BERITA TERKINI
Seni sebagai Kritik yang Menari: Mengapa Farid Stevy dan Gaspol Goes to Campus Jadi Perbincangan

Seni sebagai Kritik yang Menari: Mengapa Farid Stevy dan Gaspol Goes to Campus Jadi Perbincangan

Isu yang Membuatnya Menjadi Tren

Nama Farid Stevy kembali ramai dibicarakan setelah perbincangannya di program Gaspol Goes to Campus, yang tayang di YouTube Kompas.com.

Di FISIP Atma Jaya Yogyakarta, ia menegaskan satu gagasan yang terasa dekat dengan kegelisahan publik: seni bukan sekadar ekspresi, melainkan cara menyuarakan kritik.

Kalimatnya sederhana, tetapi memantik resonansi luas. Bila ada batas yang membungkam, seni dapat menjadi jalan lain untuk tetap bersuara.

Yang dibicarakan orang bukan hanya figur vokalis FSTVLST. Melainkan keberanian menempatkan kreativitas sebagai ruang lentur untuk kritik, tanpa harus selalu frontal.

-000-

Isu ini menjadi tren karena menyentuh persimpangan yang sedang ramai di Indonesia: relasi antara kebebasan berekspresi, ruang kampus, dan cara generasi muda merumuskan sikap.

Di tengah arus informasi yang cepat, publik mencari bahasa yang mampu menjelaskan kegelisahan tanpa memperuncing konflik. Farid menawarkan bahasa itu lewat seni.

Ia juga membawa pengalaman personal sebagai bagian dari keluarga penyintas tragedi politik 1965. Di titik itu, seni bertemu ingatan, dan ingatan bertemu luka.

Perbincangan ini mengubah tayangan kampus menjadi cermin sosial. Banyak orang melihat dirinya sendiri di sana, entah sebagai mahasiswa, seniman, atau anggota keluarga.

-000-

Ada pula daya tarik lain: Farid tidak hanya bicara, ia bekerja. Ia menjadi co-founder kolektif Setiap Hari 1965, yang menggarap riset dan dokumentasi secara kolaboratif.

Ketika seni disandingkan dengan riset, kritik terdengar lebih tenang namun lebih tajam. Ia tidak berdiri sebagai pengkhotbah, melainkan sebagai pengolah pengalaman.

Inilah yang membuat percakapan itu melampaui format acara. Ia terasa sebagai undangan untuk berpikir, bukan ajakan untuk memihak secara membabi buta.

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Meledak di Ruang Publik

Alasan pertama adalah relevansi. Banyak orang merasakan adanya batas, entah berupa norma sosial, tekanan politik, atau kebisingan digital yang menghukum perbedaan.

Ketika Farid berkata, “Kalau misalnya kemudian dibatasi ya gunakan seni untuk menyuarakan,” publik menangkapnya sebagai strategi bertahan, bukan sekadar slogan.

Seni dipahami sebagai jalan memutar yang sah. Ia bisa menyampaikan kritik tanpa harus bertabrakan langsung, sekaligus tetap menjaga martabat pesan.

-000-

Alasan kedua adalah konteks kampus. Kampus selalu dipandang sebagai ruang pembentukan nalar, tempat nilai diuji, dan tempat keberanian belajar muncul.

Saat dialog semacam ini terjadi di hadapan mahasiswa, ia terasa seperti menghidupkan kembali tradisi kampus sebagai ruang refleksi sosial.

Di mata publik, kampus bukan hanya gedung dan kurikulum. Kampus adalah simbol masa depan, sehingga percakapan di dalamnya mudah menjadi percakapan nasional.

-000-

Alasan ketiga adalah keterhubungan dengan ingatan 1965. Farid menyebut keluarganya penyintas, dan ada “cerita yang belum usai”, termasuk rekonsiliasi keluarga.

Pernyataan ini menggerakkan emosi karena 1965 bukan semata bab sejarah. Ia masih hidup dalam keluarga-keluarga yang menyimpan diam, takut, dan pertanyaan.

Ketika seseorang berbicara dari pengalaman personal, publik lebih mudah percaya bahwa isu ini nyata. Bukan sekadar wacana akademik yang jauh dari kehidupan.

Seni sebagai Ruang Lentur: Kritik yang Tidak Selalu Frontal

Farid memandang kreativitas sebagai alat untuk “berliuk-liuk” menghindari batasan. Pilihan kata itu penting, karena ia menolak gagasan kritik sebagai benturan semata.

Dalam pandangan ini, seni bekerja seperti air. Ia mencari celah, merembes, dan pelan-pelan mengubah bentuk batu yang tampak kukuh.

Seni tidak selalu menang dalam satu malam. Namun ia dapat menanam pertanyaan yang terus hidup, bahkan ketika panggung telah sepi.

-000-

Di Indonesia, kritik sering dipaksa memilih dua ekstrem: diam atau meledak. Padahal, ada spektrum luas di antaranya, dan seni mengisi spektrum itu.

