BERITA TERKINI
Le Van Quyen dan Putrinya Tinh Tam: Duet Saksofon-Biola yang Ditempa Ketekunan

Le Van Quyen dan Putrinya Tinh Tam: Duet Saksofon-Biola yang Ditempa Ketekunan

Perjalanan artistik Le Van Quyen bermula dari keterbatasan. Ia tidak berasal dari keluarga seniman, tidak mengenyam pendidikan formal di sekolah seni, dan tidak memiliki mentor pada masa awal. Yang ia miliki, menurut pengakuannya, adalah hasrat besar terhadap seni.

Pada usia 15 tahun, Quyen bergabung dengan kelompok pemuda setempat untuk mengabdi dalam propaganda budaya dan seni. Tiga tahun kemudian, ia mendaftar menjadi tentara dan tetap berkegiatan di bidang seni dalam unitnya. Di usia 23 tahun, ia bergabung dengan Pusat Kebudayaan Provinsi dan memulai karier sebagai seniman pertunjukan profesional yang terus berlanjut hingga kini.

Quyen bercerita bahwa pada masa sebelum internet meluas, ia belajar secara otodidak dengan bereksperimen menggunakan alat musik serta membaca buku dan majalah. Dari proses itu, ia menjadi mahir memainkan sejumlah instrumen seperti gitar dan organ, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada saksofon. Ia merasa suara saksofon akrab baginya, seolah dapat menggantikan lirik untuk mengekspresikan emosi.

Ia menyebut hanya memerlukan waktu satu bulan untuk mempelajari dan menguasai saksofon hingga mampu menghasilkan karya musik sesuai keinginannya. Namun, ia juga menegaskan bahwa menyempurnakan kualitas bunyi instrumen itu memerlukan waktu puluhan tahun, ditempuh dengan latihan hampir setiap hari tanpa jeda. Di saat yang sama, ia berupaya mengikis stereotip bahwa saksofon hanya identik dengan suasana pemakaman, dan berusaha mengembalikan instrumen tersebut pada ruang ekspresi yang lebih luas. Dari proses panjang itu, nama “Saksofon Le Quyen” kian dikenal di kalangan seniman dan masyarakat setempat.

Di lingkup keluarga, Quyen sempat berharap minat seni dapat diteruskan oleh putra sulungnya. Anak itu disebut berbakat, tetapi tidak memiliki dorongan untuk menekuni seni sebagai karier. Ketika pasangan tersebut mengetahui anak bungsu mereka adalah perempuan, mereka menaruh harapan pada sang anak yang kemudian bernama Le Tinh Tam.

Quyen memutuskan mengajari putrinya bermain biola, instrumen yang ia nilai sulit namun memiliki tempat tersendiri jika dikuasai. Ia kembali belajar dari dasar, mencari bimbingan dari mereka yang lebih ahli, dan bertekad menguasainya dalam empat tahun seiring putrinya bertumbuh. Ia mengakui proses itu tidak mudah dan ada masa ketika ia ingin menyerah, tetapi dukungan sang istri dan bayangan masa depan putrinya membuatnya kembali berlatih.

Sejak sangat kecil, bahkan sebelum bisa berjalan dengan mantap, Tinh Tam disebut telah terbiasa mendengar permainan gitar dan terompet ayahnya setiap hari. Pada usia empat tahun, Quyen mulai mengajarinya biola secara resmi. Tahun pertama menjadi fase berat: orang tuanya menilai bunyi biolanya “mengerikan, seperti batuk kucing,” serak dan tidak enak didengar.

Tam pun sempat ingin berhenti. Ia merasa telah menggunakan kekuatan dan teknik seperti yang diajarkan, tetapi tidak mampu menghasilkan suara yang diinginkan. Namun, ia memilih bertahan dan terus berlatih, terutama karena melihat ayahnya kecewa. Setelah dua tahun, kemampuannya berangsur membaik. Tam mengatakan sejak itu ia mulai percaya diri, menemukan ritme pada setiap nada, dan kini mengetahui lebih dari 100 karya musik dari berbagai genre.

Pada usia enam tahun, bakat Tam mulai terlihat. Orang tuanya tetap membimbing latihan hariannya, sambil memastikan ia fokus belajar di Sekolah Dasar Lý Thường Kiệt. Kesempatan penting datang pada Juni 2025 ketika Tam terpilih mengikuti Festival Seni Rakyat Nasional Lagu-lagu Revolusioner yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Di luar perkiraan keluarga, Tam meraih sertifikat penghargaan sebagai “Musisi Berbakat dari Grup Seni Rakyat Provinsi An Giang.”

Keberhasilan itu berlanjut pada November 2025. Quyen dan Tam meraih hadiah A dalam Festival Seni Komunitas Nasional, juga diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, melalui penampilan duet saksofon-biola berjudul “Hello Vietnam - A Round Trip Around Vietnam.” Sejak saat itu, duet ayah-anak ini kerap diundang tampil dalam berbagai kegiatan budaya yang digelar provinsi, daerah, maupun perusahaan.

Quyen menekankan bahwa ia ingin putrinya merasakan panggung besar dan kecil untuk mengumpulkan pengalaman bagi perjalanan artistik di masa depan, bukan semata berorientasi pada mencari nafkah. Ia juga menyebut Tam tetap meluangkan waktu untuk sekolah dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diprakarsai guru.

Pada 17 Maret 2026, Quyen dan Tam kembali diundang tampil dalam upacara pemberian beasiswa bagi siswa kurang mampu yang diselenggarakan Asosiasi Persahabatan Vietnam-Jerman Provinsi An Giang. Dari berbagai program dengan skala berbeda, Tam disebut mempelajari gaya penampilan yang profesional namun tetap sesuai usianya. Di luar kegiatan sekolah, ia juga mengikuti kursus daring untuk melengkapi pengetahuan, selangkah demi selangkah mendekati mimpinya bersekolah di konservatori musik.

Di rumah kecil mereka, musik menjadi rutinitas harian—bukan hanya soal melodi, tetapi juga ketekunan dan keyakinan. Menjelang perpisahan, Tam mengatakan bahwa meski lelah, ia tetap senang bermain piano dan tampil di hadapan banyak orang. Bagi keluarga ini, kebahagiaan sederhana itu menjadi energi yang menjaga nyala perjalanan bermusik tetap hidup.