BERITA TERKINI
Serial thriller mata-mata kembali populer di tengah rendahnya kepercayaan pada pemerintah

Serial thriller mata-mata kembali populer di tengah rendahnya kepercayaan pada pemerintah

Serial bertema agen rahasia kembali mendominasi layar, dari The Night Agent di Netflix hingga Slow Horses di Apple TV+. Dalam beberapa bulan terakhir, penonton juga disuguhi judul-judul seperti The Day of The Jackal yang menampilkan kejar-kejaran antara pembunuh bayaran dan agen intelijen MI5, musim keempat Slow Horses yang mengangkat kisah para agen “buangan” di lembaganya, adaptasi Amerika Serikat The Agency dari serial Prancis Le Bureau des Legendes, serta Black Doves di Netflix.

Ramainya tayangan semacam ini membuat genre thriller mata-mata kembali terasa menonjol. Kisah spionase memang lama menjadi andalan televisi dan layanan berbayar, seiring minat pembaca terhadap cerita intelijen yang juga kuat. Secara historis, novel mata-mata sudah menjamur sejak awal abad ke-19, mencerminkan ketidakpercayaan terhadap politik dan konflik militer pada masanya. Salah satu contoh awal adalah The Spy: A Tale of the Neutral Ground karya James Fenimore Cooper, yang mengangkat ketegangan Revolusi Amerika dan ketakutan bahwa kelompok Patriot menyusup sebagai mata-mata Inggris.

Genre ini kemudian berkembang pesat pada abad ke-20, terutama ketika Perang Dunia dan Perang Dingin membentuk lanskap geopolitik baru serta memunculkan badan-badan intelijen modern di Amerika Serikat dan Inggris. Pada era Perang Dingin, penulis Inggris seperti John le Carré dan Len Deighton dikenal lewat karya-karya seperti Tinker Tailor Soldier Spy dan Ipcress File. Ian Fleming memperkuat cetak biru cerita agen rahasia melalui James Bond. Memasuki 1980-an hingga 1990-an, Tom Clancy menjadi fenomena global lewat serial Jack Ryan.

Lebih dari 200 tahun setelah literatur spionase pertama terbit, popularitasnya kembali menanjak. Di Inggris, pasar novel mata-mata tumbuh 45% dalam setahun hingga mencapai 9,7 juta pound sterling pada 2024, menurut Nielsen BookData. Philip Stone dari Nielsen BookData menyebut genre kejahatan secara umum sedang “meledak”, dan kenaikan penjualan thriller mata-mata secara khusus dikaitkan dengan kesuksesan adaptasi seri novel Slough House karya Mick Herron, yang melahirkan Slow Horses.

Di layar kaca, sejumlah tayangan mata-mata juga mencatat angka penonton besar. Musim pertama The Night Agent berada di peringkat tujuh serial paling banyak ditonton di Netflix dengan 98,2 juta penonton. Angka tersebut memperlihatkan bahwa banyak orang menikmati dan menantikan kelanjutan cerita-cerita semacam ini.

Salah satu penjelasan mengapa genre ini kembali kuat adalah kedekatannya dengan situasi dunia yang dinilai semakin tak menentu. Di tengah kekelaman global, disinformasi, dan menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah serta otoritas, fiksi mata-mata dianggap merefleksikan realitas yang sulit diprediksi.

Di Inggris, survei Pusat Nasional untuk Riset Sosial pada 2024 menunjukkan 45% responden mengatakan mereka “hampir tidak pernah” percaya pada pemerintah dari partai mana pun. Di Amerika Serikat, jajak pendapat Gallup pada 2023 mencatat hanya 8% publik memiliki kepercayaan besar pada Kongres. Setahun kemudian, studi Pew Research Center menunjukkan 22% orang dewasa di AS mengaku percaya pemerintah akan bekerja dengan baik.

Joseph Oldham, pengajar komunikasi dan media massa di British University di Mesir, menilai lonjakan minat terhadap thriller mata-mata pernah terjadi pada periode sejarah tertentu, misalnya era Perang Dunia. Menurutnya, momen-momen itu memiliki kemiripan, termasuk ketika ketegangan geopolitik antarkekuatan besar terasa berada di luar kendali. Ia juga menyinggung konteks yang lebih luas, dari perang yang terjadi di depan mata hingga ancaman kiamat, serta kekhawatiran akan perang proksi dan spionase.

Tingkat kecurigaan publik terhadap lingkungan sekitar pun disebut meningkat. Studi dari Oxford University menunjukkan 27% responden meyakini ada konspirasi di sekitar mereka. Sejumlah serial populer belakangan ini juga mengusung tema konspirasi, termasuk The Night Agent yang berfokus pada ketidakpercayaan di dalam Gedung Putih.

