Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 memasuki fase puncak bertajuk Bagi, setelah sebelumnya melalui fase Rawat dan Panen yang berisi residensi, penelitian, serta dokumentasi para peserta. Pada fase Bagi, karya-karya tersebut dibagikan kepada publik melalui berbagai pameran di sejumlah titik di Jakarta, disertai agenda lain seperti tur, perjamuan, pergelaran, konferensi, lokakarya, penerbitan, gelar wicara, dan instalasi yang dapat dinikmati gratis.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Hilmar Farid, menyebut PKN 2023 mengusung konsep Ruang Tamu. Konsep ini diharapkan memantik percakapan tidak hanya antar pelaku budaya, tetapi juga di tengah masyarakat. Ruang tamu PKN disebut tersebar di 40 titik di Jakarta, dengan empat ruang tamu utama sebagai etalase fase Bagi, antara lain Galeri Nasional Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional, PT Produksi Film Negara (Persero), dan M Bloc Space.
“Lokasi tersebut diharapkan bisa jadi tempat berkumpul, berdiskusi, bercengkrama untuk jadi titik awal kolaborasi panjang dan berkelanjutan di masa depan,” kata Hilmar.
Salah satu lokasi yang menampilkan karya seni rupa dalam rangkaian PKN 2023 adalah Rubanah Underground, Jakarta. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat karya-karya seniman multidisiplin yang berangkat dari riset dan penelitian. Salah satunya berupa instalasi kain tile tembus pandang dengan torehan warna merah membentuk sosok berpelukan, yang disusun menyerupai labirin.
Instalasi tersebut menjadi bagian dari pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi”, sebuah proyek yang menghadirkan interpretasi atas karya sastrawati S. Rukiah. Pameran ini diinisiasi Jurnal Karbon dan merupakan bagian dari rangkaian kuratorial Jejaring, Rimpang, Pekan Kebudayaan Nasional, yang berlangsung hingga 5 November 2023.
Kurator Bagus Purwoadi menjelaskan, “Kejatuhan dan Hati” merupakan satu-satunya novel yang ditulis S. Rukiah. Melalui tokoh utama bernama Susi, novel yang terbit pada dekade 1950-an itu menghadirkan narasi tentang revolusi kemerdekaan yang dinilai berbeda dari banyak karya sastrawan angkatan 45.
Pameran ini melibatkan tiga seniman dan dua kolektif seni lintas disiplin untuk merespons pembacaan terhadap novel tersebut. Selain karya dua dan tiga dimensi, pameran juga menampilkan hasil riset berupa linimasa tentang S. Rukiah dan bentangan revolusi Indonesia yang disusun dari wawancara serta arsip.
Menurut Bagus, pemilihan S. Rukiah sebagai sumber inspirasi dilakukan untuk memperkenalkan kepada generasi muda sosok-sosok sastrawan yang disebutnya “hilang” dalam sejarah akibat persoalan politik, sekaligus sebagai bentuk apresiasi terhadap penyair bernama lengkap Siti Rukiah Kertapati. Bagus juga menyebut novel itu dapat dibaca sebagai semacam otobiografi, karena tokoh Susi ditulis dari perspektif perempuan.
Bagus menambahkan, pemilihan Rukiah juga berangkat dari kedekatan kolektif mereka, Gudskul, yang berada di salah satu tanah milik anak penulis tersebut di Jakarta Selatan. Dari situ, mereka menelusuri sosok Rukiah melalui tiga sesi Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) bersama peneliti dan akademisi.
“Rajutan kelindan yang mengisi pameran ini juga ingin menyalakan kembali semangat S. Rukiah yang sempat dijatuhkan dan kita terus hidupkan benderangnya terutama sebagai inspirasi bagi generasi muda,” kata Bagus.
Respons terhadap novel “Kejatuhan dan Hati” juga hadir dalam bentuk performance art. Koreografer Eyi Lesar menampilkan karya berjudul “Dance With Susi” dengan bereksperimen menggunakan oobleck, medium non-newtonian yang dapat berwujud seperti padat sekaligus cair. Ia menyebut pemilihan oobleck merepresentasikan kehidupan pengarang yang dikenal teguh dalam menyampaikan gagasan, tercermin saat ia menari di atas cairan yang memburai dan tertekan, namun kembali ke wujud semula.
Dalam pertunjukan berdurasi sekitar 40 menit itu, Eyi mengaitkan isu persekusi dengan pengalaman tokoh Susi, termasuk ketika sang protagonis digambarkan harus berhadapan dengan banyak hakim dalam perjalanan menemukan jati dirinya sebagai perempuan. “Momen penghakiman bisa dilihat lewat oobleck yang kalau kita kerasin bakal keras, tapi kalau dilembutin bakal lembut. Jadi, tepung oobleck ini juga jadi bagian dari sifat Susi sekaligus ibu Rukiah sebagai entitas manusia,” ujarnya.
Seniman lain yang terlibat antara lain Azisa Noor, ilustrator asal Bandung yang menyajikan novel S. Rukiah dalam bentuk komik dengan latar peta Purwakarta untuk menggambarkan perjalanan emosional dan spiritual Susi. Ada pula Emmalou Hale yang merespons melalui instalasi kain perca yang dibentuk menjadi beragam simbol. Sementara kolektif Rurukids menghadirkan interpretasi melalui instalasi berbentuk laci dan cermin dengan tulisan-tulisan interaktif.
Melalui pendekatan lintas medium, pameran “Kejatuhan dan Hati” menjadi salah satu ruang di PKN 2023 yang mempertemukan sastra, riset, dan seni rupa dalam upaya membaca kembali karya S. Rukiah melalui perspektif para seniman masa kini.

