BERITA TERKINI
Mengenal Rontek, Tradisi Kentongan untuk Membangunkan Sahur di Pacitan

Mengenal Rontek, Tradisi Kentongan untuk Membangunkan Sahur di Pacitan

Masyarakat Kabupaten Pacitan memiliki tradisi khas selama bulan Ramadan yang dikenal dengan sebutan rontek. Tradisi ini dilakukan untuk membangunkan warga agar bersantap sahur, dengan mengandalkan bunyi kentongan bambu yang dipukul sehingga menghasilkan irama yang khas.

Istilah rontek berasal dari gabungan dua kata, yakni “ronda” dan “thektek”. Ronda merujuk pada kegiatan berjalan keliling atau patroli malam untuk menjaga keamanan. Sementara thektek menggambarkan bunyi yang dihasilkan kentongan bambu. Kentongan yang digunakan umumnya terbuat dari bambu dengan panjang sekitar 50 sentimeter dan dilubangi pada bagian tengah, lalu dimainkan dengan cara dipukul.

Seiring waktu, rontek tidak lagi hanya mengandalkan kentongan bambu. Permainannya turut dilengkapi alat musik lain, seperti gendang, gamelan, gong, kenong, suling, dan saron. Dalam perkembangannya, rontek juga dikombinasikan dengan alat musik modern, antara lain saxophone dan bass drum.

Rontek biasanya dimainkan secara berkelompok, melibatkan penabuh, penyanyi, hingga penari. Kekompakan dan keserasian menjadi unsur penting dalam pertunjukan ini.

Pada mulanya, rontek berfungsi sebagai sarana membangunkan sahur, sekaligus media komunikasi warga untuk memanggil masyarakat menghadiri acara atau memberi sinyal bahaya. Namun kemudian, rontek bertransformasi menjadi pertunjukan festival seni. Selain menjadi hiburan dan upaya pelestarian budaya, rontek juga disebut berperan sebagai promosi wisata Pacitan serta penggerak ekonomi lokal.

Rontek kini dikenal sebagai salah satu ikon budaya Pacitan. Sejak 2011, rontek rutin dilombakan setiap tahun saat Ramadan dalam festival kreasi seni tari yang dinamis. Lomba ini biasanya diikuti perwakilan dari setiap desa dan kelurahan se-Kabupaten Pacitan. Pada 2011, Festival Rontek Gugah Nagari tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) karena diikuti 2.818 orang.

Festival rontek menjadi daya tarik tersendiri karena peserta tidak hanya tampil layaknya pawai, tetapi juga menghias kendaraan masing-masing kelompok menjadi beragam bentuk kreatif. Kegiatan ini umumnya berlangsung selama beberapa hari pada malam hari, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya dan mengenalkannya kepada generasi muda di Pacitan.