BERITA TERKINI
Perjalanan Mengikuti Olimpiade Sains: Dari Minim Persiapan hingga Lolos ke Tingkat Provinsi

Perjalanan Mengikuti Olimpiade Sains: Dari Minim Persiapan hingga Lolos ke Tingkat Provinsi

Keputusan mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten menjadi awal perjalanan belajar yang penuh tantangan bagi seorang siswa. Ia mengaku semula hanya berbekal semangat besar, namun minim persiapan. Materi yang dihadapi terasa sulit, tetapi dukungan guru dan teman-teman menjadi pendorong untuk terus mencoba.

Seiring waktu, ia mulai menata rutinitas belajar harian. Ia mempelajari teori-teori baru dan mengerjakan soal latihan secara konsisten. Meski kerap merasa lelah, setiap kemajuan kecil—seperti memahami konsep yang sebelumnya membingungkan—memberi kepuasan tersendiri. Menjelang ujian OSN tingkat kabupaten, ia merasa tidak hanya membawa bekal pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk menghadapi hasil apa pun.

Ia membedakan pengalaman belajar untuk OSN tingkat kabupaten (OSK) dengan belajar materi sekolah. Menurutnya, belajar di sekolah cenderung lebih terstruktur, mengandalkan buku teks, catatan, dan latihan yang ritmenya mengikuti jadwal ujian. Sementara itu, persiapan OSK menuntut pendalaman yang lebih luas, termasuk mempelajari konsep di luar kurikulum sekolah dan menghadapi soal-soal yang sering kali membingungkan.

Ketika pengumuman kelulusan OSK tiba, ia menyebut momen itu sebagai pengalaman yang menegangkan sekaligus membahagiakan. Saat melihat namanya tercantum sebagai peserta yang lolos ke tingkat provinsi, ia merasa bangga dan lega. Kabar tersebut segera ia sampaikan kepada keluarga, yang menyambutnya dengan pelukan dan ucapan selamat. Ia pun mulai membayangkan pelatihan daerah yang akan diikuti dan kesempatan bertemu peserta lain untuk memperdalam kemampuan.

Memasuki persiapan menuju OSN tingkat berikutnya, ia menyadari persaingan akan lebih ketat dibandingkan OSK. Karena itu, ia meningkatkan intensitas belajar dengan membaca buku referensi, memperdalam konsep, serta mengerjakan soal-soal yang lebih sulit. Waktu bermain dan bersantai berkurang drastis. Ia juga mengakui sempat mengalami frustrasi ketika kesulitan menemukan jawaban atau memahami teori tertentu, namun memilih menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan terus mencoba.

Dukungan guru pembimbing dan keluarga disebut menjadi penguat saat menghadapi masa-masa sulit. Dari proses tersebut, ia menarik kesimpulan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan bakat, tetapi juga kerja keras dan ketekunan.

Ia juga menilai pola pengajaran dalam pelatihan terasa lebih menyenangkan dan efektif dibandingkan pembelajaran di sekolah. Menurutnya, pelatihan memberi fleksibilitas: peserta dapat belajar mandiri sesuai kebutuhan atau mengikuti arahan pembimbing. Suasana pelatihan yang kompetitif namun saling mendukung membuatnya terdorong untuk berkembang, sementara ruang eksplorasi dan diskusi dinilai lebih terbuka dibandingkan metode sekolah yang kerap terikat kurikulum.

Dalam menggambarkan perbedaan itu, ia mengibaratkan pelatihan seperti ruang belajar yang memberi kebebasan memilih jalur sesuai minat dan kebutuhan, dengan pembimbing sebagai pemandu yang membantu ketika peserta menemui kesulitan. Baginya, kebebasan tersebut membuat proses belajar terasa sebagai petualangan yang menantang sekaligus memuaskan.