BERITA TERKINI
Kiki Ucup: Pestapora Didesain sebagai Produk, Pengalaman, dan Ekosistem Musik

Kiki Ucup: Pestapora Didesain sebagai Produk, Pengalaman, dan Ekosistem Musik

Festival musik kerap dipandang sebagai peristiwa sesaat: panggung menyala, penonton bersorak, lalu selesai. Namun bagi Rizky Aulia atau Kiki Ucup, cara melihat festival berbeda. Program Director Boss Creator, pemilik Pestapora, memandang festival sebagai “produk” yang dirancang, diuji, lalu disempurnakan dari tahun ke tahun.

Perspektif itu membuat pembahasan tentang Pestapora tidak berhenti pada daftar musisi yang tampil. Pertanyaan yang muncul bergeser: jika festival adalah produk, nilai apa yang sebenarnya dibeli penonton selain akses menonton penampil?

Menurut Ucup, Pestapora lahir sebagai festival musik tetapi diperlakukan sebagai sebuah sistem. Musik tetap menjadi pusat, namun pengalaman penonton—mulai dari masuk hingga pulang—dianggap bagian inti dari produk, bukan sekadar pelengkap.

Kerangka ini menjadi relevan jika menengok tahun pertama Pestapora pada 2022, ketika lanskap festival di Jakarta sangat padat. Ucup menyebut situasinya ekstrem, dengan lebih dari 100 festival musik terselenggara di Jakarta pada tahun itu. Dalam kondisi seperti itu, festival baru umumnya sulit menempel di benak publik.

Meski begitu, Pestapora muncul sebagai pendatang baru yang cepat dibicarakan. Target awal penyelenggara tidak disebut bombastis: proyeksi 15.000 orang per hari atau 45.000 orang selama tiga hari. Namun realisasinya melompat, dengan total penonton sekitar 88.000 orang dalam tiga hari. Bagi Ucup, angka tersebut penting sebagai indikator kecocokan produk dengan kebutuhan publik, terutama kerinduan pada pengalaman kolektif pascapandemi.

Skala besar membawa konsekuensi operasional. Festival tidak cukup dipikirkan sebagai panggung dan penampil, melainkan sebagai rangkaian operasi, pengalaman, dan manajemen risiko yang saling terkait. Situasi 2022 juga masih bersentuhan dengan protokol COVID-19, seperti pembatasan dan pemindaian, sehingga kualitas pengalaman berisiko turun jika produk tidak dirancang sebagai sistem.

Ucup menekankan fungsi festival sebagai wadah untuk menjaga ekosistem musik tetap hidup. Ia menyebut Pestapora sebagai “produk yang berbentuk wadah yang tujuannya biar meregenerasi dan bisa membuat industri musiknya sustain dengan fasilitas yang diberikan,” ujarnya dalam acara BizzComm Podcast, kerja sama SWA dengan LSPR Faculty of Business.

Dari tujuan regenerasi dan keberlanjutan itu, nilai festival tidak berhenti pada euforia satu edisi. Pestapora sejak awal membangun pengalaman sebagai sesuatu yang dapat diingat dan mendorong orang untuk kembali. Dalam kerangka ini, pengalaman bukan semata “enjoy”, melainkan alasan untuk mengulang.

Ucup menggambarkan desain pengalaman seperti taman bermain: suasana penonton dijaga dari pintu masuk hingga keluar. Bahkan bagi pengunjung yang ingin beristirahat dari musik, tetap disediakan hiburan lain agar pengalaman tidak terputus. Detail seperti penunjuk arah, alur pergerakan massa, area makan, hingga atmosfer umum disusun untuk menghadirkan rasa perayaan, bukan sekadar antre menonton artis.

Dari desain tersebut muncul efek sosial, yakni penonton merasa tervalidasi ketika hadir. Namun Ucup menilai hal itu bukan tujuan yang dicanangkan. “Hal itu terjadi secara organik aja gitu,” katanya.

