BERITA TERKINI
Teater Sandur Sedhet Srepet Pentaskan “Lurung Kala Bendu”, Potret Utang dan Rapuhnya Relasi Warga Lurung

Teater Sandur Sedhet Srepet Pentaskan “Lurung Kala Bendu”, Potret Utang dan Rapuhnya Relasi Warga Lurung

Teater Sandur Sedhet Srepet kembali menghadirkan kisah tentang denyut kehidupan masyarakat akar rumput lewat pertunjukan drama berjudul Lurung Kala Bendu. Pementasan ini digelar di Aula Lemcadika Kalianyar, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, dan disajikan dalam bentuk blabar—gaya khas Sandur Bojonegoro yang cair, lugu, namun sarat makna. Lakon tersebut disutradarai Oky Dwi Cahyo dengan pijakan tradisi yang kuat dan kepekaan sosial yang menonjol.

Berangkat dari latar sebuah lurung atau gang sempit yang menjadi ruang pertemuan warga, cerita mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat kecil: utang, tekanan ekonomi, gaya hidup, hingga rapuhnya relasi keluarga. Alur bergerak perlahan, tetapi tajam dalam menyorot keseharian yang akrab bagi penonton.

Salah satu pusat konflik hadir melalui tokoh Bu Sugi, sosok yang disegani sekaligus ditakuti warga. Dengan dalih utang sebesar 3,5 juta rupiah yang disebut-sebut untuk biaya sekolah anak, Bu Sugi terus menekan Santoso agar menjual tanah keluarga. Tekanan itu disampaikan melalui rayuan halus yang bercampur ancaman, bukan hanya kepada Santoso, tetapi juga kepada warga lain seperti Wakidin, tukang becak yang terancam kehilangan alat kerjanya jika tak mampu melunasi utang.

Di tengah situasi tersebut, Mbah Sumi muncul sebagai tokoh tua yang menjadi suara kebijaksanaan dan nurani kampung. Melalui dialog dengan Sukidi, tukang becak, dan warga lain, Mbah Sumi perlahan mengurai akar persoalan yang menjerat Santoso: gaya hidup Darsi yang melampaui kemampuan ekonomi keluarga. Tuntutan pakaian, sepatu, tas, dan keinginan hidup serba layak menjadi beban yang tak sebanding dengan penghasilan Santoso sebagai buruh.

Ketegangan memuncak ketika Darsi pergi selama tiga hari akibat desakan agar tanah dijual. Pada akhirnya, Santoso mengambil keputusan pahit dengan mengusir istrinya sendiri. Sementara itu, tekanan Bu Sugi tidak berhenti. Ketika Bu Sugi merayu Mbah Sumi agar tanah Santoso dijual kepadanya, Mbah Sumi menolak tegas dan menilai sepetak tanah itu lebih baik dirawat daripada dilepas. Namun, bayang-bayang utang dan tanggung jawab moral membuat posisi Mbah Sumi kian terjepit.

Lapisan cerita lainnya hadir melalui Slamet, pemilik toko burung yang juga berutang kepada Bu Sugi. Saat Slamet akhirnya melunasi utangnya, kelegaan justru berubah menjadi kekhawatiran Mbah Sumi, yang mencemaskan kemungkinan Slamet akan mengalami nasib serupa Santoso dan Darsi. Di sisi lain, tokoh Kampret—pemuda yang bercita-cita menjadi penulis—ditampilkan sebagai simbol harapan, menggambarkan generasi muda yang masih menyimpan mimpi di tengah kerasnya realitas kampung.

Melalui dialog sederhana, humor khas Sandur, dan konflik yang membumi, Lurung Kala Bendu diposisikan bukan sekadar tontonan, melainkan cermin sosial. Pertunjukan ini mengajak penonton merenungkan utang yang tidak hanya bersifat materi, tetapi juga utang moral, tanggung jawab, serta kesetiaan dalam keluarga dan masyarakat.

Bagi penikmat seni yang belum sempat menyaksikan pementasan pada Sabtu malam, 27 Desember 2025, pertunjukan Lurung Kala Bendu disebut akan kembali dihadirkan pada kesempatan lain oleh Teater Sandur Sedhet Srepet.