BERITA TERKINI
Perkemahan Menulis di Vung Tau Rampungkan Draf Karya Bertema Prajurit dan Tantangan Sastra Masa Kini

Perkemahan Menulis di Vung Tau Rampungkan Draf Karya Bertema Prajurit dan Tantangan Sastra Masa Kini

Perkemahan penulisan sastra bertema “Perang Revolusi dan Tentara Masa Kini” resmi berakhir setelah berlangsung selama 10 hari. Kegiatan ini menuntaskan draf pertama sejumlah karya, mulai dari puisi, esai, hingga cerita pendek. Selain hasil tulisan, perkemahan ini juga menandai proses membangun koneksi dan ruang berbagi antara para penulis dengan kehidupan militer, serta upaya mempertemukan sastra dengan realitas negara yang terus berubah.

Dalam pidato penutupan, Kolonel sekaligus penulis Phung Van Khai, Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Seni dan Sastra Militer, menegaskan bahwa selama 70 tahun perkembangannya, majalah tersebut selalu terhubung erat dengan jaringan kontributor di berbagai daerah. Ia menyampaikan bahwa vitalitas sastra bertumpu pada realitas kehidupan masyarakat dan militer yang dinamis, pada keindahan sosok prajurit revolusioner, serta diperkaya oleh dedikasi, tanggung jawab, dan talenta banyak generasi penulis.

Phung Van Khai juga menilai kunjungan lapangan ke unit-unit militer memberi kesempatan bagi para penulis untuk mengalami langsung kehidupan prajurit. Pengalaman itu, menurutnya, memicu inspirasi kreatif dan mendorong lahirnya karya-karya yang kaya pengalaman nyata. Perkemahan ini sekaligus menjadi ruang pertukaran profesional, dengan sastra diposisikan sebagai medium penyebaran nilai-nilai humanistik ke dalam realitas praktis kehidupan militer.

Tema perang revolusi dan tentara selama bertahun-tahun disebut sebagai salah satu sumber inspirasi penting dalam sastra Vietnam. Dari karya yang lahir pada masa perang perlawanan hingga periode đổi mới (renovasi), citra tentara kerap hadir sebagai simbol patriotisme, pengabdian, dan aspirasi melindungi tanah air. Namun, seiring perubahan sosial, penulisan tentang tentara masa kini menghadapi tantangan baru.

Perang telah lama berakhir, sementara banyak penulis muda yang lahir dan tumbuh di masa damai tidak memiliki pengalaman langsung sebagaimana generasi sebelumnya. Pada saat yang sama, kehidupan militer juga mengalami banyak perubahan. Di era baru, prajurit menjalankan beragam tugas, mulai dari menjaga kedaulatan maritim, melindungi perbatasan, operasi pencarian dan penyelamatan, pencegahan dan penanggulangan bencana, berpartisipasi dalam pasukan penjaga perdamaian PBB, hingga membantu masyarakat mengembangkan ekonomi dan menstabilkan kehidupan. Situasi ini menuntut sastra mengadopsi pendekatan yang lebih halus dan fleksibel, tidak semata mengulang motif yang sudah akrab.

Pembaca masa kini dinilai menginginkan cerita yang spesifik, pengalaman sehari-hari, serta refleksi yang tulus tentang kemanusiaan dalam konteks baru. Karena itu, tujuan utama perkemahan ini adalah mendekatkan para penulis dengan realitas. Selama berada di Vung Tau, para peserta berkesempatan mengunjungi unit militer, bertemu perwira dan prajurit yang bertugas, serta mendengarkan kisah dari tempat latihan, barak, dan kehidupan sehari-hari.

Penulis Nguyen Ngoc Loi, peserta tertua dalam perkemahan tersebut, menyelesaikan memoar berjudul “Anak-Anak Vinh Linh” setelah kunjungan lapangan ke Divisi ke-302. Karya itu merekonstruksi pertemuan istimewa dua generasi. Dalam gambaran prajurit yang berlatih dan bersiap untuk berperang, seorang veteran seolah berjumpa kembali dengan dirinya sendiri beberapa dekade silam, memunculkan dialog tanpa kata antara masa lalu dan masa kini.