Alih-alih mengunci diferensiasi dengan klaim “satu-satunya”, Pestapora memilih pendekatan yang fungsional: memastikan banyak orang dapat menemukan sesuatu di dalam festival. Ucup memakai analogi minimarket atau supermarket. “Orang datang ke Pestapora tuh kayak datang ke minimarket atau supermarket gitu,” ujarnya. Menurutnya, orang jarang pulang dengan tangan kosong bukan karena dipaksa, melainkan karena pilihan yang tersedia banyak.

Analogi itu menjelaskan keputusan menghadirkan lineup yang masif. Banyak penampil bukan sekadar strategi “besar-besaran”, melainkan cara membuat festival relevan bagi beragam selera—mulai dari nostalgia, musisi yang sedang populer, hingga pendatang baru. Pada level produk, Pestapora menawarkan spektrum pengalaman, sehingga penonton bisa merangkai “versi Pestapora” masing-masing.

Setelah 2022 yang meledak, tantangan berikutnya adalah konsistensi. Ucup mengakui edisi pertama terbantu momentum kerinduan publik untuk berkumpul setelah pandemi. Namun momentum tidak bisa menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan. Karena itu, kejutan dan kolaborasi boleh ada, tetapi tidak dijadikan kewajiban yang harus selalu diulang demi memenuhi ekspektasi “tahun depan harus lebih heboh”.

Ucup juga menyoroti bahwa kepuasan penonton sering ditentukan oleh aspek di luar musik, seperti toilet, akses, alur keluar, hingga kemacetan parkir. Karena itu, SOP dan evaluasi tahunan diposisikan sebagai bagian inti dari desain produk, mengingat festival merupakan kombinasi pengalaman, keselamatan, dan kenyamanan.

Pembelajaran juga datang dari isu yang tidak selalu bisa diprediksi, termasuk urusan sponsor. Bagi Ucup, hal tersebut menjadi catatan untuk memperketat komunikasi dan detail kontrak pada tahun berikutnya, dengan fokus pada perbaikan sistem.

Di sisi lain, ia menilai banyak acara gagal bukan karena konsep, melainkan karena pengelolaan uang yang naif. Ucup menekankan pentingnya rencana cadangan, karena uang tiket tidak selalu cepat dicairkan sementara musisi membutuhkan uang muka. Tanpa manajemen kas yang profesional, festival bisa goyah bahkan sebelum hari penyelenggaraan.

Prinsip profesionalisme itu juga terlihat dalam cara Pestapora berbicara kepada sponsor: berbasis data, bukan klaim. Penjualan tiket menjadi “bahasa bisnis” untuk menunjukkan daya tarik (traction), bukan sekadar menyebut target.

Memasuki 2026, strategi itu tampak dari pembukaan penjualan tiket pada 1 Januari dengan kuota awal 5.000 tiket per hari, yang kemudian terserap. Dari sisi kapasitas, Pestapora berada pada kisaran 35.000–40.000 penonton per hari, menunjukkan skala yang semakin besar dan menuntut desain pengalaman serta operasi yang presisi.

Keputusan lain yang disebut strategis adalah konsistensi waktu penyelenggaraan. Pestapora hadir di paruh akhir tahun dan untuk edisi ini dijadwalkan pada 25, 26, dan 27 September. Pemilihan September disebut sebagai pembacaan perilaku, karena menjelang akhir tahun orang cenderung lebih longgar membelanjakan uang untuk hiburan, ditambah pertimbangan ketersediaan venue.

Ketika produk mulai mapan, nilai turunan biasanya muncul dalam bentuk perluasan skala. Pestapora mulai bergerak sebagai kekayaan intelektual (IP). Pada 2025, Ucup menambah sumber pendapatan melalui lisensi IP dengan model “franchise” yang menggunakan blueprint dan mekanisme persetujuan, bukan roadshow.

Meski demikian, cara berpikir yang ia pegang tetap sama: eksekusi dulu, lalu perbaiki. Ucup merangkum prinsip itu dengan kalimat, “Kalau mau ngelakuin apa-apa ya lakuin aja dulu. Kalau salah minta maaf, kalau benar lanjutin.”