Min Yoongi, yang dikenal sebagai SUGA dari BTS, resmi tercatat sebagai salah satu penulis buku panduan klinis terapi berbasis musik bertajuk MIND Program. Keterlibatannya menyoroti peran musik bukan hanya sebagai karya kreatif, tetapi juga sebagai pendekatan pendukung kesehatan mental, khususnya bagi anak dan remaja dengan autisme.
Buku tersebut disusun sebagai panduan untuk membantu pengembangan keterampilan sosial melalui aktivitas musik. Program ini dikembangkan bersama profesor psikiatri anak Cheon Geun Ah, yang juga menjabat sebagai direktur pusat terapi yang didanai oleh SUGA.
Terapi kelompok berbasis musik
MIND merupakan singkatan dari Music, Interaction, Network, Diversity. Program ini dirancang sebagai metode terapi kelompok yang menekankan pengalaman langsung melalui musik, berbeda dari pendekatan konvensional yang kerap bertumpu pada kemampuan verbal dan kognitif.
Dalam pelaksanaannya, peserta diajak berinteraksi lewat kegiatan seperti memilih alat musik, bermain bersama dalam kelompok, hingga tampil dalam sesi kolaboratif. Melalui rangkaian aktivitas itu, peserta dilatih untuk mendengarkan, menunggu giliran, serta memahami ekspresi nonverbal orang lain.
Program MIND disusun dalam 12 sesi bertahap, dimulai dari interaksi dasar hingga kemampuan yang lebih kompleks seperti komunikasi emosional dan kerja sama. Pendekatan ini disebut lebih inklusif, terutama bagi anak-anak dengan kemampuan komunikasi verbal yang terbatas.
Dalam kata pengantar buku, Profesor Cheon menyampaikan bahwa keterlibatan SUGA memiliki peran penting dalam mewujudkan program tersebut. Ia menilai SUGA memahami kekuatan musik sebagai media penyembuhan sekaligus menunjukkan komitmen terhadap kelompok rentan.
Keterlibatan sejak perencanaan hingga implementasi
Kontribusi SUGA disebut tidak berhenti pada pencantuman nama. Ia dilaporkan terlibat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan awal program. Kolaborasi SUGA dan Profesor Cheon bermula pada 2024, ketika keduanya memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya terapi jangka panjang bagi anak dengan autism spectrum disorder (ASD). Dari diskusi tersebut, muncul gagasan untuk menyusun program terapi musik yang lebih aplikatif.
Selama proses pengembangan, SUGA juga terlibat sebagai relawan. Ia turut mengajar sesi musik, termasuk bermain gitar bersama anak-anak peserta program. Pengalaman lapangan itu kemudian menjadi salah satu dasar penyusunan metode yang dinilai lebih relevan dan efektif.
Profesor Cheon menyatakan kontribusi SUGA krusial, baik dari sisi gagasan maupun implementasi. Ia menegaskan program tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran SUGA dalam proses pembuatannya.
Dukungan pendanaan dan pusat terapi
Selain kontribusi waktu dan gagasan, SUGA juga memberikan dukungan finansial untuk proyek ini. Pada Juni 2025, ia menyumbangkan sekitar 5 miliar won Korea untuk mendirikan pusat terapi khusus di Severance Children's Hospital.
Pusat tersebut, yang dikenal sebagai Min Yoongi Treatment Center, dibuka pada September di tahun yang sama. Fasilitas ini menjadi lokasi utama pelaksanaan program MIND sekaligus pusat penelitian terapi berbasis seni di lingkungan rumah sakit universitas.
Program ini juga disebut sebagai salah satu model terapi pertama di dunia yang mengintegrasikan seni, khususnya musik, ke dalam sistem klinis formal untuk mendukung kemandirian pasien.
Hasil awal dan harapan pengembangan
Hasil awal uji coba program menunjukkan dampak positif. Evaluasi terhadap peserta mencatat peningkatan kemampuan adaptasi sosial, pemahaman isyarat nonverbal, serta motivasi untuk berinteraksi dengan orang lain. Sejumlah peserta yang sebelumnya kesulitan mengekspresikan emosi secara verbal juga dilaporkan menunjukkan perkembangan melalui interaksi berbasis musik.
Profesor Cheon berharap buku panduan ini dapat dimanfaatkan oleh tenaga medis dan profesional di berbagai negara. Meski belum ada rencana penerbitan versi bahasa Inggris, ia menyatakan optimistis program tersebut akan mendapat perhatian global.
Melalui MIND Program, SUGA menegaskan peran musik tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk membantu proses pemulihan dan membangun koneksi antarmanusia.

