Arus mudik Lebaran kembali menjadi tantangan besar karena lonjakan volume kendaraan dibanding hari-hari biasa. Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, menilai pengelolaan mudik tidak cukup hanya mengandalkan penambahan jalan tol, melainkan perlu dibarengi pembenahan jalur arteri agar pemudik memiliki pilihan rute alternatif yang setara dari sisi keamanan dan kenyamanan.
Djoko memaparkan, mobil pribadi masih menjadi moda favorit pemudik, mencapai 76,24 juta orang atau 52,98 persen. Sementara pada kategori transportasi umum, bus menjadi pilihan paling banyak digunakan, yakni 23,34 juta orang atau 16,22 persen. Dari pemudik yang menggunakan mobil pribadi, sebanyak 50,63 juta orang atau 66,40 persen memilih melintasi jalan tol, sehingga kemacetan parah dinilai sulit dihindari.
Menurut Djoko, Tol Trans-Jawa tetap menjadi primadona karena dianggap sebagai jalur tercepat. Namun, popularitas ini perlu diimbangi pengelolaan yang matang untuk mencegah penumpukan ekstrem di titik-titik kritis. Ia menjelaskan, masyarakat memilih jalan tol demi kenyamanan dan keamanan meski risiko macet tetap tinggi saat mudik. Sebaliknya, jalur alternatif menuntut kewaspadaan lebih karena kepadatan sepeda motor serta minimnya rambu dan penerangan.
Meski tol menjadi pilihan utama, Djoko menyebut kepadatan ekstrem saat Lebaran sering kali tak terhindarkan. Ia menilai pemudik sebenarnya memiliki alternatif seperti Jalur Pantura maupun Jalur Pansel. Pada momen tertentu, jalur arteri dapat menawarkan durasi perjalanan yang lebih terukur dan terhindar dari kemacetan panjang di tol, meski pasar tumpah masih menjadi salah satu gangguan kelancaran lalu lintas.
Ia juga menyoroti keterbatasan konektivitas utara-selatan yang membuat Jalur Pantura tetap menjadi tumpuan, terlebih dengan belum rampungnya Tol Bocimi dan Tol Cigatas. Di sisi lain, kehadiran Tol Cisumdawu disebut membantu mengurangi beban Tol Cipali dan Cipularang, khususnya bagi pemudik dari Bandung menuju Jawa Tengah dan sekitarnya.
Djoko menilai anggapan bahwa tol selalu lebih cepat justru memicu penumpukan kendaraan yang melampaui kapasitas. Kondisi itu diperparah oleh rest area yang pada dasarnya dirancang untuk situasi normal, sehingga saat Lebaran kerap kewalahan menampung lonjakan pemudik dan berubah menjadi titik penyumbat arus yang memicu kemacetan baru.
Karena itu, ia mendorong Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) memperkuat fasilitas rest area, terutama dengan penambahan toilet secara masif dan memberi prioritas pada toilet perempuan untuk mengurangi antrean. Ia juga menilai pembangunan rest area tambahan darurat yang berfokus pada kebutuhan dasar sanitasi menjadi langkah penting untuk menjaga kelancaran arus di dalam tol.
Selain di dalam tol, Djoko menyarankan penyediaan rest area di luar jalan tol yang dekat pintu keluar atau gerbang tol untuk menghentikan kebiasaan berbahaya beristirahat di bahu jalan. Ia mengingatkan bahu jalan bukan tempat istirahat, melainkan jalur steril untuk kondisi darurat, sehingga keberadaan alternatif tempat beristirahat dinilai dapat menekan risiko penyempitan jalur.
Djoko menekankan pentingnya sinergi BUJT dan pemerintah daerah dalam menghadirkan tempat istirahat sementara di dekat pintu keluar tol. Ia mencontohkan Tol Salatiga, di mana sekitar 500 meter dari gerbang tol tersedia rumah makan dan SPBU yang luas. Agar efektif, informasi fasilitas di luar tol tersebut diharapkan terintegrasi secara real-time ke dalam aplikasi Travoy.
Ia juga menyinggung meningkatnya tren mobil listrik yang menuntut BUJT menyediakan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di titik-titik strategis ruas tol. Di sisi lain, sirkulasi rest area dinilai perlu dijaga melalui petugas parkir yang tegas menerapkan batas waktu istirahat maksimal 30 menit saat kondisi padat. Aspek keamanan tetap menjadi prioritas melalui peningkatan patroli serta kesiagaan mobil derek gratis hingga pintu keluar terdekat.

