Pada 29 Mei malam, Teater Ho Guom akan menjadi panggung konser “Nuansa Paris” yang menampilkan Sun Symphony Orchestra (SSO) bersama pianis asal Prancis, Lise de la Salle. Konser ini mengajak penonton menelusuri tiga sisi berbeda musik Prancis melalui karya-karya Hector Berlioz, Maurice Ravel, dan César Franck.
Program “Shades of Paris” dipimpin Direktur Musik Olivier Ochanine. Rangkaian karya yang dibawakan disebut menggambarkan keanggunan, kecanggihan, serta kedalaman emosi yang kerap menjadi ciri khas musik Prancis.
Konser dibuka dengan Roman Carnival Overture karya Hector Berlioz. Karya ini dikenal menonjolkan imajinasi, warna, dan bakat dramatis Berlioz, komposer yang kerap disebut menonjol karena orkestrasi yang berani. Musiknya menghadirkan suasana festival Romawi lewat kontras antara bagian yang riuh dan memukau dengan melodi liris, termasuk warna khas cor anglais, hingga mencapai penutup yang eksplosif.
Selanjutnya, SSO membawakan Piano Concerto in G major karya Maurice Ravel, yang digubah pada 1929–1931. Konserto ini memadukan tradisi Prancis yang formal dan berkelas dengan warna kontemporer, termasuk pengaruh jazz Amerika. Lise de la Salle tampil sebagai solis dalam karya tersebut.
Lise de la Salle disebut telah menjalani lebih dari dua dekade aktivitas internasional dan tampil secara reguler di berbagai panggung bergengsi. Ia juga pernah berkolaborasi dengan sejumlah orkestra besar, antara lain Chicago Symphony Orchestra, London Symphony Orchestra, Los Angeles Philharmonic, dan Staatskapelle Berlin. Dalam salah satu ulasannya, Washington Post menggambarkan penampilannya dengan kalimat bahwa “penonton hampir lupa cara bernapas,” merujuk pada daya pikat permainannya.
Dalam konserto Ravel, piano tidak hanya tampil sebagai instrumen solo, tetapi terus berdialog dengan orkestra. Akord pembuka bernuansa jazz membuka warna musik yang modern dan anggun. Gerakan pembuka menonjolkan kelincahan dan ketajaman, sementara Adagio assai digambarkan sebagai salah satu bagian paling liris dalam repertoar konserto abad ke-20, dengan garis melodi panjang yang mengalir. Bagian akhir ditutup dengan energi yang cepat dan bersemangat.
Program ditutup dengan Symphony in D minor karya César Franck, salah satu karya penting musik Prancis pada akhir abad ke-19. Simfoni ini disusun dengan bentuk siklik khas Franck, di mana tema-tema musik berulang dan berkembang dalam wujud baru sepanjang karya, sehingga keseluruhan bagian terasa saling terhubung sebagai satu aliran emosi yang berkelanjutan.
Melalui tiga karya tersebut—Roman Carnival Overture, Piano Concerto in G major, dan Symphony in D minor—konser “Nuansa Paris” menghadirkan potret musik Prancis lintas era, dari yang semarak dan elegan hingga nuansa yang lebih mendalam.