Mataram, 20 Januari 2026 — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan komitmennya untuk memperkuat ketahanan dan swasembada pangan daerah sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional. Penguatan produksi, perluasan areal tanam, dan peningkatan produktivitas pertanian disebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia untuk mengembalikan kejayaan swasembada pangan seperti dekade 1980-an.
Kepala Dinas Kominfotik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, bersama Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Hj. Eva Dewiyani, menyampaikan tren capaian produksi padi yang dinilai positif. Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi NTB pada 2025 mencapai 1.698.283 ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 16,85% dibandingkan 2024 yang tercatat 1.453.408 ton GKG.
Peningkatan produksi tersebut ditopang oleh kenaikan luas panen dari 281.718 hektare pada 2024 menjadi 322.927 hektare pada 2025. Produktivitas padi juga meningkat dari 51,59 kuintal per hektare menjadi 52,59 kuintal per hektare.
Rincian capaian produksi padi 2025 di NTB berdasarkan KSA BPS meliputi: Lombok Tengah dengan luas panen 78.639 hektare, produksi 421.941 ton GKG, produktivitas 53,66 kuintal per hektare; Sumbawa luas panen 74.736 hektare, produksi 398.864 ton GKG, produktivitas 53,37 kuintal per hektare; Lombok Timur luas panen 45.387 hektare, produksi 243.474 ton GKG, produktivitas 53,64 kuintal per hektare; Kabupaten Bima luas panen 42.845 hektare, produksi 208.018 ton GKG, produktivitas 48,55 kuintal per hektare; Dompu luas panen 30.448 hektare, produksi 151.335 ton GKG, produktivitas 49,70 kuintal per hektare; Lombok Barat luas panen 25.488 hektare, produksi 135.678 ton GKG, produktivitas 53,23 kuintal per hektare; Sumbawa Barat luas panen 14.548 hektare, produksi 74.496 ton GKG, produktivitas 51,21 kuintal per hektare; Lombok Utara luas panen 5.536 hektare, produksi 33.320 ton GKG, produktivitas 60,19 kuintal per hektare; Kota Mataram luas panen 2.736 hektare, produksi 17.727 ton GKG, produktivitas 64,78 kuintal per hektare; serta Kota Bima luas panen 2.564 hektare, produksi 13.431 ton GKG, produktivitas 52,39 kuintal per hektare.
Menurut Ahsanul Khalik, capaian tersebut merupakan hasil sinergi dan kerja kolektif berbagai pihak dalam membangun sektor pertanian, sekaligus menjadi dasar optimisme menuju penguatan swasembada pangan NTB pada 2026. Ia menyebut sejumlah program yang mendukung peningkatan produksi, antara lain optimasi lahan pada 2025 yang dialokasikan seluas 10.574 hektare, penggunaan benih unggul bermutu bersertifikat, alokasi pupuk subsidi sesuai RDKK, penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di tingkat petani menjadi Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemprov NTB, pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, instansi teknis, pemangku kepentingan, dan petani.
Sementara itu, Eva Dewiyani mengatakan Pemprov NTB pada 2026 akan melanjutkan penguatan untuk menggerakkan seluruh potensi daerah melalui optimalisasi lahan dan program strategis lainnya. Langkah tersebut disebut sebagai upaya menyelaraskan program swasembada pangan pemerintah pusat di tingkat daerah.
“NTB optimistis dapat terus menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan, sebagai bagian dari kontribusi daerah dalam mewujudkan cita-cita nasional menuju kebangkitan swasembada pangan Indonesia,” kata Eva.

