Indonesia dikenal memiliki keragaman budaya yang luas. Kekayaan ini kerap hadir tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga diangkat ke layar melalui film dan serial. Sejumlah judul tontonan Indonesia menampilkan tradisi, bahasa, hingga latar daerah sebagai bagian penting dari cerita.
Berikut lima film dan serial Indonesia yang menonjolkan ragam budaya lokal dalam kisahnya.
1. Gadis Kretek
Serial garapan sutradara Kamila Andini ini mengangkat budaya rokok kretek Indonesia dengan latar Indonesia pada era 1960-an. Ceritanya mengikuti perjalanan cinta sekaligus pencarian jati diri seorang perajin berbakat yang menentang tradisi dalam industri rokok kretek pada masa itu. Gadis Kretek ber-genre drama romantis, diadaptasi dari buku, dan dibintangi Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran utama.
2. Ngeri-Ngeri Sedap
Dirilis pada 2022, film keluarga ini berkisah tentang sepasang orang tua keturunan Batak yang tinggal di tanah Batak dan berupaya mengumpulkan anak-anak mereka yang merantau agar pulang ke kampung. Salah satu cara ekstrem yang dilakukan adalah berpura-pura bertengkar hebat hingga bercerai, demi memancing anak-anaknya kembali berkumpul.
3. Losmen Bu Broto
Film Indonesia yang juga rilis pada 2022 ini dibintangi Putri Marino, Maudy Ayunda, dan Maudy Koesnaedi. Cerita berfokus pada keluarga Bu Broto yang mengelola sebuah losmen di Yogyakarta. Dinamika keluarga bersama tiga anaknya digambarkan tidak selalu berjalan mulus, dengan berbagai persoalan dan skandal besar yang menguji ketahanan keluarga.
4. Athirah
Athirah merupakan film biografi tentang ibu dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Film ini dibintangi Cut Mini, Christoffer Newlan, Tika Bravani, dan Indah Permata Sari. Kisahnya mengikuti kehidupan Athirah, perempuan Bugis yang menikah dan memiliki lima anak. Di tengah kehidupan rumah tangga, ia menghadapi berbagai masalah, termasuk poligami dan konflik batin yang turut memengaruhi hubungan dengan anak-anaknya.
5. Yowis Ben
Film yang memiliki tiga sekuel ini menampilkan budaya khas Malang, Jawa Timur. Digarap oleh Bayu Skak, film ini juga banyak melakukan proses syuting di Malang. Ceritanya mengikuti sekelompok pemuda yang bermimpi menjadi pemain band terkenal. Unsur lokal terasa kuat karena film komedi ini menggunakan bahasa Jawa Timur dialek Malangan.
Lima judul tersebut menjadi contoh bagaimana film dan serial Indonesia menghadirkan budaya lokal sebagai bagian dari narasi, mulai dari latar daerah, tradisi, hingga penggunaan bahasa. Kehadiran unsur-unsur itu sekaligus memperlihatkan keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia.

