BERITA TERKINI
Pengetahuan Nasional Diproyeksikan Jadi Kunci Kebahagiaan Vietnam di Era Kemajuan

Pengetahuan Nasional Diproyeksikan Jadi Kunci Kebahagiaan Vietnam di Era Kemajuan

Masa depan Vietnam di era kemajuan dinilai hanya dapat dicapai jika pengetahuan terus dipupuk, ditransmisikan, dan disebarluaskan ke setiap individu, bisnis, komunitas, hingga tingkat bangsa. Pengetahuan dipandang sebagai masukan utama yang melahirkan sains dan teknologi—dua kekuatan pendorong negara maju.

Gagasan tersebut disampaikan melalui refleksi pengalaman belajar kewirausahaan dan inovasi di Israel pada 2018. Dalam pengalaman itu, Israel digambarkan sebagai contoh kemakmuran berbasis pengetahuan, di mana pengetahuan tidak terbatas pada perpustakaan atau laboratorium, melainkan hadir dan diterapkan di berbagai bidang, profesi, serta organisasi. Pengetahuan disebut berada di tangan petani, di benak insinyur, dalam rasa ingin tahu kreatif anak-anak, dan melekat pada setiap individu.

Selama ribuan tahun, Israel dinilai memegang filosofi nasional bahwa impian membangun bangsa tidak akan terwujud apabila pengetahuan tidak dihubungkan, dilestarikan, dikembangkan, diciptakan, dan ditingkatkan lintas generasi. Pelajaran tersebut kemudian diposisikan sebagai inspirasi bagi Vietnam dalam menata strategi nasional manajemen pengetahuan.

Tahun 2025 disebut sebagai titik balik bagi Vietnam, ketika negara mengidentifikasi sains dan teknologi sebagai pendorong utama memasuki era kemajuan baru. Dalam konteks ini, pengetahuan jutaan orang Vietnam di dalam negeri maupun di seluruh dunia dinilai perlu diidentifikasi, dilestarikan, disebarluaskan, dikembangkan, dibagikan, dan digunakan untuk menciptakan nilai dalam kehidupan, termasuk nilai bagi rakyat dan bangsa. Untuk mewujudkannya, diperlukan sistem manajemen pengetahuan nasional yang dibangun di atas empat pilar fundamental.

Pilar pertama adalah pembangunan infrastruktur untuk memperoleh, menyimpan, dan berbagi pengetahuan, mulai dari basis data ilmiah dan platform digital hingga pusat data nasional. Infrastruktur ini ditujukan agar pengetahuan berharga tidak hilang dan dapat dimanfaatkan secara efektif. Peran pilar ini juga dianggap penting untuk melestarikan pengetahuan para ahli senior, terutama pada bidang-bidang spesifik seperti budaya dan seni nasional Vietnam. Selain itu, infrastruktur dinilai berperan vital dalam menerima pengetahuan dari diaspora Vietnam di berbagai industri, khususnya sains dan teknologi seperti chip semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi digital.

Pilar kedua menekankan filosofi penyebaran pengetahuan yang telah dilestarikan melalui pilar pertama, kemudian diperluas lewat program pelatihan di semua tingkatan. Cakupannya disebut mulai dari ruang kuliah universitas, sekolah kejuruan, kelas STEM di sekolah menengah, hingga jaringan penelitian eksperimental di perusahaan. Setiap ilmuwan yang memiliki pengetahuan untuk disumbangkan dinilai perlu diberi kesempatan menyebarluaskan dan memperluas pengetahuan tersebut di seluruh Vietnam.

Salah satu contoh yang dikemukakan adalah Pusat Internasional untuk Sains dan Pendidikan Interdisipliner (ICISE) di Quy Nhon (provinsi Gia Lai). Di tempat tersebut, Profesor Tran Thanh Van dan Profesor Le Kim Ngoc disebut mendedikasikan diri untuk membangun jembatan penyebaran, berbagi, dan mempopulerkan pengetahuan global, termasuk dari ilmuwan peraih Nobel, kepada komunitas ilmiah Vietnam.

Pilar ketiga berfokus pada pengintegrasian pengetahuan ke dalam bisnis dan organisasi agar pengetahuan dapat ditransformasikan dalam operasi untuk menghasilkan produk atau layanan bernilai tinggi di pasar internasional. Pilar ini dipandang sebagai pendorong penting untuk mewujudkan target era baru. Contoh yang disebut adalah peluncuran pertama desain chip ADC oleh para insinyur Vietnam melalui CT Group pada Juli 2025. Keberhasilan seperti itu dinilai diperlukan agar pengetahuan dapat disaring dan diubah menjadi nilai bagi bangsa.

Pilar keempat diarahkan pada penciptaan pengetahuan baru yang dilindungi hak cipta di Vietnam, baik oleh individu, organisasi, maupun pemerintah melalui riset, penemuan, inovasi, serta hak kekayaan intelektual. Contoh yang disebut adalah rudal modern VCM-B yang diteliti dan diproduksi oleh Viettel, yang direncanakan diluncurkan dalam perayaan Hari Nasional pada 2025.

Pilar keempat dinilai hanya akan kuat jika tiga pilar sebelumnya dibangun dan dikembangkan secara memadai. Vietnam didorong untuk bangkit menjadi negara pencipta pengetahuan, bukan sekadar pengikut, melainkan pemimpin. Produk teknologi yang diekspor diharapkan menjadi penggerak bagi bisnis dan organisasi pada pilar ketiga, sekaligus membentuk ekosistem sains dan teknologi yang sukses di masa depan.

Dalam menghadapi era teknologi, Vietnam juga dinilai perlu melestarikan dan menghormati pengetahuan leluhur, termasuk nilai budaya, sejarah, dan semangat nasional. Pada saat yang sama, Vietnam didorong mengumpulkan serta menerapkan pengetahuan global mutakhir untuk memperkaya masa kini, dan lebih jauh menciptakan pengetahuan khas Vietnam di bidang sains dan teknologi. Negara yang mampu membangun AI berbasis pengetahuan masa lalu dan masa kini, serta terus berinovasi, dipandang dapat menegaskan posisinya sekaligus berkontribusi pada basis pengetahuan global.

Gagasan penutup menekankan bahwa Vietnam yang bahagia adalah Vietnam yang menghargai dan memanfaatkan pengetahuan secara efektif—dari pelajaran sejarah hingga ide inovatif. Dalam visi tersebut, setiap warga Vietnam, baik di dalam maupun luar negeri, didorong untuk berkontribusi sehingga terbentuk komunitas intelektual yang bersatu dan kreatif. Dengan fondasi itu, Vietnam diharapkan tidak hanya berkembang di era AI, tetapi juga menjadi teladan yang menginspirasi melalui tindakan, hasil, dan kerja sama global untuk membangun masa depan yang sejahtera, berkelanjutan, dan bermakna.