BERITA TERKINI
Model Fashion Berbasis AI Seraphine Velora dan Pergeseran Cara Budaya Digital Memaknai Tubuh

Model Fashion Berbasis AI Seraphine Velora dan Pergeseran Cara Budaya Digital Memaknai Tubuh

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di industri fashion kian melampaui urusan inovasi teknologi atau efisiensi produksi. Kemunculan AI-generated fashion models seperti Seraphine Velora menunjukkan pergeseran kultural yang lebih luas: tubuh tidak lagi terutama dipahami sebagai pengalaman biologis, melainkan sebagai konstruksi simbolik yang diproduksi dan diedarkan dalam budaya digital.

Dalam kerangka ini, tubuh berfungsi sebagai “teks budaya” yang dibentuk melalui sistem representasi dan simulasi. Pembacaan tersebut dapat dijelaskan melalui gagasan representasi Stuart Hall serta konsep simulasi dan hiperrealitas dari Jean Baudrillard, yang menyoroti bagaimana citra digital dapat membangun makna, bahkan menggantikan rujukan pada realitas fisik.

Menurut Hall (1997), representasi bukan cermin netral yang memantulkan realitas. Ia bekerja dalam ranah wacana budaya, di mana makna dibentuk lewat bahasa, citra, dan sistem tanda. Di industri fashion, tubuh selama ini menjadi medium utama untuk merepresentasikan nilai—mulai dari kecantikan, status sosial, hingga eksklusivitas. Namun, model fashion berbasis AI mendorong praktik itu ke tahap yang lebih jauh, karena yang ditampilkan bukan tubuh manusia tertentu, melainkan tubuh ideal yang dikonstruksi melalui kode-kode visual yang sudah mapan dalam budaya fashion global.

Seraphine Velora, sebagai identitas digital, beroperasi dalam sistem pemaknaan (signifying system) yang memproduksi arti tentang feminitas, kemewahan, dan kesempurnaan visual. Karena tidak merujuk pada tubuh biologis tertentu, representasi ini terlepas dari pengalaman tubuh nyata, tetapi tetap memiliki daya simbolik. Dalam konteks tersebut, tubuh AI bukan hanya objek estetika, melainkan juga instrumen ideologis yang dapat menormalisasi standar kecantikan tertentu di ruang digital.

Penguatan terhadap representasi semacam ini terjadi dalam budaya media sosial yang digerakkan algoritma. Studi Firmansyah, Muttaqin, dan Hidayah (2024) menyoroti bahwa fashion dalam budaya digital kontemporer kerap berfungsi sebagai tanda eksistensi dalam ruang simulasi, bukan semata kebutuhan fungsional. AI-generated fashion models memperkuat kecenderungan itu melalui tubuh yang sepenuhnya terkendali, konsisten, dan bebas dari ketidaksempurnaan biologis. Akibatnya, tubuh manusia dengan keragaman dan keterbatasannya berpotensi semakin tersisih oleh representasi digital yang lebih stabil dan mudah dikomodifikasi.

Di titik ini, pemikiran Baudrillard (1994) mengenai simulasi dan hiperrealitas menjadi relevan. Ia menyatakan bahwa dalam masyarakat kontemporer, tanda-tanda tidak lagi sekadar merepresentasikan realitas, tetapi dapat mendahului dan menggantikannya. AI-generated fashion models dapat dipahami sebagai simulacrum: entitas simulatif yang tidak meniru realitas, melainkan menciptakan realitas baru yang berjalan otonom. Dalam kondisi hiperrealitas, citra digital tidak lagi dipandang sebagai tiruan, melainkan versi realitas yang dianggap lebih sempurna dan lebih diinginkan.

Fenomena ini turut diperkuat oleh praktik naratif di budaya digital. Model fashion berbasis AI tidak hanya hadir sebagai gambar, tetapi juga sebagai persona lengkap dengan gaya hidup dan identitas yang dikurasi. Audiens kemudian mengonsumsi pengalaman visual—yang dapat bersifat afektif—tanpa harus mempertanyakan keberadaan tubuh biologis di baliknya. Sejalan dengan studi Alwan, Pienrasmi, dan Poyo (2025), representasi digital dapat membentuk keterikatan emosional dan persepsi identitas yang terasa autentik, meskipun sepenuhnya simulatif.

Pada saat yang sama, AI-generated fashion models mencerminkan bentuk ekstrem komodifikasi tubuh dalam kapitalisme digital. Riset tentang influencer culture dan iklan digital menunjukkan tubuh menjadi medium utama sirkulasi nilai ekonomi dan simbolik (Shajith dan Bhuvaneswari, 2023). Dalam konteks model AI, bukan hanya tubuh yang dikomodifikasi, tetapi juga identitas yang sepenuhnya dilepaskan dari agensi manusia. Tidak ada kerja afektif, tidak ada risiko sosial, dan tidak ada resistensi tubuh—yang tersisa adalah citra yang dapat direproduksi dan dimodifikasi tanpa batas sesuai kepentingan industri.

Dari pembacaan budaya, tubuh AI memunculkan paradoks dalam budaya digital kontemporer. Di satu sisi, ia menjanjikan efisiensi, kreativitas, dan inovasi visual. Di sisi lain, ia memperlihatkan kecenderungan yang semakin memprioritaskan simulasi dibanding pengalaman tubuh manusia secara nyata. Dengan menggabungkan perspektif Hall dan Baudrillard, AI-generated fashion models seperti Seraphine Velora dapat dipahami bukan sekadar tren industri fashion, melainkan gejala budaya yang menandai perubahan cara masyarakat digital memaknai tubuh, identitas, dan realitas.