BERITA TERKINI
Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik Raih Medali Perak Sains Genos 2026, Tetap Aktif Bermain dan Hafal Al-Qur’an

Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik Raih Medali Perak Sains Genos 2026, Tetap Aktif Bermain dan Hafal Al-Qur’an

SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) kembali mencatat kabar prestasi dari salah satu siswanya. Alfathar Gauzan Hadi, siswa kelas III, meraih medali perak mata pelajaran sains dalam ajang Genius National Olympiad Student (Genos) 2026 tingkat nasional yang diselenggarakan PT Kuantum Ilmu Nusantara.

Babak final kompetisi tersebut digelar di Kampus Pascasarjana Universitas Airlangga pada 16 Mei 2026. Prestasi ini menambah deretan capaian Gauzan yang dikenal memiliki semangat belajar tinggi, khususnya di bidang sains, sekaligus memiliki hafalan Al-Qur’an.

Di tengah berbagai penghargaan yang diraih, Gauzan disebut tetap menjalani keseharian layaknya anak seusianya. Ia gemar bermain sepak bola dan berenang. Bahkan, hampir setiap hari ia bermain sepak bola setelah salat Magrib hingga Isya.

Ketertarikan Gauzan terhadap pelajaran muncul sejak kelas I SD, ketika ia mulai menyukai Matematika dan Sains. Memasuki kelas II, ia semakin fokus pada sains seiring rasa ingin tahunya yang kian besar terhadap ilmu pengetahuan.

Proses belajar Gauzan banyak dimulai dari rumah bersama ibunya, Putri Arie Retnani. Ia mendampingi anaknya belajar setiap hari dengan metode sederhana: materi disampaikan lewat gaya bercerita agar mudah dipahami, kemudian dilanjutkan dengan mengulas kembali materi dan mengerjakan latihan soal bersama.

Metode tersebut membuat Gauzan semakin menikmati proses belajar. Ia menyebut belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Sementara itu, ibunya menegaskan tidak pernah memaksa Gauzan belajar dan menilai kebiasaan itu tumbuh dari kesadaran anaknya sendiri, termasuk dalam mengatur ritme belajar.

Dalam keseharian, Gauzan belajar sedikit demi sedikit namun rutin setiap hari. Fokus utamanya pada materi sains, sedangkan untuk pelajaran sekolah dan Sumatif Harian ia belajar bersama ibunya sesuai kebutuhan. Seiring berkembangnya kemampuan, orang tuanya juga memasukkan Gauzan ke les olimpiade di Surabaya yang diikuti setiap Sabtu bersama teman-temannya, dengan pendampingan orang tua tetap menjadi bagian utama.

Semangat berkompetisi telah dimiliki Gauzan sejak taman kanak-kanak. Namun, ia mulai aktif mengikuti olimpiade secara lebih intensif ketika duduk di kelas II dan III SD. Hampir setiap bulan, ia mengikuti berbagai lomba olimpiade dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional.

Selama kelas III, Gauzan tercatat meraih 16 penghargaan olimpiade. Di antaranya Juara 1 Olimpiade Sains pada Grand Final Olimpiade se-Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Jombang; medali emas mata pelajaran sains dalam Kompetisi Pelajar Juara Indonesia tingkat nasional; medali perak sains pada Genos 2026; serta medali perunggu bidang sains dan agama Islam dalam Kompetisi Sains dan Pendidikan Islam (KOSPI) 2026 tingkat nasional.

Menurut ibunya, capaian tersebut tidak hanya ditopang semangat belajar, tetapi juga doa dan dukungan dari banyak pihak, termasuk orang tua serta ustaz dan ustazah di Mugeb Primary School.

Selain prestasi sains, Gauzan juga memiliki hafalan Al-Qur’an. Saat ini ia telah menghafal Juz 30, 29, 28, dan 27, serta memiliki target menghafal 30 juz.

Di tengah aktivitas belajar dan perlombaan, orang tua Gauzan menerapkan upaya keseimbangan, termasuk dalam penggunaan gawai. Gauzan tidak diperbolehkan menggunakan gadget setiap hari dan hanya diberi waktu sekitar 20 menit pada akhir pekan untuk menonton film anak.

Gauzan menyebut tokoh yang menginspirasinya adalah B.J. Habibie dan ibunya sendiri. Ia mengaku kagum kepada sang ibu yang dinilainya serba bisa, dan hal itu membuatnya semakin bersemangat belajar. Kecintaannya pada B.J. Habibie juga mendorong cita-citanya menjadi ilmuwan dan ingin membuat pesawat. Ia juga memiliki keinginan lain seperti menjadi profesor dan direktur, serta bercita-cita melanjutkan pendidikan ke luar negeri, khususnya di Eropa, dengan dukungan orang tua tanpa tekanan.

Di akhir, ibunya berpesan agar orang tua mendampingi anak dalam proses belajar maupun bermain, serta tidak hanya mengandalkan les. Ia juga menekankan pentingnya doa dan ridho orang tua.

Dengan rutinitas belajar yang terjaga, dukungan keluarga, dan keseimbangan antara belajar serta bermain, Gauzan menjadi contoh bahwa prestasi dapat diraih sejak dini tanpa harus kehilangan kebahagiaan masa kecil.