Alasan ketiga adalah aksesibilitas yang disebutkan dalam informasi pameran.
Tidak perlu tiket masuk dan tidak perlu daftar, dengan catatan mengikuti aturan dan tidak menyentuh karya.
Di tengah biaya hiburan yang naik, kabar “gratis” sering menjadi magnet.
Ia membuat seni terasa lebih dekat, tidak eksklusif, dan tidak menakutkan.
-000-
Menulis Ulang Peristiwa: Dari Sungai dan Muara ke Ruang Pamer
Akhir pekan itu, tim 20detik mendatangi pameran seni bertajuk “Lesap”.
Pameran ini menampilkan karya Syaiful Aulia Garibaldi.
Ia menghadirkan karya-karya yang dibuat dari alga, jamur, dan cangkang kerang.
Material itu ia dapatkan dari Sungai Citarum di Bandung serta Muara Gembong, Bekasi Utara.
Pengunjung disebut tidak perlu membayar tiket masuk dan tidak perlu mendaftar.
Namun ada aturan yang ditekankan: jangan menyentuh karya dan patuhi peraturan di tempat.
Informasi itu terdengar sederhana.
Tetapi justru kesederhanaannya yang membuat orang merasa diundang.
Di ruang pamer, orang tidak hanya melihat benda.
Mereka melihat proses pemaknaan.
Material yang biasanya luput dari perhatian, kini ditempatkan sebagai pusat pengalaman estetika.
-000-
Mengapa Seni dari Alga dan Kerang Menggetarkan
Ada sesuatu yang sunyi namun kuat ketika bahan dari sungai dan muara diangkat menjadi karya.
Seni seperti mengajukan pertanyaan tanpa suara: apa yang sebenarnya kita buang, dan apa yang kita anggap berharga?
Alga, jamur, dan cangkang kerang adalah bagian dari ekosistem.
Dalam keseharian, banyak orang hanya mengenalnya sebagai latar, bukan subjek.
Ketika ia masuk galeri, statusnya berubah.
Ia menjadi “sesuatu” yang pantas ditatap, ditafsir, dan dibicarakan.
Di sinilah emosi publik bekerja.
Orang tergerak bukan hanya oleh keindahan, tetapi oleh rasa bersalah yang samar.
Rasa bersalah itu sering muncul saat nama Citarum disebut.
Banyak warga Indonesia mengenal Citarum sebagai simbol persoalan lingkungan.
Dalam memori kolektif, sungai bukan lagi sekadar aliran air.
Ia menjadi cermin hubungan kita dengan sampah, industri, dan kebijakan.
Muara Gembong pun membawa resonansi serupa.
Wilayah muara dan pesisir sering dipahami sebagai ruang yang menanggung beban dari hulu.
Yang mengalir dari kota, akhirnya bermuara di kampung-kampung pesisir.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia
Tren “Lesap” tidak berdiri sendiri.
Ia menempel pada isu besar Indonesia: krisis lingkungan, tata kelola sungai, dan ketahanan wilayah pesisir.
Di negara kepulauan, sungai adalah nadi.
Ketika nadi terganggu, dampaknya menjalar ke air minum, pertanian, kesehatan, dan ekonomi lokal.
Namun isu lingkungan sering terasa terlalu teknis.
Grafik, angka, dan dokumen kebijakan mudah membuat orang menjauh.
Seni menawarkan bahasa lain.
Ia tidak menuntut orang memahami istilah, tetapi mengajak merasakan.
Ketika publik merasakan, percakapan menjadi lebih mungkin terjadi.
Di sinilah pameran seperti “Lesap” punya relevansi sosial.
Ia dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan hal yang biasanya ditunda.
Misalnya, bagaimana kita memperlakukan sungai sebagai halaman belakang.
Atau bagaimana pesisir dibiarkan menjadi tempat terakhir menampung konsekuensi.
-000-
Kerangka Intelektual: Seni sebagai Cara Membuat Publik Peduli
Dalam kajian komunikasi, ada gagasan bahwa cara sebuah isu dibingkai memengaruhi perhatian publik.
Ketika isu hadir sebagai pengalaman visual yang kuat, ia lebih mudah diingat.
Seni bekerja sebagai bingkai yang menggeser fokus.
Ia tidak hanya berkata “ada masalah”, tetapi menunjukkan “rasakan ini”.
Dalam psikologi, pengalaman estetika sering dipahami mampu memunculkan emosi kompleks.
Emosi kompleks membuat orang bertahan lebih lama pada sebuah topik.
Mereka tidak buru-buru menutup layar.
Di ruang digital, durasi perhatian adalah mata uang.
Video POV menjadi alat yang pas, karena ia mengawinkan estetika dan kecepatan.
