Seorang perempuan berusia 83 tahun, Merrywati Peruba, membawa grup angklung Gita Pundarika NSI meraih juara pertama kategori umum dalam ajang Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH) 2026. Kompetisi yang diselenggarakan PT Astra Honda Motor (AHM) ini diikuti sekitar 1.700 peserta dan menjadi ruang kolaborasi untuk mengekspresikan musik angklung secara modern sekaligus menjaga warisan budaya.
Merrywati telah aktif bermain angklung bersama Gita Pundarika NSI sejak 1979. Dalam PASH, ia tampil bersama 39 pemain angklung lain yang rata-rata berusia lebih dari setengah abad. Mereka membawakan lagu Donau Wellen dan dinilai mampu memikat perhatian dewan juri hingga mengantarkan tim asal DKI Jakarta itu menjadi pemenang kategori umum.
“Bermain angklung menjadi salah satu cara untuk memperkuat daya ingat, memberikan kenyamanan dan perasaan bahagia. Dari angklung kita belajar pentingnya kerjasama guna menghasilkan melodi yang indah dan harmonis. Ajang PASH bagi kami adalah ruang untuk berkreasi sekaligus mengekspresikan hobi bermusik,” ujar Merrywati pekan lalu di sela-sela kompetisi. Final PASH berlangsung pada Kamis (5/2/2026).
Selain kategori umum, AHM juga memberikan apresiasi kepada pemenang dari tiga kategori kelompok lain, yakni Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Para pemenang disebut berhasil menyisihkan ribuan peserta dari 21 kabupaten dan kota di Indonesia. AHM juga memilih dua tim angklung terfavorit berdasarkan perhatian netizen di media sosial.
Selama kompetisi, peserta menampilkan beragam genre musik, mulai dari musik daerah, lagu anak-anak, hingga lagu dari original soundtrack film. General Manager Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin mengatakan hal ini menunjukkan angklung dapat berpadu dengan berbagai jenis musik.
“Ini membuktikan angklung mampu berpadu dengan berbagai jenis musik. Teknik permainan musik, kreativitas aransemen hingga estetika dalam penampilan menjadi poin utama penilaian,” kata Muhibbuddin. Ia juga mengapresiasi antusiasme peserta dalam menjaga warisan budaya angklung yang telah dikukuhkan UNESCO lebih dari dua dekade, serta menilai kreativitas yang dipengaruhi media sosial dapat menjadi alat komunikasi lintas generasi.
Dalam rangkaian PASH, AHM turut memberikan pembekalan melalui program Astra Honda Berbagi Ilmu (AHBI). Materi yang diberikan mencakup seni dan ilmu angklung, teknik olah vokal, digitalisasi alat musik tradisional, serta teknik pembuatan konten di media sosial untuk menarik perhatian masyarakat.
Salah satu peserta, Elsa, guru SDN Sunter Agung 13 Pagi Jakarta yang menjadi pemenang kategori SD, menyebut ajang ini memberi kesempatan belajar sekaligus memperluas jejaring. “Saya bangga menjadi bagian dari ajang PASH, kami mendapat banyak ilmu serta bisa berjejaring dengan peserta dari daerah lain. Melestarikan alat musik tradisional menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik dalam meneruskan kecintaan budaya ke peserta didik,” ujarnya.
AHM juga menyoroti angklung sebagai warisan budaya dunia yang dinilai merepresentasikan nilai keberlanjutan karena terbuat dari bambu. Melalui kompetisi ini, AHM berharap angklung terus hidup, berkembang, dan tetap relevan, terutama di tangan generasi muda, sebagai simbol harmoni, kolaborasi, dan kebanggaan budaya Indonesia.

