BERITA TERKINI
Komunitas BOAS Hadirkan Ruang Aman untuk Bercerita dan Akses Konseling Terjangkau

Komunitas BOAS Hadirkan Ruang Aman untuk Bercerita dan Akses Konseling Terjangkau

BOAS Peduli Generasi (BOAS) merupakan komunitas yang menyediakan ruang aman bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk bercerita, mendapatkan konseling, saling mendukung, serta membangun relasi yang sehat. Nama BOAS adalah singkatan dari “Bantu Orang Aku Senang”, yang menggambarkan semangat menolong sesama dengan kepedulian.

Komunitas ini lahir seiring meningkatnya kebutuhan pendampingan psikologis, terutama pada kalangan muda yang dinilai semakin rentan sejak masa pandemi. Pada awalnya, BOAS hadir sebagai dukungan untuk memenuhi kebutuhan Yayasan Rumah RUTH dalam pendampingan psikologis bagi perempuan korban kekerasan seksual dan perempuan dengan kehamilan tidak diinginkan (KTD). Seiring bertambahnya permintaan konseling, BOAS kemudian berkembang menjadi BOAS Peduli Generasi dengan fokus utama pada generasi muda.

Salah satu relawan BOAS, Lael, menyampaikan harapan agar ruang aman yang mereka sediakan dapat membantu orang-orang merasa tidak sendirian saat menghadapi masalah. Ia menekankan pentingnya didengar tanpa rasa takut dihakimi.

Di tengah kehidupan perkotaan yang serba cepat, akses layanan psikolog kerap terkendala biaya yang relatif tinggi, terutama bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan finansial. Dalam kondisi ini, metode peer counseling yang dijalankan BOAS menjadi salah satu alternatif. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dapat saling mendukung, berbagi pengalaman, dan menemukan ruang aman untuk bercerita tanpa terbebani biaya besar.

BOAS juga menggelar berbagai kegiatan komunitas yang diikuti peserta dari beragam latar belakang. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, komunitas ini berupaya menghadirkan suasana yang hangat, ramah, dan penuh penerimaan, tanpa sekat kelompok tertentu.

Pendiri BOAS, Charles Wong, menyampaikan mimpinya agar gerakan ini dapat meluas ke seluruh Indonesia. Pernyataan itu disampaikannya dalam kegiatan Camp Healed to Heal yang berlangsung pada 19–20 September 2025. Camp ini terdiri dari tiga rangkaian kegiatan, yakni Discovering Father’s Heart, Healed to Heal, dan The Unique You. Rangkaian tersebut dirancang untuk mengajak peserta mengenali luka lama, belajar menerima diri, serta menemukan keunikan pribadi yang dapat menjadi kekuatan.

Salah satu sesi dalam camp dilakukan pada malam hari, ketika peserta diminta duduk dalam kelompok kecil untuk saling bercerita mengenai pergumulan masing-masing. Setiap kelompok didampingi fasilitator dari relawan BOAS. Sesi ini menjadi bagian dari upaya komunitas dalam menghadirkan “ruang aman” secara nyata melalui empati dan dukungan antarpeserta.

Program dan kegiatan BOAS disebut mendapat dukungan dari berbagai instansi serta universitas. Bentuk dukungan itu antara lain melalui kerja sama MBKM, penerimaan mahasiswa magang, serta pembukaan kesempatan relawan. Kondisi tersebut menunjukkan BOAS dipandang tidak hanya sebagai wadah sosial dan spiritual, tetapi juga diakui sebagai bagian dari proses pembelajaran akademik dan pengembangan kapasitas generasi muda.

Dalam wawancara pada 29 Oktober 2025, Lael Neisha menjelaskan bahwa program konseling gratis yang digelar sepanjang Oktober merupakan partisipasi komunitas dalam memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia. Menurutnya, inisiatif itu muncul dari keprihatinan terhadap kesenjangan antara banyaknya masyarakat yang membutuhkan bantuan psikologis dan terbatasnya jumlah tenaga konselor profesional. “Jumlah orang yang membutuhkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan tenaga yang tersedia,” ujarnya.

Program tersebut diawali dengan layanan konseling gratis selama Oktober, lalu dilanjutkan dengan konseling berbayar berbiaya terjangkau. Lael menyebut, bila tarif konseling di pasaran bisa mencapai sekitar Rp350.000, di BOAS biayanya Rp100.000.

Dalam pelaksanaannya, BOAS melibatkan relawan sebagai konselor. Dari total sepuluh konselor, satu merupakan psikolog, satu psikiater, tiga telah memiliki sertifikasi dari negara, sementara sisanya adalah relawan yang mengikuti pelatihan konseling internal BOAS. Hingga akhir Oktober, tercatat sepuluh klien mengikuti sesi konseling dengan rentang usia 17 hingga 28 tahun. Pendaftaran program ini disebut masih dibuka sepanjang Oktober 2025.

Lael berharap kegiatan tersebut dapat membantu lebih banyak orang memahami dan merasakan emosinya. “Kami ingin setiap orang bisa belajar mengenali dan menerima perasaannya sendiri, karena dari sanalah proses pemulihan sejati dimulai,” katanya.