BERITA TERKINI
Suluk, Jalan Sunyi Jamaah Aceh Menata Batin dan Mencari Pulih Pasca Bencana

Suluk, Jalan Sunyi Jamaah Aceh Menata Batin dan Mencari Pulih Pasca Bencana

Di sebuah ruangan sederhana, sekitar 60 jamaah duduk bersila dalam keheningan. Mayoritas adalah lansia yang datang dari berbagai daerah di Aceh. Tubuh mereka terbalut kain, sarung, bahkan mukena hingga menutup wajah, seolah menciptakan sekat dari dunia luar. Yang terdengar hanya helaan napas dan bisikan zikir yang dilafalkan tanpa bunyi. Kepala-kepala bergerak perlahan dalam ritme yang sama, menandai mereka tengah memasuki tawajjuh, salah satu fase penting dalam suluk.

Suluk merupakan ritual batiniah dalam tradisi Tarekat Naqsyabandiyah yang telah lama hidup dan berkembang di Aceh. Bagi masyarakat yang dikenal sebagai Serambi Makkah, suluk dipahami bukan sekadar rangkaian ibadah, melainkan jalan sunyi untuk menepi dari riuh kehidupan, membersihkan hati, dan menata ulang batin yang letih. Tradisi ini disebut telah dikenal sejak abad ke-13 Masehi dan berkembang luas di Aceh melalui dakwah para ulama, salah satunya Syekh Muda Waly Al-Khalidi.

Di Dayah Darul Aman, suluk rutin digelar setiap Ramadan, terutama sejak Aceh berkali-kali diuji bencana. Wakil pimpinan dayah, Saifullah, mengatakan bahwa pasca tsunami, suluk semakin dirasakan maknanya oleh masyarakat. Banyak jamaah datang membawa beban kehilangan dan kecemasan yang tidak mudah diurai.

“Sejak pasca tsunami, suluk terus kita laksanakan. Banyak jamaah yang merasakan ketenangan setelah mengikuti rangkaian ibadah ini,” ujar Saifullah.

Selama suluk berlangsung, para peserta menjalani disiplin spiritual yang ketat. Sejak pukul 03.00 dini hari, mereka telah terjaga. Zikir, tasbih, dan wirid mengalir hampir tanpa putus, hanya terhenti sejenak untuk salat lima waktu, berbuka puasa, dan sahur. Sebelum memulai suluk, setiap jamaah diwajibkan mandi taubat, melaksanakan salat taubat, dan menyatakan komitmen untuk mengikuti bimbingan mursyid.

Pihak pesantren juga menentukan makanan yang dikonsumsi jamaah, tanpa bahan dari hewan berdarah, dengan tujuan menjaga ketertiban dan kepastian konsumsi selama ibadah berlangsung.

“Konsumsi peserta sudah ditentukan pesantren agar mudah dikontrol dan terjaga kepastiannya,” jelas Saifullah.

Di antara jamaah, Syahren (76), warga Trienggadeng, termasuk yang rutin mengikuti suluk. Selama 11 tahun terakhir ia datang setiap Ramadan. Baginya, suluk menjadi ruang istirahat dari hiruk-pikuk dunia karena kebutuhan dasar sudah disiapkan, sehingga ia bisa lebih fokus beribadah.

“Suluk di sini lebih mudah. Makanan sudah disediakan, jadi kita bisa fokus beribadah,” katanya.

Ia menilai Ramadan sebagai momen untuk kembali merapatkan diri kepada Allah setelah setahun disibukkan urusan dunia.

“Setelah setahun huru-hara dengan hal dunia, saat Ramadan sudah sepatutnya saya mendekatkan diri kepada Allah secara khusyuk,” ujarnya pelan.

Hal serupa disampaikan Aminah (67), jamaah asal Sabang, yang tahun ini mengikuti suluk untuk kelima kalinya. Ia diantar anaknya ke dayah dan memilih menetap selama rangkaian ibadah berlangsung.

“Rasa fokus ibadah seperti ini sulit dicari sehari-hari. Jadi di sinilah saya sekarang,” tuturnya.

Tahun ini jumlah jamaah menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai 80 hingga 100 orang. Sebagian jamaah rutin dari luar daerah tidak hadir dan diduga terdampak bencana. Namun pada saat yang sama, ada pula korban bencana yang justru memilih datang untuk bersuluk, membawa kegelisahan yang ingin mereka jinakkan.

Saifullah menilai suluk kerap menjadi ruang pemulihan batin bagi mereka yang terdampak musibah. Ia menyebut praktik ini dapat menjadi rutinitas pemulihan trauma agar jamaah lebih ikhlas dan berserah diri.

“Ini bisa menjadi rutinitas trauma healing bagi korban bencana. Supaya lebih ikhlas dan berserah diri kepada Allah,” pungkasnya.

Di ruangan yang sunyi itu, tak terdengar isak tangis. Namun di balik wajah-wajah yang tertutup kain, doa-doa panjang dipanjatkan. Kenangan pahit perlahan dilepas, kehilangan coba diikhlaskan. Dalam diam dan zikir yang tak bersuara, para jamaah menemukan cara mereka sendiri untuk pulih—menjadikan suluk lebih dari tradisi tarekat, sebagai jalan sunyi bagi jiwa-jiwa yang berusaha berdamai dengan takdir.