Musik dinilai mampu menjadi penggerak pembangunan kota yang berkelanjutan di era global. Perannya tidak hanya terbatas pada sektor budaya, tetapi juga berdampak pada aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Direktur Ambon Music Office sekaligus Focal Point of Ambon UNESCO City of Music, Ir. Ronny Loppies, dalam Dialog Malang Menyapa di RRI Malang, Sabtu (7/2/2026). Ia menyebut, salah satu indikator penting dalam pengakuan sebuah kota sebagai kota musik adalah inovasi kurikulum.
Menurutnya, musik tradisional dapat dijadikan pembelajaran wajib di sekolah percontohan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Pendekatan ini dinilai memperkuat peran musik dalam membentuk nilai dan identitas generasi muda.
Selain pendidikan, musik juga dikaitkan dengan pelestarian lingkungan melalui program-program kreatif. Salah satunya konsep Sound of Green, yang menghubungkan aktivitas musik dengan upaya menjaga alam.
“Tanaman seperti kayu dan bambu dijaga karena menjadi bahan baku alat musik tradisional. Di sini musik ikut menggerakkan kesadaran lingkungan,” kata Ronny.
Ia menilai pendekatan tersebut relevan dengan kebutuhan dunia saat ini, ketika pembangunan kota dituntut berjalan selaras dengan pelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan.