The Night Agent, adaptasi dari novel karya Matthew Quirk, mengikuti agen FBI Peter Sutherland (Gabriel Basso) yang berupaya menguak identitas pejabat Gedung Putih yang diduga menjadi otak teror bom kereta bawah tanah. Pada musim kedua, Sutherland digambarkan diburu setelah informasi dari sebuah misi bocor, dan kebocoran itu diduga berasal dari kalangan CIA. Serial Prime Target juga memakai formula serupa, berkisah tentang Edward Brooks yang merasa dihantui sosok tak dikenal setelah nyaris menemukan pola angka prima yang menjadi kunci bagi seluruh komputer di dunia.

Dari sisi psikologi, penonton dapat tertarik karena genre ini sering menawarkan kepastian di akhir episode: misteri terpecahkan dan pelaku terungkap. Justin Spray, pembuat film dan anggota British Psychological Society, mengatakan drama mata-mata menarik karena menghadirkan adrenalin, ruang untuk “kabur” sejenak, serta kesenangan mengikuti petualangan tokoh utama. Namun, ia menekankan elemen pentingnya adalah pemenuhan dorongan untuk mengurai ambiguitas dan ketidakpastian. Menurutnya, ketika penonton merasa berhasil memahami teka-teki, sistem penghargaan di otak menjadi aktif. Spray juga menilai drama semacam ini memfasilitasi rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang tidak diketahui atau terlarang, sekaligus memberi cara yang aman untuk memikirkan isu nasional dan global di dunia yang semakin kompleks dan terbelah.

Di sisi lain, genre thriller mata-mata juga mengalami pergeseran bentuk. Jika pada awal 2000-an banyak disajikan secara sangat serius, sejumlah serial terbaru justru menampilkan sisi konyol spionase, termasuk melalui humor gelap dan karakter yang merendahkan diri sendiri. Contohnya terlihat pada Mr & Mrs Smith dan Black Doves, yang menawarkan gaya berbeda dibandingkan pakem lama.

Formula ini dinilai menarik bagi penonton muda, termasuk karena karakter-karakternya sering memiliki moral yang ambigu. Tokoh seperti Villanelle di Killing Eve, The Jackal di The Day of The Jackal, dan Sam Young di Black Doves digambarkan sebagai pembunuh bayaran, namun tetap memiliki sisi atau latar yang membuat sebagian penonton berpihak pada mereka. Batas antara pahlawan dan penjahat pun menjadi kabur.

Spray juga melihat perubahan pada tipe “penjahat” yang dihadirkan, yang menurutnya mencerminkan kekhawatiran masa kini. Jika dahulu ketakutan publik lebih sering diarahkan pada tindakan negara-negara adidaya, kini cerita-cerita tersebut menyinggung isu seperti krisis iklim dan perdagangan orang, serta berakar pada ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

Oldham menambahkan, pihak yang “mempekerjakan” mata-mata dalam cerita-cerita terbaru juga berbeda. Menurutnya, fiksi mata-mata sebelumnya kerap berpusat pada agen yang bekerja untuk negara atau pemerintah, seperti James Bond atau George Smiley, atau tentang konspirasi yang diburu dan diadili pemerintah. Namun dalam tayangan seperti Black Doves, tokoh utama bekerja untuk perusahaan intelijen swasta dan sering kali tidak tahu mereka bekerja untuk siapa. Ia menilai karakter semacam itu terpisah dari institusi negara, dan menggambarkan kehidupan saat pemerintah dianggap semakin tidak efektif menghadapi kekhawatiran para kapitalis.

Dalam Black Doves, “privatisasi” dunia mata-mata menjadi salah satu aspek penting. Serial karya Joe Barton ini berfokus pada duo mata-mata Sam Young dan Helen Webb yang berusaha menguak pembunuh kekasih Helen, sambil menghadapi pasukan tak dikenal. Di tengahnya, mereka menyadari bisa mati, termasuk di tangan pihak yang menyewa jasa mereka. Pola perusahaan swasta misterius yang mengendalikan kekacauan juga muncul dalam Killing Eve, ketika 12 orang tak dikenal menyewa penyelidik intelijen Inggris untuk memburu Villanelle.

Dalam Mr & Mrs Smith, tugas-tugas diberikan oleh sistem komputer misterius bernama HiHi, yang oleh sebagian penggemar diduga merupakan mesin AI. Spekulasi itu disebut berpotensi menjadi bahan eksplorasi pada kelanjutan serial, yang telah mendapat lampu hijau untuk musim kedua.

Dengan banyaknya tayangan dan novel bertema operasi rahasia, kisah mata-mata tampaknya masih akan terus hadir di televisi. Meski menawarkan solusi dalam bingkai fantasi, Oldham menilai serial semacam ini dapat memberi kenyamanan bagi penonton. Ia mengutip sejarawan kultural Michael Denning yang mengatakan bahwa “agen rahasia mengembalikan agen kemanusiaan ke dunia yang semakin kehilangan sentuhan kemanusiaan.”