Ia memampatkan pengalaman galeri menjadi beberapa detik yang dapat dibagikan.
Yang menarik, pameran ini juga menegaskan etika ruang seni.
Larangan menyentuh karya adalah pengingat bahwa ada batas antara rasa ingin tahu dan penghormatan.
Di tengah budaya konten, batas itu sering kabur.
Orang ingin dekat, ingin memegang, ingin membuktikan kehadiran.
Aturan sederhana itu mengajak publik untuk belajar menahan diri.
-000-
Referensi Luar Negeri yang Menyerupai
Di berbagai negara, seniman juga memakai material alam atau sisa untuk membicarakan relasi manusia dan lingkungan.
Di Inggris, gerakan land art pernah menempatkan alam sebagai medium sekaligus pesan.
Seniman seperti Andy Goldsworthy dikenal merangkai daun, batu, dan es.
Karyanya menekankan kefanaan, bahwa alam berubah dan karya bisa “lesap”.
Di Amerika Serikat, sejumlah proyek seni lingkungan memakai sampah plastik pantai.
Tujuannya bukan hanya estetika, tetapi juga memaksa publik menatap akibat konsumsi.
Di Jepang, beberapa seniman memanfaatkan bahan organik dan limbah untuk menyorot hubungan kota dengan alam.
Di banyak kasus, respons publik serupa: kagum, lalu bertanya, lalu gelisah.
Kesamaan ini penting.
Ia menunjukkan bahwa seni bisa menjadi bahasa global untuk krisis yang juga global.
Namun setiap tempat punya luka spesifik.
Di Indonesia, menyebut Citarum dan muara pesisir membawa beban sejarah dan pengalaman warga.
-000-
Kontemplasi: Apa Arti “Lesap” bagi Kita
Judul pameran “Lesap” terdengar seperti peristiwa yang menghilang pelan-pelan.
Ia bisa dibaca sebagai lenyapnya perhatian, lenyapnya kesadaran, atau lenyapnya batas antara alam dan buangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal “lesap” dari pandangan.
Sampah yang dibuang, air yang mengalir, dan muara yang jauh dari pusat kota.
Yang jauh sering dianggap tidak mendesak.
Padahal, yang jauh itu menanggung akibat dari yang dekat.
Ketika alga dan cangkang kerang hadir sebagai karya, yang jauh mendekat.
Ia masuk ke ruang yang terang, bersih, dan tertata.
Kontras itu membuat kita bertanya tentang kenyamanan.
Apakah kenyamanan kota dibayar oleh ketidaknyamanan sungai dan pesisir?
Pertanyaan itu tidak dijawab oleh pameran.
Ia hanya diletakkan di depan mata, agar kita tidak bisa pura-pura lupa.
-000-
Bagaimana Sebaiknya Isu Ini Ditanggapi
Pertama, publik bisa menanggapi dengan rasa hormat pada karya dan ruangnya.
Ikuti aturan, termasuk tidak menyentuh karya, karena etika adalah fondasi perjumpaan yang sehat.
Kedua, jadikan tren ini pintu untuk percakapan yang lebih panjang.
Jika membagikan video, sertakan konteks bahwa material berasal dari Citarum dan Muara Gembong.
Konteks membuat apresiasi tidak berhenti pada “bagus”, tetapi bergerak ke “mengapa”.
Ketiga, dorong literasi lingkungan melalui pengalaman budaya.
Pameran bisa menjadi ruang belajar yang tidak menggurui.
Sekolah, komunitas, dan keluarga dapat mengajak anak muda melihat seni sebagai cara memahami ekologi.
Keempat, media dan pengelola ruang seni perlu menjaga keseimbangan.
Viralitas penting, tetapi kedalaman lebih penting.
Berikan ruang untuk diskusi, tur kuratorial, atau percakapan publik yang tidak memaksa kesimpulan.
Kelima, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan bisa membaca sinyal sosial ini.
Ketika isu lingkungan masuk ranah budaya populer, artinya publik siap diajak bicara lebih serius.
Namun keseriusan itu harus hadir sebagai kebijakan yang konsisten, bukan sekadar seremoni.
-000-
Penutup
Video POV tentang “Lesap” mungkin hanya beberapa detik.
Tetapi ia membuka pintu ke percakapan yang seharusnya berlangsung bertahun-tahun.
Di balik alga, jamur, dan cangkang kerang, ada kisah tentang sungai, muara, dan cara kita memandang sisa.
Seni tidak menyelesaikan masalah lingkungan sendirian.
Namun seni bisa membuat kita berhenti sejenak, lalu melihat ulang apa yang selama ini kita lewati.
Dan barangkali, perubahan besar selalu dimulai dari kemampuan kecil untuk memperhatikan.
“Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, kita meminjamnya dari anak cucu.”

