Pesta Kesenian Bali 2026 dibuka dengan pawai budaya yang meriah di Denpasar.
Namun, satu detail menggeser sorotan publik dari panggung seni ke panggung politik.
Presiden Prabowo Subianto kembali tidak hadir, meski Pemprov Bali sempat mengundang untuk membuka resmi acara.
Di ruang digital, absensi itu menjadi kata kunci yang dicari, diperdebatkan, lalu ditafsirkan berlapis-lapis.
Di lapangan, ribuan seniman tetap berjalan.
Mereka membawa gamelan, tari, dan karya daerah masing-masing, seolah memberi jawaban tanpa perlu pidato.
-000-
Pawai yang Tetap Menyala
Pawai budaya PKB XLVIII 2026 dilepas Gubernur Bali Wayan Koster di kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon.
Pemukulan kulkul oleh Koster menjadi penanda dimulainya peed aya.
Di panggung kehormatan hadir Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati.
Hadir juga Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka.
Sejumlah pejabat dan undangan lain turut menyaksikan.
Suasana semarak oleh alunan gong gde, semara pegulingan, jegog, selonding, dan instrumen lain.
Ada pula Mahamredangga Kalpa, garapan kolaboratif Komunitas Seni Usadhi Langu dan ISI Bali.
Pawai diawali Mahamredangga Kalpa yang mengiringi Tari Siwanataraja.
Setelah itu, tampil berurutan duta Karangasem, Jembrana, Buleleng, Bangli, Klungkung, Tabanan, Gianyar, Badung, lalu Denpasar.
Pawai dimulai pukul 14.00 Wita.
Rute mengelilingi Renon mengikuti konsep purwa daksina, bergerak searah jarum jam.
Titik awal di simpang Jalan Ir H Juanda dan Jalan Raya Puputan.
Peserta berakhir di depan Kantor Wilayah Kementerian Keuangan Bali.
-000-
Tema yang Mengajak Menoleh ke Dalam
PKB 2026 mengangkat tema “Atma Kerthi: Jiwa Siddha Parishudha”.
Ketua Panitia PKB sekaligus Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menjelaskan maknanya.
Tema itu dimaknai sebagai penyucian jiwa dan penguatan kesadaran diri.
Ia disebut sebagai landasan membangun kehidupan yang harmonis.
Alit juga menyampaikan ajakan meningkatkan kepedulian pada kebersihan dan pengelolaan sampah.
Pesan itu diletakkan sebagai tanggung jawab bersama.
Melalui tema tersebut, masyarakat diajak memperkuat warisan nilai leluhur Bali.
Gotong royong, saling menghormati, serta menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.
-000-
Mengapa Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan
Isu ini ramai karena publik tidak hanya membaca peristiwa, tetapi juga membaca simbol.
Ketika seorang presiden absen dari festival besar, orang bertanya: apakah itu sekadar jadwal, atau pesan tak terucap.
Alasan pertama adalah kontras antara ekspektasi dan realitas.
Undangan untuk membuka acara menyiratkan harapan akan kehadiran.
Ketidakhadiran, apalagi disebut berulang seperti tahun lalu, memicu rasa ingin tahu yang berlipat.
Alasan kedua adalah daya tarik Bali sebagai panggung nasional.
PKB bukan hanya agenda daerah.
Ia festival budaya terbesar di Pulau Dewata, dan Bali sendiri selalu menjadi etalase Indonesia di mata banyak orang.
Alasan ketiga adalah logika media sosial yang menyukai pertanyaan sederhana.
“Mengapa tidak hadir?” lebih mudah menyebar daripada “bagaimana karya kolaboratif itu disusun?”
Di situlah percakapan publik sering bergerak: dari karya ke kontroversi, dari proses ke spekulasi.
-000-
Absensi yang Menguji Cara Kita Memaknai Kebudayaan
PKB 2026 menunjukkan satu hal penting.
Kebudayaan tidak menunggu pejabat untuk hidup.
Ribuan seniman tetap berbaris, menabuh, menari, dan menghidupkan ruang kota.
Namun, tren pencarian tentang ketidakhadiran presiden mengungkap sisi lain.
Kita masih sering menaruh kebudayaan di bawah bayang-bayang seremoni kekuasaan.
Seolah nilai sebuah pesta seni meningkat bila diresmikan figur paling puncak.
Pertanyaan yang layak diajukan bukan sekadar siapa yang datang.
Melainkan, mengapa kita membutuhkan validasi itu untuk percaya bahwa seni penting.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Kebudayaan, Pariwisata, dan Ketahanan Sosial
PKB selalu berada di persimpangan antara tradisi dan industri.
Di satu sisi, ia ruang perawatan warisan.
Di sisi lain, ia magnet kunjungan, agenda liburan, dan kalender ekonomi kreatif.
PKB 2026 berlangsung sebulan penuh, 13 Juni hingga 11 Juli 2026.
Waktunya bertepatan dengan libur panjang sekolah.
Di titik ini, kebudayaan bertemu mobilitas, konsumsi, dan keramaian.
Karena itu, percakapan tentang PKB tidak bisa dilepaskan dari isu besar Indonesia.
Pertama, soal bagaimana negara memposisikan kebudayaan sebagai fondasi, bukan ornamen.
Kedua, soal tata kelola pariwisata yang menyeimbangkan manfaat ekonomi dan keberlanjutan sosial.
