Komposer sekaligus penggerak musik gamelan kontemporer di Indonesia, Iwan Gunawan, dikabarkan meninggal dunia di Belanda pada Senin, 16 Maret 2026. Iwan juga dikenal sebagai pengajar pendidikan seni musik di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Kepala Kantor Komunikasi, Informasi, dan Pelayanan Publik UPI, Vidi Sukmayadi, mengatakan Iwan meninggal karena gagal jantung. “Beliau meninggal di Belanda dikarenakan gagal jantung,” kata Vidi, Rabu, 18 Maret 2026.
Melalui akun resmi Instagram, pihak kampus menyampaikan duka cita. Vidi menyebut UPI berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda untuk proses pemulangan jenazah. Jenazah direncanakan tiba pada Kamis, 19 Maret 2026 sekitar pukul 18.00 WIB di Bandara Soekarno-Hatta.
Setelah tiba di Indonesia, jenazah akan disemayamkan di masjid UPI. “Setelah disemayamkan di masjid UPI, rencananya Jumat pagi akan dimakamkan di daerah Lembang,” ujar Vidi.
Iwan Gunawan lahir di Bandung pada 1974. Ia merupakan komposer Indonesia yang banyak menciptakan karya musik kamar dan telah dipentaskan di sejumlah negara di Asia dan Eropa, serta wilayah lain. Ia belajar komposisi musik dari Dieter Mack dan piano kepada Iswargia R. Sudarno di UPI Bandung pada 1993–1998. Iwan juga memperdalam komposisi kepada Suka Hardjana, Slamet Abdul Sjukur, dan Rahayu Supanggah di Institut Seni Indonesia Surakarta pada 2005–2007.
Menurut catatan kiprahnya, Iwan bermain gamelan sejak usia enam tahun. Ia mendirikan ansambel Kyai Fatahillah di Bandung pada 2004. Di UPI, Iwan mengajar komposisi, gamelan Bali, dan piano sejak 2003, serta mengajar musik komputer sejak 2013.
Karya-karyanya dipentaskan di dalam negeri dan di berbagai negara, antara lain Australia, Austria, Belgia, Cina, Siprus, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Singapura, Swiss, dan Vietnam. Ragam karya yang ia hasilkan mencakup musik untuk orkestra, musik kamar, vokal, elektro akustik, serta aransemen lagu.
Dosen pendidikan seni musik UPI, Vincentius Paskalis Nugroho, mengatakan Iwan rutin pergi ke Belanda setiap tahun dan juga ke beberapa negara lain untuk berkolaborasi dengan grup ansambel. Keberangkatannya disebut berlangsung bersama beberapa pemusik dari ansambel Kyai Fatahillah. “Sebelumnya masih aktif untuk kegiatan pertunjukan, nggak kayak orang sakit memang,” kata Vincentius, Rabu, 18 Maret 2026.
Vincentius juga menyebut Iwan menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada 2025. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, jenazah Iwan akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Lembang.

