BERITA TERKINI
Menjahit Sisa, Menjahit Makna: Ni Wayan Penawati dan Seni dari Limbah Tekstil yang Menggugat Cara Kita Memandang Perempuan

Menjahit Sisa, Menjahit Makna: Ni Wayan Penawati dan Seni dari Limbah Tekstil yang Menggugat Cara Kita Memandang Perempuan

Ada kabar yang membuat orang berhenti sejenak dari riuh politik dan harga kebutuhan.

Kisah Ni Wayan Penawati, perupa kontemporer dari Buleleng, mendadak ramai dibicarakan.

Ia menyulap limbah tekstil menjadi karya seni, dan dari sana publik menemukan cermin tentang rumah, tradisi, dan krisis lingkungan.

Trennya bukan semata karena keindahan karya.

Ia menjadi tren karena menyentuh luka yang sering tak bernama, yaitu beban perempuan, sampah yang menumpuk, dan ruang seni yang timpang.

-000-

Isu yang Membuatnya Menjadi Tren

Penawati tampak telaten menggunting selembar kain biru di atas tikar warna-warni.

Di sekelilingnya, potongan kain tersusun rapi dalam keranjang.

Dari sisa-sisa kain perca, ia merangkai karya yang mengangkat perempuan, lingkungan, dan keseharian yang kerap luput dari sorotan.

Kisah ini menguat karena lahir dari masa pandemi COVID-19.

Di periode itu, banyak orang dipaksa menata ulang hidup, termasuk cara memandang pekerjaan rumah, limbah, dan seni.

Penawati memulai dari pengamatan sederhana di sekitar rumahnya.

Ia melihat banyak limbah kain dari garmen, terutama kebaya.

Dari situ muncul pertanyaan yang mudah diucapkan, namun sulit dijalankan, mengapa tidak dimanfaatkan.

-000-

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Meledak di Perbincangan

Pertama, ceritanya memadukan dua kegelisahan publik yang sedang kuat, yaitu krisis sampah dan pencarian makna hidup yang lebih pelan.

Limbah tekstil terasa dekat karena pakaian adalah benda paling domestik, sekaligus paling cepat menjadi sampah.

Kedua, narasinya menyentuh Hari Kartini dan percakapan tentang kesetaraan.

Penawati berbicara dari pengalaman perempuan Bali yang menjalani peran berlapis, rumah, upacara, dan kerja kreatif.

Ketiga, kisahnya menawarkan harapan yang tidak menggurui.

Ia tidak mengklaim menyelesaikan masalah besar.

Ia hanya menunjukkan satu tindakan kecil yang konsisten, menjahit, merangkai, dan memberi tafsir baru pada sisa.

-000-

Dari Desa Bulian ke Panggung Gagasan yang Lebih Luas

Penawati tumbuh di lingkungan seniman.

Ayahnya perajin kayu sekaligus pengajar seni.

Ia menempuh SMK Negeri 1 Sukawati, lalu melanjutkan pendidikan ke ISI Denpasar.

Di masa kuliah, ia melihat seni bergerak dan bertransformasi mengikuti zaman.

Namun ia tidak meninggalkan tradisi.

Ia merangkulnya dalam bentuk baru, dengan memasukkan teknik keseharian perempuan Bali ke praktik seni kontemporer.

Ia menyebut mejejaitan dan menganyam tipat sebagai bagian dari bahasa artistiknya.

Menjahit kain ia rasakan seperti membuat banten, ada proses, ada makna.

-000-

Kepelan Nasi Kecil dan Filsafat Kekuatan

Inspirasi Penawati kerap datang dari kepelan nasi kecil yang dipersembahkan umat Hindu Bali setiap hari.

Bentuknya sederhana, nyaris mudah diabaikan.

Namun di sana, ia membaca filosofi kekuatan.

Kekuatan yang tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang besar.

Kekuatan yang bertahan lewat pengulangan, ketekunan, dan kerja yang tak banyak dipuji.

