BERITA TERKINI
Ndarboy Genk Rilis Singel “SEKIP”, Cerita Perubahan Pop Jawa dan Perjalanan Mabes Balker di Bantul

Ndarboy Genk Rilis Singel “SEKIP”, Cerita Perubahan Pop Jawa dan Perjalanan Mabes Balker di Bantul

Ndarboy Genk resmi merilis singel baru berjudul “SEKIP (Setia Kui Pekok)” pada 19 Mei 2026 di platform streaming musik. Sepekan sebelum peluncuran, musisi bernama Helarius Daru Indrajaya itu menggelar acara “Guyub bareng Musisi Yogyakarta” di Mabes Balker, Bantul, dalam kegiatan yang bekerja sama dengan Believe Indonesia dan KRUMULO.

Di Mabes Balker—ruang yang juga kerap dipakai untuk produksi konten Mabes Balker Music—Daru bercerita tentang awal mula lokasi tersebut. Ia mengatakan kawasan itu dulunya berupa hutan dan termasuk wilayah yang dulu kurang diminati untuk investasi tanah di Bantul. Daru menyebut tempat itu berada di area Gunung Gunting, dan pilihannya membangun di selatan Yogyakarta berkaitan dengan gagasan “Makaryo Bangun Deso”, yang ia jelaskan sebagai berkarya untuk membangun desa dan dari desa.

Daru menuturkan, saat ia memperoleh lahan sekitar lima tahun lalu, harga tanah masih sekitar Rp150.000 per meter. Menurutnya, setelah Mabes Balker berdiri, minat terhadap tanah di wilayah itu meningkat dan harga kini disebut sudah menyentuh sekitar Rp1.000.000 per meter.

Alasan memilih Bantul, kata Daru, juga terkait lingkungan kreatif di sekitarnya. Ia menyebut wilayah tersebut memiliki potensi seni lokal seperti batik yang berpameran ke luar negeri, keris, serta berbagai kerajinan yang diproduksi warga setempat. Dalam konteks itu, Daru melihat daerah tersebut sebagai “kampung seniman” yang sebelumnya belum memiliki ruang khusus untuk musik, sehingga Ndarboy Genk memilih menetap dan membangun aktivitasnya di sana. Ia juga menyebut jarak Mabes Balker dari rumahnya sekitar 15 menit.

Karier Ndarboy Genk sebagai musisi produktif, menurut Daru, sudah dimulai sejak 2010—sekitar 11 tahun sebelum perilisan “Mendung Tanpo Udan”. Lagu tersebut kini telah diputar lebih dari 68 juta kali di layanan streaming musik.

Dalam perbincangan, Daru menilai perubahan besar yang ia rasakan di ekosistem musik saat ini adalah semakin cairnya batas genre di kalangan pendengar. Ia menggambarkan, jika dulu komunitas musik cenderung terkotak-kotak, kini pergaulan dan selera lebih beragam. Ia menyebut hal itu turut memengaruhi langkahnya untuk tidak hanya berada di posisi penyanyi, tetapi juga belajar menjadi produser.

Daru menjelaskan, ia mengembangkan beberapa kanal dan wadah kerja melalui Mabes Balker Music dan BoyCord. Mabes Balker Music ia sebut memuat sesi live dengan tagline “Musiknya Indonesia” dan menghadirkan ragam lagu daerah, dari campursari dan dangdut hingga lagu-lagu dari berbagai wilayah. Sementara BoyCord ia gambarkan sebagai kanal label untuk artis yang membutuhkan wadah distribusi karya, dengan fokus pada lagu original lintas genre.

Ketika ditanya apakah musik Jawa kini lebih menjadi hiburan, identitas, atau tanggung jawab, Daru menyebut ada unsur tanggung jawab. Ia menyinggung akar rumput pop Jawa yang menurutnya turut dipopulerkan oleh almarhum Didi Kempot dan almarhum Manthous, dan ia melihat generasinya perlu konsisten agar industri pop Jawa dan dangdut terus berjalan seiring munculnya musisi-musisi baru.

Mengenai perubahan pola konsumsi musik, Daru menilai kehadiran platform shortform seperti TikTok dan Reels menggeser urutan persebaran lagu. Ia menggambarkan, jika dulu lagu ramai di format panjang lebih dulu lalu menyebar ke media sosial, kini sering kali sebaliknya: viral di shortform lebih dulu, baru kemudian orang mencari versi longform. Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian audiens yang hanya mendengarkan potongan di media sosial tanpa melanjutkan ke platform streaming atau video panjang, termasuk minimnya interaksi seperti like, share, dan komentar.

Daru juga membandingkan jalur karier musisi masa kini dengan pengalamannya dulu. Ia menyebut pernah membangun popularitas dari panggung-panggung lokal seperti hajatan, sementara kini musisi yang viral bisa cepat mendapat tawaran panggung dengan bayaran tinggi, terutama jika didukung proyek, kampanye, dana, dan promosi yang terstruktur.