Ciri kesinambungan antargenerasi juga muncul dalam sejumlah karya lain. Dalam memoar “Prajurit Medis Militer di Masa Damai,” penulis Thai Chi Thanh memilih sudut pandang berbeda dengan menyoroti prajurit medis militer yang bertugas di dalam dan luar negeri, dari pulau-pulau terpencil hingga wilayah yang baru mengalami bencana alam dan gempa bumi. Ia menggambarkan bahwa di balik pekerjaan profesional, terdapat rasa tanggung jawab dan belas kasih dari mereka yang mengenakan seragam militer. Jika perang dulu dipahami sebagai perjuangan untuk bertahan hidup, di masa damai perjuangan itu berlanjut dalam bentuk lain.

Penulis Trung Sy juga menemukan inspirasi dari kampanye militer tanpa tembakan. Dalam karyanya “Ada Kampanye Militer di Masa Damai,” prajurit hadir melalui misi penyelamatan dan bantuan, dukungan kepada masyarakat, serta upaya melindungi kehidupan damai di wilayah penugasan. Gambaran tersebut memperlihatkan bagaimana makna “pertempuran” di masa damai meluas ke dimensi yang baru.

Selain prosa, puisi menjadi ruang eksplorasi yang menonjol. Menulis tentang tentara masa kini dinilai tidak mudah bagi penyair karena kehidupan militer modern jarang menghadirkan situasi dramatis seperti perang. Kondisi itu mendorong para penyair menggali emosi dan perasaan manusia yang lebih halus. Kumpulan puisi Dang Ba Khanh disebut mengesankan lewat emosi yang tulus, dibentuk dari pengalaman nyata tanpa dilebih-lebihkan. Sementara Tran Minh Tien menempuh pendekatan lebih kontemplatif dengan mengeksplorasi kehidupan batin tentara di tengah perubahan zaman teknologi.

Penyair Nguyen Minh Duc, yang juga seorang prajurit, memberi perhatian pada kehilangan, pengorbanan, dan keindahan sederhana personel militer. Dalam puisinya, citra prajurit dipandang lebih sebagai manusia ketimbang sekadar simbol. Banyak karyanya menunjukkan kecenderungan memperluas ruang refleksi, termasuk menempatkan prajurit dalam kehidupan keluarga, cinta, makan bersama unit, kerinduan pada rumah, aksi penyelamatan saat badai dan banjir, hingga misi perdamaian di luar negeri. Perluasan ruang ini membuat citra prajurit dinilai lebih dekat dengan kehidupan kontemporer.

Salah satu sorotan perkemahan tahun ini adalah diskusi panel bertajuk “AI dan Penulis Masa Kini,” yang mencerminkan tantangan baru dalam dunia sastra. Dalam pembahasan itu, kecerdasan buatan disebut dapat membantu penulis dalam riset, penyusunan kerangka cerita, maupun koreksi naskah. Namun, peran emosi, pengalaman hidup, dan identitas kreatif pribadi tetap menjadi pertanyaan penting.

Berbagai pendapat dalam diskusi menekankan bahwa teknologi dapat membantu, tetapi tidak menggantikan pengalaman nyata. Kunjungan lapangan, pertemuan langsung dengan kehidupan, dan emosi personal dinilai tetap menjadi sumber utama nilai sastra. Dari sudut pandang tersebut, pembahasan tentang AI dalam lokakarya bertema tentara menegaskan kebutuhan inovasi bagi penulis, tanpa kehilangan nilai-nilai fundamental yang menjadi inti kreativitas.

Secara keseluruhan, kegiatan ini menghasilkan hampir 30 puisi, serta sejumlah esai, cerita pendek, dan manuskrip novel. Hasil tersebut dipandang sebagai pertanda awal yang positif atas minat penulis terhadap tema prajurit, sekaligus menunjukkan upaya menemukan pendekatan dan perspektif baru untuk merefleksikan kehidupan militer dalam konteks modern.

Perkemahan menulis yang diselenggarakan Majalah Sastra dan Seni Angkatan Darat ini selaras dengan rencana penyusunan kumpulan karya untuk Kontes Puisi dan Esai 2026. Melalui kegiatan tersebut, para penulis berkesempatan mengumpulkan materi, memperkaya pengalaman, dan menghadirkan suara baru dalam dunia sastra. Dari draf yang telah dihasilkan, panitia berharap muncul lebih banyak karya berkualitas untuk berpartisipasi dalam kontes tematik dan memperkaya lanskap puisi serta esai tentang tentara pada periode saat ini.