Ia menerjemahkan itu ke medium tekstil.

Potongan kain dijahit menjadi simbol-simbol keseharian yang sarat arti.

-000-

Perempuan, Kerja yang Tak Dianggap, dan Seni yang Tak Diakui

Isu perempuan menjadi napas utama dalam karya Penawati.

Ia menggambarkan perempuan Bali menjalani peran berlapis, mengurus rumah, terlibat upacara adat, dan tetap berkarya dari ruang domestik.

Di tengah stigma, ia menolak anggapan bahwa kesibukan yadnya membuat perempuan tidak produktif secara kreatif.

Baginya, saat perempuan membuat banten, itu juga berkarya.

Itu seni, hanya saja sering tidak dilihat sebagai karya.

Pernyataan ini memukul tepat di pusat persoalan.

Indonesia masih sering memisahkan kerja kreatif dan kerja perawatan, seolah yang satu bernilai, yang lain sekadar kewajiban.

-000-

Patriarki yang Bekerja Lewat Ukuran-ukuran

Penawati juga menyoroti budaya patriarki di Bali.

Ia membandingkan cara perempuan memulai dari hal kecil, seperti merangkai banten, yang kemudian menjadi besar.

Sementara laki-laki, ia berkata, memulai dari bentuk besar yang kemudian dirinci, seperti pembuatan penjor.

Ia menegaskan hasilnya sama-sama penting bagi keberlangsungan adat.

Di sini, yang dipersoalkan bukan tradisi itu sendiri.

Yang digugat adalah cara kita memberi label, besar dianggap utama, kecil dianggap pelengkap.

-000-

Krisis Lingkungan dalam Bentuk yang Paling Dekat: Kain Perca

Limbah tekstil sering terasa abstrak karena jarang terlihat sebagai gunung sampah yang dramatis.

Ia hadir sebagai tumpukan di sudut rumah, karung di belakang toko, atau sisa produksi yang dianggap tak berguna.

Kisah Penawati membuat limbah itu terlihat.

Ia memindahkan sisa kain dari status “buangan” menjadi “bahan”.

Perubahan status ini penting secara psikologis.

Ketika sesuatu disebut bahan, kita terdorong merawatnya.

Ketika disebut sampah, kita tergoda melemparnya sejauh mungkin dari pandangan.

-000-

Riset yang Membantu Membaca Isu Ini Lebih Konseptual

Dalam kajian ekonomi sirkular, nilai sebuah material diperpanjang lewat penggunaan ulang, perbaikan, dan daur ulang.

Prinsipnya sederhana, mengurangi ekstraksi baru dan menekan timbunan limbah.

Praktik Penawati selaras dengan gagasan itu, meski lahir dari pengalaman sehari-hari.

Dalam kajian feminisme, kerja perawatan dan kerja domestik sering disebut tidak terlihat.

Ia menopang kehidupan, namun jarang diberi pengakuan setara.

Ketika Penawati menyamakan menjahit dengan membuat banten, ia sedang menuntut pengakuan atas kerja yang dianggap biasa.

Dalam antropologi seni, tradisi bukan benda beku.

Tradisi hidup karena ditafsir ulang oleh generasi baru.

Penawati menunjukkan bahwa merangkul tradisi tidak selalu berarti mengulang bentuk lama.

-000-

Ruang Seni yang Terbatas, dan Geografi Apresiasi

Penawati menilai ruang bagi seni rupa di Bali masih terbatas dibanding seni pertunjukan.

Banyak seniman visual, ia mengatakan, justru lebih diapresiasi di luar daerah.

Ia menyebut pameran kerap berlangsung di Jakarta, Yogyakarta, hingga Bandung.

Pernyataan ini membuka isu besar tentang ekosistem.

Bakat bisa tumbuh di mana saja.

Namun pengakuan sering tersentral di ruang-ruang tertentu yang punya modal, jaringan, dan institusi.

