Unit musik asal Malang, Jawa Timur, Lakuna, mempertegas langkahnya di ranah musik dengan merilis maxi single bertajuk “Mudra”. Aktif sejak 2021, band ini beranggotakan Yoko (vokal), Bagus dan Tian (gitar), Kelfin (keyboard), Aziz (bass), serta Eta (drum).
Seiring perjalanan mereka, Lakuna membangun identitas musikal di persimpangan pop alternatif dan folk. Warna tersebut diperkaya distorsi yang lembut, melodi yang tenang, serta muatan emosional yang kuat.
Maxi single “Mudra” memuat dua lagu yang disebut menjadi fondasi awal perjalanan Lakuna. Rilisan ini juga membuka ruang eksplorasi yang menghubungkan lirik dengan lanskap suara yang lebih luas, sekaligus memberi gambaran arah yang hendak mereka ambil dalam skena musik alternatif di Indonesia.
Sebelumnya, Lakuna telah memperkenalkan diri lewat lagu “Buai Raga”. Karya itu menandai kecenderungan mereka menulis lirik puitis yang terinspirasi dari pengalaman sehari-hari—pendekatan yang kemudian berlanjut dan berkembang dalam “Mudra”.
Lagu “Mudra” lahir dari perenungan tentang eksistensi manusia, terutama momen ketika seseorang berhenti sejenak dari kesibukan hidup untuk memikirkan asal-usul, tujuan hidup, dan kemungkinan akhir yang akan dihadapi. Proses kreatifnya dipengaruhi riset yang dilakukan Yoko saat menulis naskah drama, ketika ia mengeksplorasi beragam pandangan tentang konsep kehancuran dalam berbagai agama dan kepercayaan.
Dari riset tersebut, Lakuna merangkai ide yang merujuk pada sejumlah teks dan nilai spiritual, termasuk ayat “Kun Fayakun” dalam Al-Qur’an, Injil Matius pasal 19 ayat 14, hingga tembang macapat Asmarandhana “Aja Turu Sore Kaki”. Referensi itu dihadirkan bukan sekadar kutipan, melainkan bagian dari narasi untuk memperkuat imersi lagu.
Secara etimologis, “Mudra” berasal dari bahasa Sanskerta yang dimaknai sebagai keadaan murni dan kembali ke asal. Gagasan tersebut diterjemahkan Lakuna sebagai proses peluruhan menuju kesunyian semesta, saat segala sesuatu perlahan kembali ke titik awal.
Dalam maxi single ini, “Manungsa ing Pandunga” ditempatkan sebagai pembuka, sementara “Mudra” menjadi komposisi utama. Keduanya dirancang saling terhubung, membentuk alur dari doa dan kesadaran manusia menuju pemahaman yang lebih dalam tentang siklus kehidupan.
“Manungsa ing Pandunga” mengambil rujukan dari tembang macapat Asmarandhana dan menggunakan bahasa Jawa sebagai penanda identitas sosial band. Lagu ini menggambarkan hubungan manusia dengan kehidupan yang dijalani, sekaligus mengingatkan bahwa setiap napas adalah titipan. Dari titik itu, perjalanan berlanjut ke “Mudra”, yang memandang kehancuran bukan sebagai akhir yang gelap, melainkan bagian dari siklus kosmis yang membuka kemungkinan baru.
Yoko menjelaskan proses pengerjaan lagu pembuka berlangsung cukup cepat. “Manungsa ing Pandunga” mulai dikerjakan pada November 2025 dan rampung sekitar satu minggu, serta dirancang sebagai pengantar menuju lagu utama.
Lakuna memandang maxi single ini sebagai awal dari rencana rilisan yang lebih panjang. Setelah “Mudra”, mereka berencana menghadirkan satu single tambahan sebagai jembatan menuju album penuh pertama. Dengan demikian, rilisan ini diposisikan sebagai pintu masuk menuju rangkaian cerita yang akan berkembang dalam karya-karya berikutnya.
Maxi single “Mudra” dijadwalkan rilis pada 22 Maret 2026 dan akan tersedia di berbagai platform streaming digital. Lakuna menyebut karya ini sebagai ajakan bagi pendengar untuk memasuki ruang refleksi yang lebih dalam, sebelum mereka melangkah ke fase berikutnya.