Lukisan, lagu, dan pertunjukan dapat mengajak orang berpikir tanpa merasa diserang. Kritik hadir sebagai pengalaman, bukan sebagai vonis.

Di titik itu, seni menjadi pendidikan emosional. Ia melatih empati, memperluas kosakata perasaan, dan membuat orang mampu menahan diri sebelum menghakimi.

-000-

Farid menanamkan cara pandang itu dalam karya, baik lukisan maupun lagu-lagu perlawanan FSTVLST. Ia menempatkan kritik sebagai energi kreatif.

Namun ia juga menekankan pentingnya kerangka berpikir sebelum melahirkan karya. Ini menggeser fokus dari sensasi menuju proses.

Proses itulah yang sering hilang di ruang digital. Orang ingin hasil cepat, padahal karya yang bertahan biasanya lahir dari perenungan panjang.

1965, Ingatan, dan Rekonsiliasi yang Belum Usai

Bagian paling sunyi dari perbincangan ini adalah ketika Farid menyebut keluarganya penyintas 1965. Ia tidak memposisikan diri sebagai korban tunggal.

Ia justru menunjukkan sesuatu yang lebih rumit: luka sejarah dapat memecah rumah, membuat keluarga sulit bersepakat tentang cara menyikapi masa lalu.

Ia menyebut rekonsiliasi keluarga sebagai tugas besar. Kalimat itu mengingatkan bahwa rekonsiliasi bukan hanya urusan negara.

-000-

Di banyak keluarga, sejarah hadir sebagai bisik-bisik. Ada cerita yang disimpan, nama yang dihindari, dan pertanyaan yang dianggap berbahaya.

Dalam situasi seperti itu, seni kadang menjadi satu-satunya bahasa yang aman. Ia bisa berbicara tanpa membuka semua detail yang rawan melukai.

Seni memberi jarak, tetapi tetap menghadirkan kedekatan. Ia membuat orang berani menatap masa lalu tanpa harus memegangnya dengan tangan telanjang.

-000-

Setiap Hari 1965, yang ikut didirikan Farid, digambarkan sebagai inisiatif riset dan dokumentasi kolaboratif lintas disiplin.

Kerja semacam ini menegaskan bahwa ingatan tidak cukup hanya dirasakan. Ia perlu dirawat, dicatat, dan didiskusikan agar tidak lenyap atau dipelintir.

Di sini, seni dan riset bertemu sebagai dua cara merawat kebenaran. Yang satu menyentuh batin, yang lain menata jejak.

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Demokrasi, Kebebasan, dan Literasi Sejarah

Tren ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan pertanyaan besar Indonesia: bagaimana demokrasi dirawat ketika masyarakat mudah terbelah oleh narasi yang saling meniadakan.

Kebebasan berekspresi sering diuji bukan hanya oleh aturan, tetapi juga oleh tekanan sosial. Ada ketakutan untuk salah bicara.

Dalam ketakutan itu, seni menawarkan jalan yang tidak selalu memicu pertahanan diri. Ia mengundang orang masuk melalui rasa.

-000-

Isu lain yang terkait adalah literasi sejarah. Ketika sejarah dipahami hanya sebagai tanggal dan tokoh, ia mudah dipakai sebagai alat propaganda.

Namun ketika sejarah dipahami sebagai pengalaman manusia, ia menjadi pelajaran etis. Ia mengajarkan dampak kekuasaan pada tubuh dan rumah tangga.

Pernyataan Farid tentang rekonsiliasi keluarga menaruh sejarah kembali ke tempatnya: di ruang makan, di album foto, di percakapan yang tertunda.

-000-

Isu besar berikutnya adalah kesehatan ruang publik digital. Dalam banyak perdebatan, orang terburu-buru memilih kubu, lalu kehilangan kemampuan mendengar.

Seni, ketika diposisikan sebagai kritik yang menari, dapat menjadi latihan mendengar. Ia mengajarkan bahwa kebenaran sering datang dalam metafora.

Metafora tidak selalu memperjelas, tetapi ia sering menyelamatkan percakapan dari kekerasan bahasa.

Riset yang Relevan: Mengapa Seni Efektif untuk Kritik dan Pemulihan

Banyak kajian ilmu sosial menempatkan seni sebagai bagian dari komunikasi publik. Seni bekerja melalui simbol, cerita, dan pengalaman estetis yang mudah diingat.

Dalam studi tentang memori kolektif, narasi dan simbol budaya kerap menjadi kendaraan utama untuk merawat ingatan lintas generasi.

Itu menjelaskan mengapa lagu, poster, dan pertunjukan sering lebih bertahan daripada pidato panjang yang cepat terlupakan.

-000-

Riset tentang trauma juga sering menekankan pentingnya cara aman untuk menceritakan pengalaman. Tidak semua orang sanggup bercerita secara langsung dan detail.

Pendekatan kreatif memberi ruang untuk mengungkap tanpa harus membuka semua luka sekaligus. Ia memungkinkan jarak yang melindungi.

