BERITA TERKINI
Konser “Nuansa Paris” Hadirkan Tiga Wajah Musik Prancis Bersama Lise de la Salle dan SSO

Konser “Nuansa Paris” Hadirkan Tiga Wajah Musik Prancis Bersama Lise de la Salle dan SSO

Program konser bulan Mei bertajuk “Nuansa Paris” menampilkan rangkaian karya yang menggambarkan elegansi, kecanggihan, dan kedalaman emosional yang kerap dilekatkan pada tradisi musik Prancis. Konser ini dipimpin Direktur Musik Olivier Ochanine, dengan penampilan khusus pianis Lise de la Salle sebagai solis.

Rangkaian program disusun seperti perjalanan lintas era. Hector Berlioz membuka dengan energi yang eksplosif, Maurice Ravel menghadirkan pertemuan tradisi dan modernitas, sementara César Franck membawa pendengar ke wilayah ekspresi yang lebih dalam. Tiga karya tersebut diposisikan sebagai bab-bab yang saling melengkapi dalam satu kisah musikal.

Orkestra Simfoni Matahari (SSO) mengawali pertunjukan lewat “Roman Carnival Overture” karya Hector Berlioz. Karya yang dikenal luas ini menonjolkan imajinasi, warna, dan drama khas Berlioz, komposer yang masyhur dengan orkestrasi berani. Suasana karnaval Romawi dibangun melalui kontras antara bagian-bagian yang riuh dan memukau dengan melodi yang liris, termasuk sorotan pada cor anglais, sebelum menuju penutup yang meledak-ledak.

Setelah itu, program berlanjut ke “Piano Concerto in G major” karya Maurice Ravel, yang digubah pada 1929–1931. Konserto ini menggabungkan formalitas dan kecanggihan tradisi Prancis dengan bunyi kontemporer, termasuk pengaruh jazz Amerika. Dalam karya ini, Lise de la Salle tampil sebagai solis, dengan peran piano yang bukan semata menonjol sendiri, melainkan terus berdialog dengan orkestra.

Pembukaan konserto ditandai akord bernuansa jazz yang menghadirkan dunia musik modern dan anggun. Gerakan pertama menawarkan fleksibilitas dan ketajaman, sementara “Adagio assai” disebut sebagai salah satu gerakan paling liris dalam khazanah konserto abad ke-20, dengan melodi panjang yang mengalir. Gerakan terakhir menutup dengan energi yang cerah, cepat, dan bersemangat.

Lise de la Salle dikenal sebagai salah satu pianis menonjol di generasinya, dengan lebih dari dua dekade aktivitas internasional dan penampilan reguler di berbagai panggung bergengsi. Ia juga telah berkolaborasi dengan sejumlah orkestra besar, antara lain Chicago Symphony Orchestra, London Symphony Orchestra, Los Angeles Philharmonic, dan Staatskapelle Berlin. Permainannya kerap disebut kaya secara teknis dan mendalam secara musikal; Washington Post pernah menggambarkan penampilannya membuat “penonton hampir lupa cara bernapas.”

Bagian penutup konser diisi “Symphony in D minor” karya César Franck, salah satu karya penting musik Prancis pada akhir abad ke-19. Simfoni ini menggunakan bentuk siklik khas Franck, yakni tema-tema yang kembali muncul dan berkembang dalam wujud baru sepanjang karya, sehingga bagian-bagiannya terasa saling terikat sebagai aliran emosi yang berkelanjutan.

Melalui tiga komposisi—“Roman Carnival Overture,” “Piano Concerto in G major,” dan “Symphony in D minor”—“Nuansa Paris” menampilkan tiga sisi musik Prancis dari periode yang berbeda: semarak dan dramatis, modern sekaligus elegan, hingga reflektif dan mendalam. Program ini diproyeksikan sebagai perjalanan musikal penuh warna, dari suasana meriah sampai lapisan emosi yang lebih intens.

Sun Symphony Orchestra (SSO) didirikan pada 2017 di bawah kepemimpinan konduktor Prancis Olivier Ochanine dan disponsori Sun Group. Orkestra ini menyatakan tujuan untuk menjadi salah satu orkestra simfoni kelas dunia di Vietnam, memperkaya kehidupan spiritual masyarakat melalui musik, serta menetapkan standar baru bagi budaya dan seni di negara tersebut.