Ketiga, soal kohesi sosial dalam masyarakat yang makin terpolarisasi oleh berita cepat.
Festival seperti PKB memberi ruang temu yang relatif damai.
Orang datang untuk melihat karya, bukan untuk menang debat.
Di tengah era tegang, ruang seperti ini menjadi semacam “napas bersama”.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Festival Budaya Penting
Banyak kajian kebijakan budaya menekankan bahwa festival memperkuat identitas kolektif dan rasa memiliki.
Dalam literatur “intangible cultural heritage”, perayaan publik dipahami sebagai cara menjaga pengetahuan hidup.
Warisan takbenda bertahan bukan karena disimpan, melainkan karena dipraktikkan lintas generasi.
PKB, dengan pawai, pagelaran, parade, lomba, dan sarasehan, menyediakan ekosistem praktik itu.
Riset tentang ekonomi kreatif juga kerap menyoroti efek pengganda dari event budaya.
Keramaian memicu perputaran jasa, produksi, dan kerja temporer, meski detail dampaknya selalu kontekstual.
Namun, riset lingkungan tentang event besar mengingatkan sisi lain.
Kerumunan berarti sampah, konsumsi, dan tekanan pada ruang kota.
Karena itu, ajakan pengelolaan sampah dalam tema PKB 2026 terasa relevan.
Ia menautkan spiritualitas, etika sosial, dan disiplin ekologis dalam satu napas.
-000-
Perbandingan Luar Negeri: Ketika Pemimpin Absen, Festival Tetap Jalan
Di berbagai negara, festival budaya kerap tetap berlangsung meski tokoh politik utama tidak hadir.
Ketiadaan figur puncak sering memicu dua reaksi.
Pertama, publik menafsirkan sebagai sinyal politik.
Kedua, komunitas seni menegaskan otonomi karya.
Contoh yang sering dibahas di banyak tempat adalah festival seni dan film.
Ketika pemimpin tidak datang, sorotan media bergeser dari program ke simbol kehadiran.
Namun, festival yang matang biasanya tidak runtuh oleh satu kursi kosong.
Ia bertahan karena ditopang institusi, seniman, dan penonton yang percaya pada makna acara.
PKB 2026 menunjukkan pola serupa.
Ia tetap meriah, dan justru memperlihatkan bahwa pusat energi berada pada pelaku seni.
-000-
Yang Nyata di Lapangan: Seni, Disiplin, dan Kerja Kolektif
Di balik pawai, ada kerja panjang yang jarang terlihat.
Latihan, koordinasi antarwilayah, penataan kostum, hingga ritme barisan.
Gamelan tidak hanya bunyi.
Ia disiplin waktu, kekompakan, dan kepekaan mendengar orang lain.
Di situlah nilai sosial kebudayaan bekerja.
Ia melatih komunitas agar mampu bergerak serempak tanpa kehilangan ciri masing-masing.
Urutan duta kabupaten dan kota menegaskan keberagaman dalam satu panggung.
Setiap daerah membawa garapan terbaik.
Namun semuanya berjalan dalam rute yang sama, mengikuti purwa daksina.
Simbolnya jelas: perbedaan dapat bergerak bersama, bila ada kesepakatan arah.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik perlu memisahkan dua hal: kehadiran pejabat dan kualitas festival.
Ketidakhadiran presiden adalah informasi, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan PKB.
Kedua, penyelenggara dan pemerintah dapat memperkuat komunikasi publik yang fokus pada program.
Jelaskan agenda utama, ruang partisipasi, dan pesan tema, agar percakapan tidak tersedot ke spekulasi.
Ketiga, jadikan tema kebersihan dan pengelolaan sampah sebagai tindakan nyata selama festival.
Pesan moral akan lebih kuat bila terlihat dalam tata kelola lapangan.
Keempat, media dan warganet sebaiknya memberi ruang lebih adil bagi kerja seniman.
PKB berlangsung sebulan, dan ribuan pelaku terlibat.
Menaruh perhatian pada karya adalah bentuk penghormatan yang paling konkret.
Kelima, pemerintah pusat dan daerah bisa melihat PKB sebagai model diplomasi budaya.
Apalagi ada Bali World Culture Celebration yang menghadirkan seniman dari berbagai negara.
Di tengah dunia yang mudah tegang, pertemuan budaya sering membuka pintu dialog yang lebih halus.
-000-
Penutup: Kursi Kosong dan Panggung yang Penuh
PKB 2026 mengajarkan paradoks yang menenangkan.
Ketika satu nama besar tidak hadir, panggung justru memperlihatkan siapa yang selama ini menjaga nyala.
Ribuan seniman berjalan, dan Denpasar mendengar.
Di antara gong dan langkah, tema penyucian jiwa terasa seperti ajakan untuk menahan diri dari prasangka.
Barangkali yang perlu disucikan bukan hanya ruang, tetapi juga cara kita memandang.
Bahwa kebudayaan tidak hidup dari sorot kamera, melainkan dari kesetiaan orang-orang yang terus berkarya.
Seperti kutipan yang sering diulang dalam berbagai bentuk, maknanya sederhana.
“Kebudayaan adalah ingatan yang berjalan, dan seni adalah cara kita menjaga ingatan itu tetap bernapas.”

