PTPN IV PalmCo, subholding PTPN III (Persero), meresmikan Pondok Rangkul sebagai ruang pemulihan trauma bagi warga terdampak banjir di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Senin (22/12/2025). Fasilitas ini dihadirkan sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana dengan penekanan pada aspek psikososial masyarakat.
Dalam siaran pers perusahaan yang diterbitkan Selasa (23/12/2025), disebutkan Pondok Rangkul dibangun di kawasan Kebun Hapesong. Pondok tersebut dirancang sebagai ruang aman bagi anak-anak, ibu, dan keluarga untuk memulihkan luka batin setelah melewati masa bencana. Meski sederhana, tempat ini disebut mulai menjadi ruang berkumpul warga, termasuk untuk bermain, berbagi cerita, dan saling menguatkan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan pengalaman penanganan bencana menunjukkan pemulihan tidak dapat berhenti pada bantuan fisik. Menurutnya, pemulihan mental dan emosional merupakan bagian penting dari proses bangkit pascabencana.
“Pondok Rangkul kami hadirkan sebagai ruang untuk bertumbuh bersama dan saling menguatkan. Pemulihan pascabencana harus menyentuh keutuhan manusia, bukan hanya rumah dan infrastruktur,” ujar Jatmiko.
Ia menambahkan, pendekatan psikososial tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan perusahaan. Karena itu, Pondok Rangkul tidak dirancang sebagai program jangka pendek, melainkan sebagai ekosistem pemulihan yang berkelanjutan dan berbasis komunitas.
Dalam pelaksanaannya, PalmCo menggandeng Yayasan Pulih yang berpengalaman dalam pendampingan psikososial pascabencana. Direktur Yayasan Pulih, psikolog Livia Istania DF Iskandar, menjelaskan bahwa Pondok Rangkul menjadi ruang ramah bagi warga untuk memulihkan diri secara bertahap.
“Pemulihan mental, emosi, dan jiwa membutuhkan waktu serta kesinambungan. Melalui ruang yang aman, anak-anak dan orang tua dapat mengekspresikan perasaan, belajar kembali rasa aman, serta membangun ketahanan psikologis,” kata Livia.
Program pemulihan yang dijalankan meliputi psychological first aid (PFA), kegiatan pemulihan trauma anak, pendampingan bagi ibu dan keluarga, penyediaan ruang bermain edukatif, hingga sesi pemulihan berbasis komunitas. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut direncanakan berlangsung selama enam bulan.
Peresmian Pondok Rangkul diawali dengan peninjauan Direktur Utama PalmCo ke sejumlah fasilitas pendukung pengungsian, antara lain musala yang difungsikan sebagai ruang aman, klinik darurat, posko tanggap darurat, serta dapur umum. Peninjauan dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi seiring dimulainya fase pemulihan.
Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Nelwan Harahap, mengapresiasi kolaborasi antara dunia usaha dan lembaga profesional dalam program tersebut. Ia menilai pemulihan pengungsi tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat.
“Sinergi seperti ini penting agar penanganan bencana menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar, termasuk kesehatan mental dan sosial masyarakat,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari tingkat desa. Kepala Desa Lobu Uhom menyampaikan bahwa kehadiran Pondok Rangkul dirasakan warganya. “Anak-anak kembali tersenyum, para ibu merasa didengar, dan warga memiliki tempat untuk saling menguatkan. Ini sangat berarti bagi kami,” katanya.
Nuansa pemulihan turut mengemuka saat peresmian Pondok Rangkul dirangkaikan dengan peringatan Hari Ibu. Dalam suasana dialog, Jatmiko berdiskusi dengan para ibu dan anak-anak mengenai pengalaman mereka melewati masa bencana. Lebih dari 200 anak mengikuti kegiatan tersebut dalam berbagai aktivitas yang ditujukan untuk menumbuhkan kembali rasa aman dan kebahagiaan.
Menutup rangkaian acara, Jatmiko menyatakan Pondok Rangkul diharapkan menjadi titik awal kebangkitan kembali kehidupan warga Batangtoru. “Ruang ini menjadi simbol bahwa tidak ada yang sendirian menghadapi masa sulit. Dari sini, kami berharap pemulihan dapat tumbuh dan berlanjut,” ujarnya.

