BERITA TERKINI
LPBINU Gelar Dukungan Psikososial Anak Penyintas Bencana di Agam dan Padang Pariaman

LPBINU Gelar Dukungan Psikososial Anak Penyintas Bencana di Agam dan Padang Pariaman

AGAM, SUMATERA BARAT — Pemulihan psikososial pascabencana di Sumatera Barat masih berlanjut. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) melalui tim fasilitator melaksanakan program dukungan psikososial bagi anak-anak penyintas bencana selama tiga hari di Kabupaten Agam dan Kabupaten Padang Pariaman.

Program ini menyasar anak-anak sebagai kelompok rentan yang membutuhkan pendampingan emosional berkelanjutan. Sekretaris LPBI PWNU Sumbar, Fahmi Fakhruddin, mengatakan pendekatan yang digunakan adalah Self Healing Therapy (SHT) An-Nahdliyah yang dikemas secara kreatif dan partisipatif agar menciptakan suasana aman, hangat, serta menyenangkan bagi anak-anak.

“Tawa, gerak dan kebersamaan jadi ruang pemulihan,” kata Fahmi. Melalui metode tersebut, anak-anak didorong untuk lebih akrab, nyaman, dan ekspresif dalam menyalurkan emosi serta pengalaman batin pascabencana.

Fahmi menjelaskan pendampingan dilakukan secara partisipatif dan berorientasi pada pemulihan psikososial berkelanjutan. Dalam kegiatan di Desa Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, LPBINU melibatkan tim fasilitator dari mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Padang (UNP), yakni Aisyah El Hafidzah, Fathimah Syarif, Bela Oktavia, dan Intan Denata.

Menurut Fahmi, keterlibatan mahasiswa dinilai efektif karena kedekatan usia, empati, serta kemampuan komunikasi interpersonal yang baik sehingga membantu membangun rasa aman dan kepercayaan diri anak-anak dalam waktu relatif singkat. “Kedekatan usia dan empati menjadi faktor penting dalam membangun relasi emosional yang intens antara pendamping dan anak-anak penyintas,” ujarnya.

Pendekatan psikososial ini, lanjut Fahmi, diselenggarakan dengan menjunjung nilai dan norma budaya lokal serta mengintegrasikan pendekatan religius yang ramah dan kontekstual agar mudah diterima anak, keluarga, dan masyarakat. Ia menilai pendekatan tersebut menyentuh aspek emosional, sosial, dan spiritual secara bersamaan sehingga pemulihan diharapkan tidak bersifat instan, melainkan mendalam dan berjangka panjang. Pernyataan itu turut diamini anggota LPBINU pusat, Daffa Khadafi.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan dukungan psikososial dilakukan melalui permainan terapeutik, ekspresi seni, cerita reflektif, doa bersama, serta penguatan nilai-nilai lokal dan keagamaan yang disampaikan secara ramah dan tidak menggurui. Anak-anak juga menerima peralatan sekolah, seperti tas, buku, alat tulis, pewarna, buku gambar, dan bacaan.

LPBINU juga menyiapkan pendampingan lanjutan berupa monitoring psikososial, penguatan peran orang tua dan guru, serta koordinasi dengan komunitas lokal. Sejumlah peserta kegiatan menyatakan merasa terbantu. “Kami merasa lebih tenang dan berani mengekspresikan perasaan. Kegiatannya ramah, menyenangkan, dan sangat membantu pemulihan anak,” ungkap mereka, seraya berharap program serupa dapat terus berlanjut.

Sementara itu, Ketua LPBI PWNU Sumbar Drs Basrial Aidil menyebut kegiatan tersebut merupakan program lanjutan LPBINU pascabencana akhir Desember tahun lalu. Ia mengatakan layanan diberikan kepada anak-anak terdampak bencana di Nagari Sungai Buluah Barat, Kecamatan Batang, Kabupaten Padang Pariaman, serta di Desa Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Basrial saat itu didampingi anggota LPBINU pusat, Beny Syaaf Jafar.

Basrial menjelaskan titik pertama di Padang Pariaman berlokasi di Masjid Shalawat dengan peserta anak usia TK hingga SD. Di wilayah itu, kegiatan dilaksanakan dalam tiga pertemuan pada 24–26 Januari. Adapun titik kedua di Maninjau dilaksanakan pada 26–28 Januari. Ia menambahkan, antusiasme warga tinggi dan jumlah peserta di setiap pertemuan disebut melebihi target.

Basrial menyampaikan layanan dukungan psikososial bertujuan membantu anak-anak yang keluarga terdampak bencana agar pulih secara mental dari trauma, sekaligus memulihkan motivasi dan keceriaan mereka. Ia mencontohkan, pendampingan diharapkan membantu mengurangi ketakutan anak saat hujan serta menekan kecemasan keluarga.

Ketua Tanfidziyah PWNU Sumbar Prof Ganefri menilai pelatihan psikososial penting untuk memberi pemahaman mengenai cara mengenali dampak psikologis pascabencana. Dengan pengetahuan tersebut, anak-anak maupun orang dewasa diharapkan mampu mendeteksi lebih dini tanda-tanda stres berat dan trauma, serta memberikan dukungan emosional yang tepat sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.

Ganefri juga menyebut pelatihan membekali keterampilan praktis memberikan dukungan psikososial awal, seperti menenangkan korban yang panik, mendampingi anak yang ketakutan, membangun rasa aman, dan memulihkan rutinitas sosial yang sempat terhenti. Selain itu, pendekatan psikososial dinilai dapat menguatkan ikatan sosial dan solidaritas melalui kegiatan kelompok, termasuk permainan anak, diskusi warga, ibadah, dan aktivitas komunitas lain yang difasilitasi lebih terarah.

Menurut Ganefri, bagi anak-anak yang termasuk kelompok paling rentan, pendekatan yang tepat membantu mereka mengekspresikan perasaan melalui bermain, menggambar, atau bercerita sehingga pemulihan berlangsung alami tanpa tekanan dan mencegah dampak jangka panjang pada perkembangan mental serta emosional. Dalam jangka panjang, ia menilai pelatihan psikososial dapat meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana berikutnya.

“Pemulihan fisik membangun kembali bangunan, tetapi pemulihan psikososial membangun kembali jiwa dan semangat hidup masyarakatnya,” kata Ganefri.