Suasana hening dan khusyuk menyelimuti ruang suluk di Kompleks Dayah Darul Aman, Gampong Lampuuk, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Para jamaah duduk bersila dengan kepala tertunduk, sebagian menutup wajah dengan kain, menjalani rangkaian zikir Ismu Zat yang dilakukan dari dalam hati.
Dalam pelaksanaannya, zikir dilantunkan sedikitnya 10.000 kali setiap selesai salat fardu. Dalam sehari semalam, jumlah zikir yang dibaca jamaah bisa mencapai 50.000 kali.
Pada Ramadhan 1447 Hijriah, jumlah peserta suluk di Dayah Darul Aman menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya diikuti sekitar 80 hingga 100 orang, tahun ini tercatat 68 jamaah, terdiri dari empat laki-laki dan 64 perempuan. Mayoritas peserta merupakan perempuan lanjut usia.
Penurunan jumlah jamaah disebut berkaitan dengan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh menjelang Ramadhan. Sejumlah calon peserta atau keluarga mereka masih berfokus pada pemulihan kondisi pascabencana. Namun, bagi sebagian jamaah yang hadir, suluk tahun ini menjadi ruang pemulihan batin di tengah kekhawatiran dan kesedihan setelah banjir.
Dayah Darul Aman telah rutin menggelar suluk sejak 2002. Praktik dalam Tarekat Naqsyabandiyah ini dimaknai sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah serta membersihkan jiwa dari keburukan dan dosa. Suluk dilaksanakan tiga kali setahun selama 10 hari pada bulan Maulid, Rabiul Awal, dan Zulhijjah, serta 30 hari penuh selama Ramadhan. Pada saat laporan ini dibuat, pelaksanaan suluk memasuki hari kedua, dengan peserta datang dari berbagai daerah di Aceh.
Pimpinan Yayasan Dayah Darul Aman, Teungku Saifullah, menyatakan kegiatan tetap berjalan seperti biasa meski jumlah jamaah berkurang. “Meski berkurang, suluk tetap berjalan sebagaimana biasa,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (20/2/2025).
Amalan utama dalam suluk ini adalah zikir Ismu Zat atau zikir fi al-qalbi yang dibimbing oleh mursyid Abon Teungku Tajuddin dari Dayah Abu Lueng Ie. Tawajuh, yakni zikir dengan menutup wajah, dilakukan lima kali sehari setelah salat fardu.
Saifullah menjelaskan, menutup wajah dilakukan agar jamaah lebih khusyuk dan fokus dalam mengingat Allah tanpa terganggu oleh pandangan dari luar. “Aktivitas berzikir dengan menutup wajah ini disebut tawajjuh atau zikir Ismu Zat fi qalbi. Ini puncak pendekatan diri kepada Allah dalam suluk. Menutup wajah agar jamaah benar-benar khusyuk, fokus mengingat Allah tanpa terganggu pandangan dari luar,” katanya.
Selama suluk, kebutuhan jamaah ditanggung oleh dayah. Peserta cukup membayar infak dan membawa beras. Namun, terdapat aturan ketat terkait makanan. Jamaah dilarang mengonsumsi makanan berdarah dan berlemak seperti daging, ikan, dan telur. Aturan ini dimaksudkan agar jamaah tidak mudah mengantuk akibat makanan berat dan dapat lebih fokus beribadah. Menu yang disediakan lebih banyak berbasis nabati, salah satunya sambal daun pegagan (oen peugaga) yang disebut menjadi favorit.
Menurut Saifullah, pegagan juga dipercaya membantu menjaga stamina dan daya tahan tubuh. “Kita ingin jamaah tetap sehat, tapi tidak bergantung pada makanan berat. Sederhana, tetapi cukup. Tidak berlebihan, namun menguatkan,” ujarnya.
Bagi Khadijah (61), warga Pidie Jaya, suluk menjadi ruang menenangkan yang ia jalani rutin selama tiga tahun terakhir, masing-masing selama 30 hari penuh di Ramadhan. Menjelang Ramadhan, rumahnya sempat kemasukan air dan lumpur saat banjir. Ia mengaku sempat cemas setiap kali hujan turun. Kehilangan suami yang wafat hampir empat tahun lalu karena stroke juga membuatnya semakin menjadikan suluk sebagai rutinitas spiritual.
“Perasaan lebih enak, lebih senang. Pikiran jadi tenang, tidak terlalu teringat lagi kejadian itu,” kata Khadijah. Ia memandang suluk sebagai cara mengambil jarak dari beban dunia, serupa upaya membersihkan diri seperti ketika orang berangkat umrah atau haji. Ia berharap doa-doa selama 30 hari membuat pikirannya sehat dan tubuhnya kuat.
Pengalaman serupa disampaikan Adriyah (73), warga Meureudu, Pidie Jaya, yang mengikuti suluk sejak pascatsunami Aceh. Ia tetap rutin datang setiap Ramadhan. “Saya sudah tua, semakin dekat dengan kematian. Saya harus bersiap menghadap Allah dengan memperbanyak ibadah. Di sini ada kawan, bisa fokus,” ujarnya.
Adriyah juga menyebut rumahnya terdampak banjir. Ia tinggal sendiri setelah suaminya meninggal, sementara anaknya bekerja jauh. “Meski rumah masih berlumpur, saya pilih suluk. Di sini lebih tenang, ada teman,” katanya.
Di lingkungan dayah, suasana tetap hangat namun senyap. Sejumlah jamaah perempuan tampak memotong daun pegagan untuk penganan berbuka, bergerak pelan dan teratur tanpa percakapan keras. Dalam kondisi jumlah peserta yang menurun, suluk Ramadhan di Dayah Darul Aman tetap menjadi tempat jeda bagi sebagian jamaah, terutama mereka yang tengah berupaya memulihkan diri setelah banjir.

