BERITA TERKINI
Sekolah Kembali Dibuka Usai Banjir dan Longsor, Pendidikan Pascabencana Diuji

Sekolah Kembali Dibuka Usai Banjir dan Longsor, Pendidikan Pascabencana Diuji

Setelah banjir dan longsor menerjang Aceh serta sejumlah wilayah Sumatera pada 26 November lalu, aktivitas sekolah kembali berjalan. Bel sekolah kembali berbunyi, ruang-ruang kelas mulai terisi, dan buku pelajaran kembali dibuka. Namun, kembalinya rutinitas memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pendidikan benar-benar sudah pulih, atau sekadar kembali mengikuti jadwal?

Bagi banyak siswa yang terdampak langsung—mulai dari rumah terendam, kehilangan harta, hingga kehilangan anggota keluarga—sekolah tidak hanya menjadi tempat mengejar pelajaran yang tertinggal. Anak-anak datang ke kelas membawa pengalaman yang berat: trauma, kecemasan, dan duka yang belum selesai. Jika pendidikan hanya dimaknai sebagai kembali masuk kelas dan mengejar target materi, maka sisi kemanusiaan dalam proses belajar berisiko terabaikan.

Bencana juga dinilai semestinya menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan. Di Aceh, banjir dan longsor bukan peristiwa baru dan kerap berulang setiap musim hujan. Meski demikian, pengalaman kolektif tersebut belum sepenuhnya menjadi bagian dari kesadaran kurikulum. Siswa dapat mempelajari sungai dan hutan dari buku pelajaran, tetapi belum tentu diajak memahami mengapa sungai meluap atau bagaimana keterkaitan kerusakan lingkungan, kebijakan, dan bencana yang mereka alami.

Dalam konteks pendidikan pascabencana, sekolah dipandang perlu memberi ruang refleksi. Peran guru tidak hanya menyampaikan pelajaran seperti matematika atau bahasa, tetapi juga membuka dialog dengan siswa tentang sebab bencana, pelajaran yang bisa dipetik, serta upaya pencegahan ke depan. Memasukkan pendidikan kebencanaan dan kesadaran lingkungan ke dalam kurikulum bukan semata menambah beban pelajaran, melainkan mengaitkan realitas hidup dengan proses belajar.

Bagi siswa di Aceh, bencana bukan teori, melainkan pengalaman nyata. Ketika pengalaman tersebut diolah menjadi pengetahuan dan sikap, pendidikan diharapkan dapat membentuk generasi yang lebih tangguh, peduli, dan bertanggung jawab. Pada saat yang sama, sekolah juga dituntut menjadi ruang aman secara psikologis. Pendekatan yang terlalu kaku pada target nilai, ujian, dan peringkat dinilai berpotensi menambah tekanan bagi siswa korban bencana. Pendidikan yang manusiawi dipandang perlu memberi ruang pemulihan, termasuk dengan menunda ambisi akademik demi menjaga martabat dan kesehatan mental peserta didik.

Dalam perspektif nilai keislaman yang hidup di Aceh, musibah dipahami bukan sekadar cobaan, tetapi juga peringatan dan amanah. Pendidikan memiliki peran menanamkan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, termasuk kesadaran bahwa merusak alam dan berharap terbebas dari bencana merupakan kontradiksi moral yang perlu dipahami sejak bangku sekolah.

Karena itu, dibukanya kembali sekolah setelah bencana tidak serta-merta berarti keadaan telah normal. Justru pada fase inilah pendidikan diuji: apakah ia mampu hadir sebagai ruang belajar dari realitas, bukan sekadar tempat mengejar ketertinggalan kurikulum. Belajar dari bencana berarti menempatkan keselamatan, lingkungan, dan kemanusiaan sebagai pelajaran penting untuk menjaga masa depan bersama.