Ketimpangan ini bukan hanya soal seni.

Ia cermin dari ketimpangan akses budaya, pendidikan, dan kesempatan ekonomi.

-000-

Referensi Kasus Serupa di Luar Negeri

Di luar negeri, praktik seni dari limbah tekstil juga menjadi bahasa kritik sosial dan lingkungan.

Di Inggris, gerakan upcycling dan pameran berbasis material bekas sering dipakai untuk menyoroti konsumsi cepat.

Di Jepang, tradisi boro dan sashiko dikenal sebagai praktik menambal kain berulang kali.

Ia lahir dari kebutuhan, lalu berkembang menjadi estetika yang menghargai jejak waktu.

Kesamaan utamanya bukan pada bentuk karya.

Kesamaannya pada etika, yaitu merawat yang tersisa, dan menolak budaya sekali pakai.

-000-

Mengaitkan Kisah Ini dengan Isu Besar Indonesia

Pertama, isu lingkungan.

Indonesia bergulat dengan persoalan sampah yang kompleks, dari rumah tangga hingga industri.

Kisah Penawati mengingatkan bahwa perubahan juga bisa dimulai dari cara pandang terhadap material.

Kedua, isu kesetaraan gender.

Pengakuan atas kerja perempuan, termasuk kerja domestik dan kerja komunitas, masih menjadi pekerjaan rumah.

Karya Penawati mengangkat kerja itu ke ruang publik, tanpa menghilangkan akar tradisinya.

Ketiga, isu ekonomi kreatif dan ruang apresiasi.

Jika ruang pamer dan dukungan terbatas, seniman akan terus bergantung pada kota-kota tertentu.

Ini menyangkut desentralisasi kebudayaan, bukan sekadar agenda pariwisata.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik bisa memulainya dari literasi konsumsi.

Membeli seperlunya, merawat pakaian lebih lama, dan menghargai perbaikan sebagai kebiasaan, bukan tanda kekurangan.

Kedua, komunitas dan pemerintah daerah dapat memperluas ruang seni rupa.

Bukan hanya ruang fisik pameran, tetapi juga program residensi, lokakarya, dan jejaring kuratorial yang terbuka.

Ketiga, percakapan tentang perempuan perlu bergeser dari slogan ke pengakuan kerja.

Mengakui kerja membuat banten sebagai seni berarti mengakui pengetahuan, waktu, dan ketekunan yang selama ini dianggap otomatis.

Keempat, dukungan pada seniman lokal sebaiknya tidak bergantung pada sensasi.

Penawati juga mengajak perempuan lain di sekitarnya untuk ikut berkarya, meski bukan dari latar seni.

Model seperti ini patut dirawat sebagai praktik kebudayaan yang inklusif.

-000-

Menutup dengan Kontemplasi: Apa yang Kita Buang, Apa yang Kita Hilangkan

Limbah tekstil adalah sisa yang terlihat.

Namun ada sisa lain yang lebih sunyi, yaitu pengalaman perempuan yang dianggap biasa, lalu menguap tanpa catatan.

Penawati menjahit kain perca, tetapi juga menjahit ingatan.

Ia mengikatkan kembali yang tercecer, antara tradisi dan kontemporer, antara rumah dan galeri, antara kerja kecil dan makna besar.

Ia berencana menggelar pameran tunggal di Ubud tahun depan.

Rencana itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya adalah pernyataan, bahwa karya dari sisa pun layak mendapat tempat.

Di tengah dunia yang tergesa, kisah ini mengajarkan pelajaran yang pelan.

Bahwa sesuatu yang rapuh bisa menjadi kuat ketika dirawat, dan sesuatu yang kecil bisa menjadi penting ketika dipahami.

Seperti kutipan yang sering diulang karena selalu menemukan konteks baru.

“Kita tidak melihat dunia sebagaimana adanya, kita melihat dunia sebagaimana diri kita adanya.”