Serial drama thriller geopolitik Messiah (2020) kembali memantik perbincangan tentang kepercayaan, kekuasaan, dan teknologi. Diperankan Mehdi Dehbi, tokoh Al-Masih digambarkan sebagai figur misterius yang mengklaim membawa pesan perdamaian, tetapi justru memicu keresahan dan kecurigaan di berbagai belahan dunia. Di balik premisnya, serial ini menghadirkan refleksi tentang era pengawasan digital dan bagaimana manipulasi di ruang daring dapat memengaruhi nasib seseorang tanpa proses yang transparan.
Kisah dibuka dengan kemunculan Al-Masih di Timur Tengah. Pesannya menyebar luas dan menjadi viral di media sosial, hingga menarik perhatian badan intelijen Amerika Serikat. Melalui karakter Eva Geller yang diperankan Michelle Monaghan, CIA menjalankan penyelidikan intensif sekaligus upaya pendiskreditan terhadap sosok tersebut demi menjaga status quo.
Alih-alih menonjolkan pendekatan yang sepenuhnya objektif, serial ini menggambarkan rangkaian tindakan represif berbasis teknologi, mulai dari pelacakan digital hingga penggiringan opini publik melalui manipulasi algoritmik. Narasi tersebut menjadi sorotan atas bagaimana kekuasaan modern dapat mengontrol arus informasi, membentuk persepsi, bahkan merusak reputasi seseorang di ruang digital yang tidak lagi netral.
Messiah juga menempatkan paranoia institusional sebagai pendorong tindakan yang berpotensi mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Dalam cerita, Al-Masih dicurigai bukan semata karena tindakan yang dilakukan, melainkan karena pengaruhnya yang dinilai mampu mengubah cara pandang masyarakat. Ia dipandang sebagai ancaman bukan karena kekerasan, melainkan karena pesan damai yang dianggap subversif oleh aparat keamanan.
Serial ini menyentil isu-isu sensitif tanpa menunjuk langsung pihak tertentu. Tidak ada penyebutan eksplisit tentang negara, korporasi, atau kelompok elit tertentu, namun atmosfer yang dibangun dibuat terasa dekat dengan dinamika dunia digital dan politik global. Ketakutan terhadap gangguan terhadap status quo digambarkan kerap dijadikan legitimasi untuk pengawasan dan penindasan, hingga pertanyaan yang mengemuka bergeser dari soal bersalah atau tidak menjadi soal seberapa besar pengaruh seseorang hingga dianggap berbahaya.
Dari sisi produksi, Messiah dinilai tampil meyakinkan melalui sinematografi yang menghadirkan atmosfer otentik dengan latar lokasi seperti Yordania dan New Mexico. Alur cerita dibangun dengan ketegangan yang terukur, memadukan drama personal dan konflik geopolitik secara proporsional. Meski demikian, sejumlah subplot, terutama yang berkaitan dengan kehidupan pribadi karakter utama, disebut terasa kurang menyatu dengan narasi besar.
Kekuatan utama serial ini tetap terletak pada kritiknya terhadap relasi antara kekuasaan dan teknologi, khususnya bagaimana hak individu dapat tergerus dalam sistem yang bertumpu pada data, algoritma, dan narasi buatan. Melalui keputusan-keputusan CIA dalam cerita, serial ini mengajak penonton mempertanyakan batas kebebasan yang bersedia dikorbankan demi rasa aman yang dikonstruksi oleh otoritas.
Pada akhirnya, Messiah tidak hanya berkisah tentang figur mesianistik, melainkan menjadi alegori tentang dunia saat ini—ketika kekuasaan dan teknologi dapat berpadu menjadi alat penindasan yang halus namun efektif. Serial ini meninggalkan pertanyaan yang sulit dijawab: siapa yang sebenarnya berbahaya, mereka yang membawa pesan perubahan atau sistem yang merasa terancam oleh pesan tersebut?
Bagi penonton yang gemar menyimak isu global melalui lensa yang reflektif, Messiah hadir sebagai tontonan yang mendorong peninjauan ulang terhadap kenyataan yang selama ini dianggap wajar.

