TEHERAN — Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) disebut menjadi aktor utama di balik terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Informasi itu dilaporkan Reuters, yang menyebut langkah tersebut diduga bertujuan menempatkan figur yang dinilai lebih “penurut” dan sejalan dengan kebijakan garis keras korps militer tersebut.
Menurut seorang sumber senior Iran yang dikutip Reuters, pengaruh IRGC disebut kian menguat sejak konflik bersenjata pecah di negara itu. Dalam proses penetapan pemimpin tertinggi, kelompok tersebut dilaporkan berhasil menyingkirkan resistensi dari kalangan pragmatis, tokoh politik, dan ulama senior yang sempat menentang pilihan Mojtaba. Situasi itu disebut turut membuat pengumuman resmi sempat tertunda selama beberapa jam.
Sejumlah pengamat menilai dominasi IRGC berpotensi mengubah identitas politik Iran. Tiga sumber senior memperingatkan, terpilihnya Mojtaba bisa memicu kebijakan luar negeri yang lebih agresif serta represi domestik yang lebih keras.
Dua sumber lainnya menekankan adanya risiko perubahan sistem pemerintahan menuju negara yang lebih bercorak militer dengan legitimasi agama yang dinilai menipis. Kondisi tersebut, menurut mereka, berpotensi semakin menggerus basis dukungan publik yang disebut sudah menurun.
“Mojtaba berutang posisi kepada IRGC. Karena itu, dia tidak akan memiliki otoritas ‘tertinggi’ yang sama kuatnya dengan sang ayah,” ujar Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute, seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Hingga Selasa (10/3/2026) malam, hampir 48 jam setelah pengumuman pemilihannya, Mojtaba Khamenei dilaporkan belum mengeluarkan pernyataan resmi. Kebisuan itu memunculkan spekulasi di tengah situasi perang yang disebut telah menewaskan lebih dari seribu warga Iran.
Seorang penyiar televisi negara bahkan menyebut Mojtaba sebagai “janbaz” atau veteran terluka, meski kondisi sebenarnya disebut belum dapat dikonfirmasi secara independen. Sumber internal menyatakan kekhawatiran keamanan setelah pembunuhan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, serta kemungkinan cedera menjadi alasan di balik belum adanya pernyataan publik dari Mojtaba.

