Sejumlah musisi memilih menjauh dari industri musik setelah merilis album tertentu. Alasannya beragam, mulai dari kondisi personal, perubahan arah berkarya, hingga keputusan untuk menjalani hidup yang lebih tenang. Berikut lima album yang kerap dikaitkan dengan momen ketika para musisi tersebut mulai mengurangi aktivitas atau meninggalkan dunia musik.
1. “Barrett” – Syd Barrett
Syd Barrett dikenal sebagai figur penting pada fase awal Pink Floyd. Ia menjadi penulis lagu utama dan menciptakan karya-karya khas, termasuk “See Emily Play”. Namun, kondisi mentalnya yang semakin tidak stabil membuat proses kerja bersama rekan band menjadi sulit, hingga akhirnya ia meninggalkan grup yang turut ia dirikan.
Setelah keluar dari Pink Floyd, Barrett mencoba meniti karier solo dan merilis album The Madcap Laughs, disusul Barrett. Dalam proses pengerjaan album tersebut, David Gilmour dan Roger Waters disebut ikut membantu agar proyek dapat diselesaikan. Meski punya keunikan tersendiri, album ini juga memperlihatkan menurunnya energi kreatif Barrett. Tak lama kemudian, ia menjauh dari dunia musik dan memilih hidup tenang jauh dari sorotan.
2. “Made in Heaven” – Queen
Album Made in Heaven (1995) hadir setelah wafatnya Freddie Mercury. Materinya dibuat dari rekaman vokal Mercury yang ditinggalkan sebelum meninggal, dan menjadi cara bagi para personel Queen untuk menghormati warisan sang vokalis.
Bagi bassist Queen, John Deacon, album tersebut terasa seperti titik akhir. Setelah bertahun-tahun berkegiatan di dunia musik yang penuh tekanan, ia memutuskan mundur dari aktivitas band. Deacon tidak tertarik melanjutkan tur tanpa Mercury dan memilih menjalani kehidupan yang lebih tenang bersama keluarga. Meski personel lain tetap tampil dengan penyanyi tamu seperti Adam Lambert, Deacon tetap memilih pensiun.
3. “The Miseducation of Lauryn Hill” – Lauryn Hill
Nama Lauryn Hill melejit bersama Fugees melalui album The Score pada akhir 1990-an. Ia kemudian merilis album solo debut The Miseducation of Lauryn Hill yang sukses besar dan kerap disebut sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa. Album ini juga meraih banyak penghargaan dan memuat lagu ikonik seperti “Doo Wop (That Thing)”.
Namun setelah pencapaian tersebut, Hill jarang merilis karya baru. Ia masih sesekali tampil di konser atau menjadi bintang tamu di beberapa lagu, tetapi album studio baru hampir tidak muncul. Karena itu, banyak penggemar memandang album ini sebagai karya besar yang paling menandai masa aktif kariernya.
4. “Fantasies and Delusions” – Billy Joel
Billy Joel dikenal sebagai salah satu penyanyi dan penulis lagu paling sukses dari dekade 1970-an hingga 1990-an, dengan deretan lagu populer seperti “Piano Man” dan “Uptown Girl”. Meski demikian, ia juga pernah mengakui bahwa menulis lagu pop tidak selalu mudah baginya.
Ketika merilis Fantasies and Delusions pada 2001, Joel mengambil arah berbeda lewat karya musik klasik instrumental, menampilkan sisi lain kemampuannya sebagai komposer. Setelah proyek itu, ia hampir tidak lagi merilis album pop baru. Joel lebih memilih fokus pada konser dan menikmati warisan musik yang telah ia bangun.
5. “Testify” – Phil Collins
Phil Collins merupakan ikon pop era 1980-an dan 1990-an, dikenal sebagai penyanyi solo sekaligus drummer dan vokalis Genesis. Lagu-lagunya seperti “In the Air Tonight” dan “Against All Odds” mengukuhkan posisinya sebagai salah satu artis paling populer pada masanya.
Saat merilis Testify pada 2002, Collins merasa waktunya di industri musik sudah mendekati akhir. Setelah bertahun-tahun menghadapi kritik, tekanan tur, dan masalah kesehatan, ia mulai mengurangi aktivitas bermusik. Meski masih terlibat dalam beberapa proyek lain, album ini kerap dianggap sebagai karya terakhir yang menunjukkan dirinya sebagai musisi pop yang aktif.
Kisah lima album tersebut memperlihatkan bahwa keputusan untuk berhenti atau mengurangi aktivitas bermusik dapat dipicu oleh berbagai faktor. Meski para musisi itu tidak lagi rutin merilis album baru, karya-karya mereka tetap dikenang dan terus didengar oleh penggemar lintas generasi.

