BERITA TERKINI
MRG Records di Serpong Menjaga Pesona Rilisan Musik Fisik di Tengah Era Streaming

MRG Records di Serpong Menjaga Pesona Rilisan Musik Fisik di Tengah Era Streaming

Di tengah dominasi layanan streaming digital, rilisan musik fisik seperti piringan hitam, kaset, dan CD masih memiliki tempat tersendiri bagi sebagian penikmat musik. Bagi mereka, mendengarkan lagu tidak hanya soal suara, tetapi juga pengalaman memiliki karya secara utuh. Semangat itu yang dijaga MRG Records, toko rilisan fisik yang berlokasi di kawasan Park BSD Nusa Loka, Serpong, Tangerang Selatan.

MRG Records dimiliki Geren, yang akrab disapa Mas Ger. Berawal dari kegemarannya mendengarkan musik lawas era 60-an hingga 90-an, ia mengoleksi rilisan fisik untuk kebutuhan pribadi. Seiring waktu, koleksinya bertambah dan menarik minat orang lain, hingga berkembang menjadi usaha yang telah bertahan lebih dari satu dekade.

“Awalnya memang dari hobi mendengarkan musik lama. Dari koleksi pribadi, lama-lama jadi banyak dan akhirnya mulai dijual. Ternyata responsnya bagus sampai bisa berjalan terus sampai sekarang,” ujar Mas Ger.

MRG Records telah berdiri sekitar 10 hingga 11 tahun. Pada 2023, toko ini sempat membuka lapak fisik di Basement Blok M Square, Jakarta. Namun, karena koleksi yang terus bertambah dan pertimbangan efisiensi jarak, Mas Ger memindahkan operasional ke rumahnya di Serpong, memanfaatkan ruang kosong sebagai toko sekaligus tempat penyimpanan koleksi.

Saat ini, penjualan lebih banyak dilakukan secara online melalui Instagram dan WhatsApp. Meski demikian, pelanggan masih bisa datang langsung untuk melihat koleksi dengan sistem reservasi terlebih dahulu.

Mas Ger menilai rilisan fisik menawarkan pengalaman berbeda dibanding platform digital seperti Spotify atau Apple Music. Selain kualitas audio yang dicari sebagian pendengar, kolektor juga menikmati sisi artistik album melalui artwork, booklet, serta informasi yang tercantum pada kemasan.

“Kalau streaming tinggal klik dan semua lagu tersedia. Tapi rilisan fisik punya rasa kepemilikan tersendiri. Kita bisa lihat artwork, baca informasi albumnya, dan ada kebanggaan saat memilikinya,” jelasnya.

Menurutnya, tren mengoleksi rilisan fisik juga mulai diminati generasi muda, termasuk Gen Z. Mereka disebut penasaran dengan musik nostalgia, termasuk lagu-lagu yang dulu kerap diputar orang tua di rumah.

“Sekarang anak muda juga mulai banyak yang cari vinyl, kaset, atau CD. Mereka penasaran sama musik lama dan mulai menikmati pengalaman koleksi itu sendiri,” katanya.

MRG Records dikenal memiliki koleksi rilisan musik Indonesia yang cukup lengkap, mulai dari pop kreatif lawas, dangdut, keroncong, hingga rilisan indie modern. Mas Ger menyebut kelengkapan musik Indonesia menjadi pembeda tokonya dibanding sejumlah toko rilisan fisik lain.

“Kalau toko lain biasanya koleksi musik Indonesianya tidak terlalu banyak. Kebetulan saya memang suka musik Indonesia, jadi koleksinya cukup lengkap,” ujar Mas Ger.

Adapun genre yang paling banyak dicari pelanggan saat ini disebut masih didominasi pop rock dan indie. Sejumlah nama seperti Oasis, Green Day, U2, The Cure, Gorillaz, hingga band indie Indonesia seperti White Shoes & The Couples Company dan Rumah Sakit termasuk rilisan yang kerap diburu.

Meski minat pasar terlihat tetap ada, Mas Ger menyebut bisnis rilisan fisik memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam mencari barang koleksi yang jumlahnya terbatas dan tidak selalu mudah ditemukan.

“Tantangan paling besar itu mencari barangnya. Karena rilisan fisik tidak selalu diproduksi ulang, jadi harus benar-benar telaten mencarinya satu per satu,” ungkapnya.

Ke depan, ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang menghargai rilisan fisik sebagai bagian dari budaya musik dan sejarah karya para musisi.