Insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta baru-baru ini menyisakan dampak psikologis bagi sejumlah siswa. Dalam kondisi seperti ini, sekolah dinilai perlu memberi perhatian bukan hanya pada pemulihan fisik, tetapi juga menyediakan ruang aman agar anak dapat menenangkan diri dan memulihkan kondisi mentalnya.
Psikolog Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra, mendorong sekolah membentuk “Ruang Jeda” sebagai bagian dari dukungan pemulihan. Ia menjelaskan, siswa dapat diminta bermeditasi sejenak atau diam tanpa aktivitas tertentu untuk membantu menenangkan diri dan menurunkan kecemasan.
Menurut Novi, trauma pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti ketakutan berlebihan, menarik diri, hingga perilaku agresif. Ada pula anak yang terlihat terlalu ceria sebagai mekanisme untuk menutupi luka batin. Karena itu, sekolah perlu peka terhadap tanda-tanda tersebut dan menyediakan wadah yang sehat bagi siswa untuk mengekspresikan emosi.
Salah satu pendekatan yang disarankan adalah Social Emotional Learning (SEL). Melalui kegiatan seperti melukis, bermain musik, menulis jurnal, atau diskusi dalam kelompok kecil, siswa dapat belajar mengenali dan menyalurkan emosinya. Novi merujuk pada penelitian UNICEF (2023) yang menyebut program SEL di sekolah dapat menurunkan gejala kecemasan hingga 30% pada anak pascabencana.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama sekolah dan orang tua. Hasil kegiatan SEL dapat dijadikan portofolio perkembangan emosional siswa yang kemudian dibahas bersama wali murid, sehingga orang tua memahami kondisi anak dan dapat mendukung proses pemulihan di rumah.
“Anak perlu ruang aman untuk terkoneksi dengan Tuhan, sesama, dan alam sehingga mereka tumbuh kembali dengan kepercayaan diri dan empati yang lebih kuat,” kata Novi. Ia menyebut hal ini sejalan dengan riset WHO (2022) yang menekankan pentingnya dukungan spiritual dan sosial dalam rehabilitasi psikologis anak.
Jika gejala trauma tidak kunjung membaik, Novi menyarankan konsultasi dengan psikolog agar intervensi profesional dapat mencegah trauma berkembang menjadi gangguan mental jangka panjang, termasuk PTSD. Data Kementerian Kesehatan RI (2024) mencatat sekitar 12% anak korban bencana berisiko mengalami PTSD bila tidak mendapat penanganan dini.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menginisiasi dukungan psikososial berbasis Psychological First Aid (PFA) bagi siswa, guru, dan orang tua di SMAN 72 Jakarta. Program ini melibatkan 56 psikolog dari HIMPSI, Polri, serta dinas terkait di DKI Jakarta. Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menyatakan layanan psikososial pascabencana tersebut bertujuan menghilangkan trauma warga sekolah.