Soal penerimaan pop Jawa di luar basis kultur, Daru mengatakan momen penting baginya terjadi saat tampil di luar Jawa—seperti di Jawa Barat dan Jakarta—hingga tur ke luar pulau dan luar negeri. Ia menyebut respons penonton, termasuk mereka yang ikut bernyanyi atau menari meski tidak sepenuhnya mengenal lagu, menjadi energi untuk terus mengembangkan kualitas musik dan penampilan, bukan sekadar mengandalkan viralitas. Ia juga mengaitkan pengalaman itu dengan pandangannya bahwa orang Jawa ada di berbagai tempat, termasuk para perantau di Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Papua, dan Kalimantan.

Dalam karya, Daru menyebut lagu-lagu Ndarboy Genk banyak berangkat dari kehidupan sehari-hari dan pengalaman nyata. Ia mengakui ada lagu-lagu bertema patah hati yang mengikuti arus industri, namun ia menegaskan upaya untuk tetap merilis lagu yang menyuarakan keseharian dan “suara kerakyatan”, terutama bagi para pekerja keras. Ia menilai tema lagu juga bertumbuh mengikuti fase hidupnya, dari perjuangan menuju sukses hingga persoalan pekerjaan dan keluarga.

Di tengah ramainya musik Jawa, Daru menilai kesalahpahaman terhadap pop Jawa dan pendengarnya kini semakin berkurang. Ia menyebut pelaku pop Jawa sudah diterima lebih baik oleh industri dan masyarakat, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus tampil dengan stereotip tertentu. Ia mencontohkan perubahan cara tampil di panggung—dari yang identik dengan busana tertentu hingga tampil kasual—yang menurutnya tetap bisa diterima, termasuk di festival-festival besar. Ia menambahkan, jika masih ada yang melabeli “ndeso”, ia menganggapnya bagian dari perjalanan yang memang berangkat dari desa.

Terkait kemungkinan industri mengharapkan “formula” tertentu dari Ndarboy Genk, Daru menyatakan tidak takut kehilangan identitas. Ia melihat peniruan formula sebagai konsekuensi ketika karya menjadi barometer, sekaligus menjadi tekanan untuk terus menghadirkan sesuatu yang lebih baru tanpa menghilangkan karakter.

Daru juga mengatakan ia tidak merilis lagu berdasarkan keraguan yang semata-mata mengikuti pasar. Ia menekankan proses kreatif yang banyak bertumpu pada perasaan, dan menyebut beberapa lagu lahir secara organik tanpa kampanye promosi yang terstruktur. Menurutnya, viralitas adalah “gift” yang muncul dari dukungan dan kebanggaan pendengar terhadap bahasa dan keseharian yang terasa dekat.

Di sisi personal, Daru menyebut beberapa hal berubah setelah dikenal luas, terutama karena bertambahnya peran dan tanggung jawab—sebagai ayah di rumah, pencipta saat sendiri, pemimpin tim di kantor, dan penyanyi di panggung. Ia mengungkap pernah mengalami anxiety sekitar dua tahun dan sempat tidak berani membicarakannya, hingga akhirnya merasa lebih terbantu setelah berbagi dengan teman-teman. Ia juga menyinggung pelajaran untuk tidak memaksakan semuanya dikejar sekaligus.

Ia menggambarkan fase awal popularitas sebagai masa yang menuntut penyesuaian emosi setelah tampil, termasuk kecenderungan menahan masalah agar tidak memicu situasi yang bisa viral. Menurutnya, hal itu bisa menumpuk menjadi beban, dan ia memilih kembali menjadi dirinya sendiri: diterima atau tidak, ia menganggap selalu ada pilihan lain bagi orang untuk disukai.

Untuk referensi bermusik, Daru menyebut almarhum Didi Kempot sebagai figur yang terus ia jadikan rujukan, bersama Manthous dan Waldjinah, terutama ketika mengalami kebuntuan ide.

Saat membahas harapan bagi generasi muda yang ingin menekuni musik, Daru menekankan pentingnya memahami cara “delivery” karya di era digital, termasuk aspek industri agar terhindar dari masalah seperti pencurian digital. Ia juga menyebut ragam profesi di ekosistem musik yang bisa ditekuni, dari produser dan pencipta lagu hingga session player, manajer, content creator, dan creative director.

Ke depan, Daru mengatakan ia ingin menjadi produser yang baik dan membangun label musik dari Yogyakarta yang dikenal di Indonesia, dengan kontrak yang dinilai baik dan menguntungkan bagi artis serta manajemen. Ia menambahkan, menurut pandangannya, label bisa menjadi pilihan ketika musisi tidak bisa berjalan sendiri, dengan catatan label tersebut dijalankan secara sehat bagi seniman.

Ketika ditanya ingin dikenang sebagai apa, Daru menjawab sederhana: “penyanyi Jawa.” Ia juga menyebut ketertarikannya agar unsur Jawa dapat dikemas dalam berbagai genre dengan benang merah bahasa daerah, termasuk keragaman dialek seperti Ngapak.