Latihan yoga berpotensi membantu orang dewasa yang kelebihan berat badan atau obesitas memperbaiki beberapa aspek kesehatan kardiometabolik, terutama tekanan darah. Temuan ini dilaporkan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada 22 April di jurnal akses terbuka PLOS Global Public Health, dipimpin Widya Wasityastuti dari University of Edinburgh, Skotlandia, bersama rekan.
Yoga dikenal sebagai bentuk olahraga yang lembut dan relatif mudah diakses. Untuk menilai manfaatnya secara lebih sistematis, para peneliti melakukan meta-analisis terhadap 30 penelitian yoga yang menilai sejumlah indikator kardiometabolik, termasuk tekanan darah, profil lipid, homeostasis glukosa, penanda peradangan, serta ukuran antioksidan.
Analisis tersebut berfokus pada studi yang melibatkan partisipan dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 23 untuk negara-negara Asia dan di atas 25 untuk negara-negara lain—batas yang digunakan untuk mengindikasikan kelebihan berat badan atau obesitas. Dari 30 penelitian yang ditinjau, 23 dilakukan di negara-negara Asia, sementara sisanya berasal dari Amerika Serikat, Jerman, dan Australia.
Dari total 2.689 peserta dalam 30 penelitian itu, peneliti menemukan bahwa kelompok yang berlatih yoga menunjukkan penurunan tekanan darah yang bermakna. Rata-rata tekanan darah sistolik turun 4,35 mmHg, sedangkan tekanan darah diastolik turun 2,06 mmHg.
Selain tekanan darah, meta-analisis juga menemukan efek yang menguntungkan pada lipoprotein densitas rendah (LDL) dan lipoprotein densitas tinggi (HDL), dua jenis kolesterol yang dikaitkan dengan risiko stroke.
Meski demikian, para penulis menekankan sejumlah keterbatasan. Studi-studi yang dianalisis tidak secara khusus merekrut orang dengan obesitas, dan tidak ada pengukuran dosis-respons sehingga belum dapat dipastikan berapa banyak yoga yang diperlukan untuk menghasilkan efek tersebut. Namun, penelitian yang ditinjau cenderung menggunakan latihan setidaknya 180 menit per minggu.
Penelitian ini juga didominasi peserta dari Asia, sementara praktisi dengan penyakit penyerta dikeluarkan dari analisis. Karena sifat meta-analisis ini, hubungan sebab-akibat tidak dapat dipastikan meskipun ada korelasi antara latihan yoga dan perbaikan indikator kesehatan.
Peneliti menyatakan bahwa riset lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah manfaat serupa juga berlaku pada populasi lain serta pada orang dengan penyakit penyerta seperti diabetes atau penyakit jantung. Namun, mereka menilai temuan meta-analisis ini mendukung potensi yoga sebagai opsi tambahan untuk meningkatkan beberapa aspek kesehatan kardiometabolik pada orang dewasa yang kelebihan berat badan atau obesitas, khususnya tekanan darah.
Dalam kesimpulannya, para penulis menyebut tinjauan mereka menunjukkan yoga “mungkin menawarkan pilihan tambahan yang bermanfaat” untuk meningkatkan aspek tertentu kesehatan kardiometabolik, dan menambahkan bahwa yoga yang kerap dipandang sebagai praktik kesejahteraan juga dapat mendukung hasil kesehatan kardiometabolik tertentu pada kelompok tersebut.