Dalam konteks keluarga penyintas, jarak itu kadang menjadi syarat agar percakapan bisa dimulai, bukan berakhir menjadi pertengkaran.

-000-

Di ranah pendidikan, pendekatan berbasis seni kerap dipakai untuk melatih berpikir kritis. Bukan karena seni selalu benar, tetapi karena seni memaksa orang menafsir.

Menafsir berarti menimbang konteks, membaca tanda, dan mengakui kemungkinan makna ganda. Itu inti dari nalar demokratis.

Ketika Farid berdialog dengan mahasiswa tentang kerangka berpikir sebelum berkarya, ia sebenarnya mendorong disiplin intelektual.

Referensi Luar Negeri: Ketika Seni Menjadi Bahasa Perlawanan dan Ingatan

Di berbagai negara, seni sering menjadi medium untuk mengolah sejarah kelam. Banyak seniman memilih musik, teater, dan seni rupa untuk membuka percakapan publik.

Contoh yang sering dibahas adalah Afrika Selatan pasca-apartheid. Karya seni dan pertunjukan menjadi salah satu cara masyarakat memproses luka kolektif.

Seni tidak menggantikan kebijakan, tetapi membantu warga menghadapi kenyataan yang sulit diucapkan dalam bahasa formal.

-000-

Di Amerika Latin, khususnya di negara-negara yang mengalami kekerasan politik, seni juga kerap hadir sebagai arsip alternatif.

Ketika dokumen resmi tidak lengkap atau diperdebatkan, karya budaya sering menjadi penanda bahwa sesuatu pernah terjadi dan pernah melukai.

Pengalaman global ini membuat isu yang dibawa Farid terasa universal, sekaligus tetap berakar pada konteks Indonesia.

-000-

Apa yang menyatukan contoh-contoh itu adalah kebutuhan akan ruang aman untuk mengingat. Seni sering menjadi ruang itu, karena ia tidak memaksa satu versi tunggal.

Ia membuka kemungkinan dialog, bahkan ketika masyarakat belum siap mencapai kesepakatan. Dalam demokrasi, dialog kadang sudah merupakan kemajuan.

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, ruang kampus perlu terus merawat tradisi dialog yang reflektif. Bukan sekadar menghadirkan tokoh, tetapi memastikan percakapan berlangsung dengan saling menghormati.

Mahasiswa perlu didorong bertanya, bukan hanya setuju. Pertanyaan yang jujur adalah bentuk kecintaan pada pengetahuan.

Dalam suasana itu, seni bisa menjadi pintu masuk untuk membahas isu berat tanpa menghilangkan kompleksitasnya.

-000-

Kedua, publik sebaiknya membedakan kritik dengan kebencian. Kritik bertujuan memperbaiki, sementara kebencian ingin menghapus lawan bicara.

Gagasan “kritik yang menari” mengingatkan bahwa kritik dapat disampaikan dengan kecerdasan emosional. Ia bisa tegas tanpa merendahkan.

Di era serba viral, ketegasan yang beradab justru menjadi bentuk keberanian yang langka.

-000-

Ketiga, pembicaraan tentang 1965 perlu ditempatkan sebagai upaya memahami dampak kemanusiaan, termasuk dampak domestik dalam keluarga.

Farid menunjukkan bahwa rekonsiliasi tidak selalu dimulai dari panggung politik. Ia bisa dimulai dari keberanian keluarga menata ulang cerita.

Di level masyarakat, dukungan terhadap kerja dokumentasi dan riset lintas disiplin perlu dipahami sebagai investasi pengetahuan.

-000-

Keempat, seniman dan pekerja kreatif perlu terus membangun kerangka berpikir, seperti yang ditekankan Farid. Karya yang kuat lahir dari kejujuran dan ketekunan.

Namun publik juga perlu memberi ruang untuk karya yang tidak langsung selesai. Proses pencarian sering lebih penting daripada jawaban instan.

Jika seni dipaksa selalu memberi kepastian, ia kehilangan fungsinya sebagai ruang bertanya.

Penutup: Menjaga Ingatan, Menjaga Ruang Bernapas

Tren tentang Farid Stevy bukan sekadar kisah musisi berbicara di kampus. Ia adalah tanda bahwa masyarakat masih mencari cara berbicara di tengah batas.

Seni, dalam pandangan Farid, bukan pelarian. Ia adalah strategi untuk tetap waras, tetap kritis, dan tetap manusiawi.

Ketika sejarah belum selesai dan rekonsiliasi masih menjadi tugas besar, seni dapat menjadi langkah kecil yang tidak remeh.

-000-

Publik boleh berbeda pendapat tentang banyak hal. Namun kebutuhan untuk menjaga ruang bernapas bersama adalah kepentingan bersama.

Di situlah kritik yang menari menemukan maknanya. Ia menolak diam, tetapi juga menolak merusak jembatan yang masih mungkin dibangun.

Seperti kata penyair yang kerap dikutip dalam berbagai konteks perjuangan, “Harapan adalah sesuatu yang kita rawat, bahkan ketika keadaan tidak ramah.”